Advertisement
Kopi TIMES

Mengajarkan Bahasa Inggris Tanpa Kehilangan Bahasa Ibu

Pohon yang tumbuh tinggi bukanlah pohon yang meninggalkan akarnya, melainkan pohon yang memiliki akar kuat untuk menopang pertumbuhannya. 

TIMES Indonesia,
Dessy Kusuma Vinahari
Dessy Kusuma Vinahari - Kopi Times
Mengajarkan Bahasa Inggris Tanpa Kehilangan Bahasa Ibu
Dessy Kusuma Vinahari, Pendidik Thursina IIBS Malang dengan minat Bahasa Inggris.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Di banyak rumah hari ini, ada pemandangan yang semakin sering dijumpai. Orang tua merasa bangga ketika anaknya mampu memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, menyebut nama warna, atau bercakap-cakap dengan kosakata asing yang belum tentu dipahami teman sebayanya. Tidak ada yang salah dengan kebanggaan itu.

Bahasa Inggris memang telah menjadi salah satu keterampilan penting di era global. Namun, di tengah semangat mengejar kemampuan berbahasa internasional, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah kita sedang mengajarkan bahasa baru, atau tanpa sadar mulai meninggalkan bahasa yang lebih dulu membentuk jati diri anak?

Advertisement

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah rumah pertama bagi pikiran. Melalui bahasa ibu, seorang anak belajar memahami kasih sayang, mengenali budaya, menyerap nilai-nilai kehidupan, dan membangun hubungan emosional dengan lingkungan sekitarnya.

Kata-kata sederhana yang diucapkan nenek, petuah orang tua, hingga cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi semuanya hidup melalui bahasa lokal. Ketika bahasa itu perlahan menghilang dari keseharian, yang hilang bukan hanya kosakata, tetapi juga sebagian dari identitas sebuah masyarakat.

Ironisnya, masih ada anggapan bahwa penggunaan bahasa Inggris yang dominan akan membuat anak lebih pintar atau lebih siap menghadapi masa depan. Akibatnya, sebagian keluarga mulai membatasi penggunaan bahasa daerah bahkan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa penguasaan bahasa pertama yang kuat justru membantu seseorang mempelajari bahasa kedua dengan lebih baik. Anak yang memiliki dasar bahasa ibu yang kokoh umumnya lebih mudah memahami konsep, membangun kosakata baru, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Pandangan ini juga didukung oleh ahli linguistik terkenal, , yang melalui teori Common Underlying Proficiency menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa saling mendukung satu sama lain. Ketika seseorang memiliki fondasi yang kuat dalam bahasa pertama, keterampilan tersebut dapat menjadi modal untuk mempelajari bahasa kedua secara lebih efektif. Dengan kata lain, memperkuat bahasa ibu bukanlah penghambat pembelajaran bahasa Inggris, melainkan salah satu jalannya.

Advertisement

Karena itu, perdebatan tentang memilih bahasa Inggris atau bahasa lokal sebenarnya tidak perlu terjadi. Keduanya bukan pesaing yang saling menyingkirkan. Bahasa Inggris membuka jendela dunia, sementara bahasa lokal menjaga akar yang membuat kita tetap mengenali siapa diri kita. Seseorang dapat membaca jurnal internasional dalam bahasa Inggris sekaligus menikmati cerita rakyat dalam bahasa daerahnya. Ia bisa berkomunikasi dengan masyarakat global tanpa kehilangan kedekatan dengan budaya tempat ia tumbuh.

Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang lebih seimbang. Di rumah, orang tua dapat tetap menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari sambil memperkenalkan bahasa Inggris secara bertahap melalui buku, lagu, atau permainan.

Di sekolah, pembelajaran bahasa Inggris dapat dikembangkan tanpa mengurangi penghargaan terhadap bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Anak perlu memahami bahwa menguasai banyak bahasa adalah kekayaan, bukan alasan untuk meninggalkan salah satunya.

Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah yang menjadi bagian dari warisan budaya dunia. Jika generasi muda tidak lagi mengenalnya, kita mungkin akan kehilangan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teknologi maupun kemajuan ekonomi.

Sebaliknya, jika kita mampu membesarkan anak-anak yang fasih berbahasa Inggris sekaligus bangga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya, kita sedang menyiapkan generasi yang mampu berdiri di panggung global tanpa tercerabut dari akarnya sendiri.

Tujuan belajar bahasa Inggris bukanlah menjadi orang lain. Tujuannya adalah memperluas kesempatan, memperkaya wawasan, dan membuka lebih banyak pintu menuju masa depan. Namun, semakin jauh seseorang melangkah ke dunia, semakin penting pula ia mengetahui dari mana asalnya.

Pohon yang tumbuh tinggi bukanlah pohon yang meninggalkan akarnya, melainkan pohon yang memiliki akar kuat untuk menopang pertumbuhannya. Begitu pula dengan bahasa. Kita dapat meraih dunia melalui bahasa Inggris, tanpa harus kehilangan bahasa yang lebih dulu mengajarkan kita tentang dunia.

***

*) Oleh : Dessy Kusuma Vinahari, Pendidik Thursina IIBS Malang dengan minat Bahasa Inggris.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia