Strategi Baru Menjaga Rupiah
Indonesia, melalui langkah yang terukur ini, tidak hanya sedang membangun ketahanan rupiah, tetapi juga memperkuat posisi tawarnya dalam arsitektur keuangan Asia yang terus berubah.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JEMBER – Perhelatan pertemuan tingkat tinggi antara Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng di Shanghai pada 11 Juni 2026 bukan sekadar seremonial tahunan.
Di balik deretan penandatanganan nota kesepahaman dan peluncuran sistem pembayaran, tersimpan sebuah strategi makroekonomi yang terukur, yaitu Indonesia sedang mempercepat larinya dari bayang-bayang dominasi dolar AS, sekaligus membangun fondasi baru bagi stabilitas moneter kawasan.
Dalam teori ekonomi moneter internasional , gagasan Optimum Currency Area (OCA) Robert Mundell mengajarkan bahwa integrasi moneter yang efektif membutuhkan kesamaan siklus bisnis, mobilitas faktor produksi, dan integrasi perdagangan yang tinggi.
Meski Indonesia dan China tidak akan membentuk serikat mata uang, perluasan kerangka Local Currency Transaction (LCT) dan penjajakan peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) adalah gerakan mendekati esensi OCA yaitu mengurangi biaya transaksi dan ketidakpastian nilai tukar dalam perdagangan bilateral.
Data mendukung langkah ini. Nilai perdagangan Indonesia-China pada 2025 mencapai 154,58 miliar dolar AS (BPS, Februari 2026), menjadikan China mitra dagang terbesar Indonesia sejak 2011. Sementara itu, transaksi LCT tumbuh pesat, total 2024 tercatat 16,28 miliar dolar AS, lalu per April 2026 melonjak menjadi 22,61 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 309 persen year-on-year (Bank Indonesia, Mei 2026). Dengan skala sebesar ini, efisiensi transaksi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Teori Mundell-Fleming melalui Impossible Trinity mengajarkan bahwa bank sentral hanya bisa memenuhi dua dari tiga tujuan, yaitu stabilitas nilai tukar, mobilitas modal bebas, dan kebijakan moneter independen. Indonesia, dengan nilai tukar mengambang dan mobilitas modal cukup terbuka, selama ini mengorbankan sebagian stabilitas nilai tukar demi independensi moneter. Namun , ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi bilateral justru membuat rupiah rentan terhadap gejolak eksternal.
Kerja sama ini menawarkan jalan keluar. Dengan mendorong penggunaan rupiah-renminbi dalam transaksi bilateral, BI mengurangi permintaan dolar AS sebagai mata uang perantara. Pembentukan RMB Clearing Arrangement di Indonesia dan keikutsertaan Bank Mandiri dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS) memperkuat infrastruktur penyelesaian transaksi tanpa jalur berbasis dolar. Tanpa mengorbankan independensi, BI menciptakan “ruang bernapas” bagi stabilitas rupiah melalui diversifikasi mata uang transaksi.
Peluncuran pembayaran QR lintas batas Indonesia-China tampak teknis, namun dampaknya sangat strategis. Dengan 191 penyedia jasa pembayaran di China dan 24 di Indonesia, inisiatif ini membawa semangat dedolarisasi hingga ke transaksi ritel. Wisatawan Indonesia bisa berbelanja di China dengan QRIS, dan sebaliknya. Dalam bahasa ekonomi, ini adalah pengurangan transaction cost dan peningkatan integrasi ekonomi secara horizontal, dari perdagangan korporasi hingga konsumen individu.
Sebagai ekonom saya perlu mengingatkan bahwa dedolarisasi bukanlah proses instan. Dominasi dolar AS bertumpu pada likuiditas, kedalaman pasar, dan kepercayaan yang terbangun puluhan tahun. Renminbi, meski semakin internasional, masih menghadapi hambatan konvertibilitas. Karena itu, langkah BI dan PBOC harus dibaca sebagai proses bertahap, seperti “lari marathon”, bukan “sprint”.
Pendekatan komprehensif yang ditempuh patut diapresiasi, dari swap mata uang, kerangka LCT, clearing bank, sistem pembayaran ritel, hingga partisipasi dalam CIPS. Ini menunjukkan bahwa BI tidak sekadar "ikut-ikutan" arus dedolarisasi global, tetapi menyusun peta jalan yang terintegrasi. Gubernur Perry Warjiyo dan Gubernur Pan Gongsheng tampaknya memahami bahwa stabilitas keuangan regional tidak bisa dibangun dengan cara-cara lama di tengah dunia yang baru.
Pertemuan tingkat tinggi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru hubungan moneter Indonesia-China. Di tengah ketidakpastian global dan fragmentasi sistem keuangan internasional, kerja sama antarbank sentral menjadi instrumen vital untuk menjaga stabilitas.
Indonesia, melalui langkah yang terukur ini, tidak hanya sedang membangun ketahanan rupiah, tetapi juga memperkuat posisi tawarnya dalam arsitektur keuangan Asia yang terus berubah. Yang diperlukan ke depan adalah konsistensi implementasi, penguatan infrastruktur keuangan, serta kesiapan menghadapi berbagai guncangan eksternal, karena dalam ekonomi, sebagaimana dalam pelayaran, angin tidak selalu bertiup searah.
Keberhasilan strategi ini tidak diukur dari seberapa cepat Indonesia meninggalkan dolar AS, melainkan dari seberapa besar kemampuan sistem keuangannya menciptakan stabilitas, efisiensi, dan kepercayaan dalam jangka panjang. Jika fondasi tersebut terus diperkuat, Indonesia tidak hanya akan menjadi pengikut dalam perubahan lanskap moneter global, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu aktor yang ikut menentukan arah transformasi keuangan kawasan Asia.
***
*) Oleh : M. Abd. Nasir, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jember.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


