Advertisement
Kopi TIMES

Ribuan Riset, Mengapa Bangsa Tak Banyak Berubah?

Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak penelitian yang hanya memenuhi rak perpustakaan. Bangsa ini membutuhkan penelitian yang turun ke lapangan, menyentuh persoalan nyata, dan menjadi energi perubahan sosial. 

TIMES Indonesia,
Muhammad Ilzamul Khoir (KT-11)
Muhammad Ilzamul Khoir (KT-11) - Kopi Times
Ribuan Riset, Mengapa Bangsa Tak Banyak Berubah?
Muhammad Ilzamul Khoir, S.Pd., Mahasiswa Pasca Sarjana, Universitas Nurul Jadid, paiton probolinggo.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

PROBOLINGGO Setiap tahun, kampus-kampus di Indonesia melahirkan ribuan skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah. Ribuan mahasiswa menghabiskan malam demi malam untuk mengejar data, menyusun teori, dan mempertahankan argumen di ruang sidang.

Para dosen berlomba memenuhi target publikasi, mengejar indeksasi, dan meningkatkan reputasi akademik institusi. Jika logika sederhana digunakan, seharusnya bangsa ini menjadi semakin kuat karena produksi pengetahuan terus meningkat.

Advertisement

Namun kenyataan justru menghadirkan pertanyaan yang mengganggu: jika penelitian terus bertambah, mengapa banyak persoalan bangsa tetap berjalan di tempat?

Persoalan literasi masih menjadi pekerjaan rumah. Kemampuan berpikir kritis peserta didik masih menghadapi tantangan. Disinformasi digital semakin mudah menyebar. Kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah masih terasa. Lalu, di mana posisi ribuan penelitian yang setiap tahun dihasilkan perguruan tinggi? Apakah ilmu pengetahuan yang diproduksi kampus benar-benar hidup di tengah masyarakat, atau hanya menjadi arsip yang menunggu dilupakan?

Di sinilah letak persoalan yang sering tidak ingin dibicarakan: dunia akademik kita terlalu sibuk menghasilkan penelitian, tetapi belum cukup serius memastikan penelitian itu berguna.

Banyak karya ilmiah berhenti tepat setelah sidang selesai. Skripsi yang dikerjakan berbulan-bulan akhirnya hanya menjadi file PDF yang tersimpan di repositori kampus. Artikel yang diterbitkan di jurnal hanya berputar di antara sesama akademisi. Temuan penelitian yang sebenarnya bisa membantu guru, masyarakat, pemerintah daerah, atau pelaku industri justru terkunci dalam bahasa akademik yang sulit dijangkau publik.

Kondisi ini menunjukkan adanya jarak yang semakin lebar antara kampus dan realitas sosial. Perguruan tinggi seolah menjadi pabrik pengetahuan yang sibuk memproduksi, tetapi lupa membangun jalur distribusi. Ilmu berhenti di ruang seminar, padahal masalah masyarakat tidak berhenti di ruang seminar.

Advertisement

Ironisnya, sistem akademik sering kali ikut memperkuat masalah tersebut. Penelitian lebih sering dihargai karena jumlah publikasi, bukan karena dampak sosialnya. Seorang peneliti dianggap produktif ketika mampu menghasilkan banyak artikel, tetapi jarang ditanya: berapa banyak kehidupan yang berubah karena penelitiannya?

Mahasiswa meneliti demi mendapatkan gelar. Dosen meneliti demi memenuhi kewajiban tridarma dan angka kredit. Kampus mengejar publikasi demi akreditasi. Semua itu memang bukan hal yang salah. Namun ketika penelitian hanya menjadi alat memenuhi administrasi akademik, ilmu pengetahuan perlahan kehilangan ruhnya.

Penelitian akhirnya berubah menjadi ritual: membuat proposal, mengumpulkan data, menyusun bab, sidang, selesai. Padahal penelitian seharusnya bukan garis akhir untuk mendapatkan tanda tangan, melainkan titik awal untuk melahirkan perubahan.

Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Indonesia memiliki ribuan akademisi, peneliti, dan mahasiswa yang setiap tahun menghasilkan gagasan baru. Masalahnya bukan pada kapasitas berpikir, tetapi pada keberanian untuk membawa hasil pemikiran itu keluar dari menara akademik.

Kita memiliki penelitian tentang peningkatan literasi, tetapi masih banyak sekolah yang kesulitan membangun budaya membaca. Kita memiliki penelitian tentang transformasi digital pendidikan, tetapi banyak guru masih berjuang memahami teknologi pembelajaran. Kita memiliki penelitian tentang berbagai persoalan sosial, tetapi kebijakan publik sering kali tetap berjalan tanpa cukup menggunakan dasar ilmiah.

Pertanyaannya kemudian sederhana namun menyakitkan: untuk siapa sebenarnya penelitian itu dibuat?

Jika jawabannya hanya untuk memenuhi kebutuhan kampus, maka kita sedang membangun perpustakaan besar berisi pengetahuan yang tidak pernah digunakan. Kita memiliki banyak dokumen, tetapi sedikit perubahan. Kita memiliki banyak teori, tetapi minim transformasi.

Budaya akademik perlu mengalami perubahan besar. Ukuran keberhasilan penelitian tidak boleh berhenti pada berapa banyak halaman yang ditulis, berapa tinggi sitasi yang diperoleh, atau di jurnal mana artikel diterbitkan. Semua itu penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.

Penelitian yang bernilai adalah penelitian yang menemukan jalan menuju masyarakat. Hasil riset tentang pendidikan harus bisa diterjemahkan menjadi strategi bagi guru. Riset tentang teknologi harus bisa menjadi panduan bagi pengguna. Riset sosial harus mampu menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Ilmu harus bergerak, bukan hanya disimpan.

Perguruan tinggi harus berhenti memandang publikasi sebagai tujuan akhir. Publikasi hanyalah salah satu pintu. Setelah pintu itu terbuka, penelitian harus berjalan menuju ruang kelas, desa, industri, komunitas, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan ribuan penelitian yang hanya indah dalam teori tetapi sunyi dalam praktik. Masyarakat membutuhkan ilmu yang hadir ketika mereka menghadapi masalah.

Kita tidak sedang kekurangan karya ilmiah. Kita sedang menghadapi krisis yang lebih dalam: terlalu banyak pengetahuan yang tidak menemukan jalan untuk memberi manfaat.

Dan mungkin sudah waktunya dunia akademik bertanya ulang kepada dirinya sendiri: apakah kita sedang menciptakan penelitian untuk memperbaiki kehidupan, atau hanya menciptakan dokumen untuk memenuhi kewajiban?

Karena karya ilmiah terbesar bukanlah yang paling tebal, bukan yang paling banyak dikutip, dan bukan yang paling sering dipuji di ruang akademik. Karya ilmiah terbesar adalah yang meninggalkan jejak perubahan ketika kembali kepada masyarakat yang menjadi sumber lahirnya pengetahuan itu sendiri.

Untuk memperkuat opini tersebut agar lebih tajam dan relevan, saya sarankan menambahkan subbahasan berikut:

krisis hilirisasi pengetahuan

Persoalan terbesar dunia akademik hari ini bukan lagi tentang bagaimana menghasilkan penelitian, tetapi bagaimana memastikan penelitian tersebut memiliki jalan untuk sampai kepada masyarakat. Indonesia sebenarnya tidak mengalami kekurangan produksi pengetahuan. Perguruan tinggi setiap tahun melahirkan ribuan gagasan, inovasi, dan temuan ilmiah. Namun sebagian besar pengetahuan tersebut berhenti pada tahap produksi, belum bergerak menuju tahap implementasi.

Inilah yang disebut sebagai krisis hilirisasi pengetahuan. Banyak penelitian berhasil menjawab persoalan secara teoritis, tetapi gagal menemukan ruang penerapan dalam kehidupan nyata. Akibatnya, kampus berjalan dengan dunianya sendiri, sementara masyarakat menghadapi persoalan yang seharusnya bisa dibantu melalui hasil penelitian yang telah tersedia.

Masalah ini semakin terlihat ketika penelitian hanya diposisikan sebagai kewajiban administratif. Sebuah karya ilmiah dianggap selesai ketika telah diuji, diterbitkan, atau mendapatkan pengakuan akademik. Padahal proses paling penting justru dimulai setelah penelitian selesai: bagaimana temuan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan, inovasi, atau perubahan perilaku.

Di banyak negara, hubungan antara universitas, pemerintah, industri, dan masyarakat telah menjadi bagian penting dari pembangunan berbasis pengetahuan. Kampus tidak hanya menjadi tempat menghasilkan teori, tetapi juga menjadi pusat pemecahan masalah. Sementara itu, di Indonesia, hubungan tersebut masih sering berjalan parsial. Banyak penelitian berkualitas tinggi tidak memiliki ekosistem yang memungkinkan untuk diterapkan.

Akibatnya, masyarakat sering kali mencari solusi dari berbagai sumber yang belum tentu berbasis ilmu pengetahuan, sementara hasil penelitian yang sudah dilakukan dengan biaya dan tenaga besar justru tersimpan dalam ruang akademik yang terbatas. Ironi terbesar terjadi ketika jawaban atas suatu persoalan sebenarnya pernah diteliti, tetapi tidak pernah sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Karena itu, perguruan tinggi perlu mengubah paradigma: penelitian bukan sekadar aktivitas menghasilkan pengetahuan, tetapi proses membangun peradaban. Setiap penelitian seharusnya memiliki pertanyaan lanjutan: siapa yang akan menggunakan hasil ini? Masalah apa yang dapat diselesaikan? Perubahan apa yang ingin diciptakan?

Tanpa keberanian melakukan hilirisasi, kampus berisiko menjadi lembaga yang kaya teori tetapi miskin pengaruh sosial. Sebab ilmu yang hanya tersimpan dalam jurnal pada akhirnya hanyalah pengetahuan yang belum selesai menjalankan tugasnya.

Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak penelitian yang hanya memenuhi rak perpustakaan. Bangsa ini membutuhkan penelitian yang turun ke lapangan, menyentuh persoalan nyata, dan menjadi energi perubahan sosial. Sebab ukuran tertinggi ilmu bukan hanya seberapa tinggi ia diproduksi, tetapi seberapa jauh ia mampu memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

 ***

*) Oleh : Muhammad Ilzamul Khoir, S.Pd., Mahasiswa Pasca Sarjana, Universitas Nurul Jadid, paiton probolinggo.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M
PenulisMuhammad Ilzamul Khoir (KT-11) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia