Teknologi Hadir, Siapkah Pembelajaran Kita?
Pemerataan infrastruktur digital dan pengadaan perangkat keras memang bisa diselesaikan melalui kebijakan dan kucuran anggaran. Namun, pembelajaran yang bermakna murni lahir dari sentuhan desain instruksional di tangan guru.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MADIUN – Teknologi semakin mudah dijumpai di ruang-ruang kelas Indonesia. Berbagai perangkat digital kini hadir sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas akses belajar. Kehadiran teknologi tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, di tengah optimisme transformasi digital pendidikan, ada satu pertanyaan penting yang perlu diajukan: siapkah pembelajaran kita memanfaatkan peluang yang dibawa oleh teknologi?
Sejarah pendidikan menunjukkan bahwa perubahan tidak pernah terjadi hanya karena hadirnya perangkat baru. Teknologi dapat dibeli, dipasang, dan didistribusikan dalam waktu singkat. Akan tetapi, mengubah cara guru mengajar dan cara peserta didik belajar membutuhkan proses yang jauh lebih kompleks. Karena itu, keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak dapat diukur dari banyaknya perangkat yang tersedia, melainkan dari sejauh mana teknologi mampu meningkatkan kualitas pengalaman belajar.
Sebagaimana yang saya ingat dalam perkuliahan yang disampaikan oleh Dr. Lamijan, dosen Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya “guru memiliki kemerdekaan untuk merancang pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didiknya”. Kemerdekaan tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab profesional.
Guru tidak cukup hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga harus mampu mendesain pembelajaran, memilih media yang tepat, mengimplementasikannya secara efektif, serta mengevaluasi ketercapaian kompetensi yang diharapkan.
Manfaat teknologi akan terasa nyata ketika digunakan untuk membantu peserta didik memahami konsep-konsep yang sulit dijelaskan melalui kata-kata atau sketsa spidol semata. Dalam pembelajaran sains dan fisika, misalnya, banyak fenomena yang sering kali dianggap rumit dan abstrak karena sulit diamati secara langsung. Melalui visualisasi interaktif, animasi, simulasi, dan video eksperimen, peserta didik dapat melihat representasi fenomena yang sebelumnya hanya bisa mereka raba dalam imajinasi.
Bayangkan suasana kelas di mana seorang guru tidak lagi sekadar menggambar kurva statis di papan tulis. Di depan kelas, dengan memanfaatkan layar sentuh interaktif berukuran besar, guru menampilkan simulasi digital seperti PhET Interactive Simulations untuk membedah materi gerak parabola (projectile motion). Para peserta didik dapat mengamati secara langsung bagaimana perubahan sudut elevasi, jarak, dan kecepatan awal mampu mengubah lintasan jatuhnya sebuah objek.
Mereka tidak hanya belajar menelan angka dan persamaan, tetapi memahami bagaimana konsep mekanika tersebut bekerja dalam dunia nyata. Pengalaman belajar seperti inilah yang berpotensi menumbuhkan rasa ingin tahu, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman konseptual lebih mendalam.
Pandangan tersebut sejalan dengan definisi teknologi pendidikan menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT). Teknologi pendidikan bukan sekadar penggunaan perangkat atau aplikasi digital, melainkan studi dan praktik etis untuk memfasilitasi pembelajaran serta meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber daya teknologi yang tepat. Dengan kata lain, fokus utama teknologi pendidikan bukanlah teknologinya, melainkan bagaimana teknologi membantu manusia belajar secara lebih efektif.
Karena itu, tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar menghadirkan teknologi ke sekolah, melainkan memastikan teknologi tersebut digunakan melalui desain pembelajaran yang tepat. Sayangnya, perhatian terhadap aspek desain pedagogis masih kurang dibanding selebrasi atas pengadaan perangkat keras. Padahal, perangkat canggih yang sama dapat menghasilkan dampak yang sangat berbeda ketika dioperasikan tanpa strategi pembelajaran yang matang.
Kehadiran perangkat digital sesungguhnya menciptakan lingkungan belajar baru disekolah yang membutuhkan pendekatan baru. Untuk mengoptimalkan potensi ini, akademisi dan praktisi harus turun tangan membekali guru dengan panduan, desain instruksional, dan inovasi praktis bukan sekadar teori guna mewujudkan pembelajaran yang bermakna.
Pada akhirnya, pemerataan infrastruktur digital dan pengadaan perangkat keras memang bisa diselesaikan melalui kebijakan dan kucuran anggaran. Namun, pembelajaran yang bermakna murni lahir dari sentuhan desain instruksional di tangan guru.
Sudah saatnya anggaran pendidikan tidak hanya dihabiskan untuk membeli perangkat pintar, tetapi juga dialokasikan secara masif untuk melatih guru mendesain pembelajaran digital. Hanya ketika teknologi mutakhir bertemu dengan guru yang cakap mendesain pembelajaranlah, ruang kelas benar-benar berubah tidak sekadar terlihat lebih modern, tetapi sungguh-sungguh menjadi ruang lahirnya generasi masa depan yang kritis dan adaptif.
***
*) Oleh : Intan Fatmawati, Guru.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


