White Elephant dan Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 adalah peluang emas bagi Amerika Utara untuk membuktikan bahwa mega-event dapat dikelola secara bertanggung jawab, tanpa utang publik yang membebani, tanpa stadion terbengkalai, dan tanpa mengorbankan sektor-sektor esensial.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JEMBER – Piala Dunia 2026 telah dimulai. Kabar baiknya, berbeda dari Brasil, Rusia, atau Qatar, Amerika Utara tidak perlu membangun stadion baru dari nol. Inilah peluang emas untuk mematahkan kutukan ekonomi yang selama ini membayangi mega-event olahraga.
Dengan 16 stadion yang sudah memenuhi standar FIFA, tuan rumah bersama dapat mengalihkan anggaran ke hal-hal yang benar-benar dibutuhkan rakyat, seperti transportasi publik dan digitalisasi layanan. Namun, optimisme ini harus dibarengi dengan kejujuran.
Warisan white elephant, stadion-stadion megah yang terbengkalai setelah pesta, bukanlah cerita lama yang usang. Ia masih mengintai, bahkan di negara maju sekalipun. Dalam ilmu ekonomi, istilah white elephant (gajah putih) merujuk pada proyek infrastruktur megah yang membutuhkan biaya investasi dan pemeliharaan sangat tinggi, tetapi hanya memberikan manfaat publik yang sangat kecil.
Salah satu warisan paling problematis dari Piala Dunia adalah stadion-stadion yang berubah menjadi white elephant. Kajian Matheson (2018) mencatat bahwa stadion Piala Dunia di Korea Selatan dengan kapasitas hampir 50.000 kursi rata-rata hanya menarik kurang dari 200.000 penonton sepanjang tahun 2010.
Di Afrika Selatan, stadion serupa juga hanya melayani jumlah penonton yang sama minimnya pada 2013. Brasil bahkan mencatat kasus paling ekstrem, Arena da Amazônia di Manaus yang menelan biaya 298 juta dolar AS kini berfungsi utama sebagai terminal bus, sementara stadion ikonik Maracanã di Rio pun jatuh dalam kondisi terbengkalai.
Infrastruktur umum seperti transportasi massal, yang seharusnya memberikan manfaat jangka panjang, justru sering terabaikan karena tekanan tenggat waktu. Dari 35 proyek kereta ringan yang direncanakan di seluruh Brasil jelang Piala Dunia 2014, hanya 5 yang berhasil diselesaikan tepat waktu.
Di Natal, bahkan hanya setengah dari proyek infrastruktur umum yang direncanakan berhasil dimulai. Ironisnya, saat stadion-stadion white elephant berdiri megah, kebutuhan dasar rakyat akan transportasi yang layak justru dikorbankan.
Piala Dunia 2026 menghadirkan dinamika yang berbeda dari edisi-edisi sebelumnya, dengan tiga negara bertindak sebagai tuan rumah bersama. Keunggulan terbesarnya adalah infrastruktur yang sudah ada. Bandingkan dengan Brasil yang menghabiskan 3,6 miliar dolar AS untuk stadion (dari total biaya 11,63 miliar), atau Rusia dengan biaya stadion 5,3 miliar, belum lagi Qatar yang diproyeksikan menggelontorkan 200 miliar dolar AS.
Amerika Utara sudah memiliki puluhan stadion berkapasitas 40.000 kursi lebih yang siap digunakan. Matheson mencatat bahwa pada saat AS mengajukan penawaran untuk Piala Dunia 2022, mereka mengidentifikasi 70 stadion yang sudah memenuhi standar FIFA. Ini adalah modal yang luar biasa.
Piala Dunia 1994 di AS bahkan menjadi preseden keberhasilan: hanya sekitar 5 juta dolar AS uang publik yang dikeluarkan untuk stadion, dan surplus dari penyelenggaraan disisihkan untuk membentuk US Soccer Foundation, yang hingga kini masih memberikan hibah untuk program sepak bola akar rumput.
Namun, risiko crowding out tetap nyata. Kota seperti Los Angeles, New York, Toronto, dan Mexico City adalah destinasi wisata kelas dunia sepanjang tahun. Pertanyaannya, apakah kehadiran jutaan penggemar sepak bola justru akan mengusir wisatawan reguler yang memiliki daya beli lebih tinggi?
Pengalaman Brasil 2014 justru menunjukkan hasil yang berbeda karena turnamen berlangsung pada musim dingin di belahan bumi selatan, sehingga wisatawan tidak terlalu tergusur. Bahkan, studi memperkirakan tambahan sekitar 1 juta kedatangan wisatawan asing ke Brasil selama turnamen, dengan 250.000 di antaranya berasal dari Argentina berkat keberhasilan tim nasional tetangga itu melaju ke babak final. Namun keberuntungan seperti itu tidak bisa direncanakan.
Sebagai ekonom yang percaya pada potensi event olahraga global, ada optimisme bahwa Piala Dunia 2026 dapat memberikan manfaat nyata, asalkan beberapa prinsip dipegang teguh.
Pertama, hindari pembangunan white elephant. Gunakan stadion yang sudah ada. Jika perlu renovasi, lakukan secukupnya. Tidak ada alasan bagi Amerika Utara untuk mengulang kesalahan Brasil atau Qatar.
Kedua, manfaatkan model tuan rumah bersama untuk menyebarkan beban. Wisatawan dapat tersebar di tiga negara, sehingga tekanan pada satu kota tidak terlalu besar, sekaligus mengurangi risiko crowding out.
Ketiga, transparansi dan akuntabilitas. Catatan sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap proses seleksi tuan rumah Piala Dunia sejak 1998 diwarnai tuduhan suap dan korupsi. Tanpa komitmen pada proses yang bersih, tidak ada jaminan bahwa keputusan tuan rumah akan mengikuti logika ekonomi yang rasional.
Keempat, negosiasi ulang pembagian pendapatan dengan FIFA. Selama laba FIFA dari satu edisi Piala Dunia masih jauh melampaui dana warisan yang ditinggalkan untuk negara tuan rumah, publik berhak mempertanyakan keadilan model bisnis ini.
Keputusan menjadi tuan rumah Piala Dunia jarang semata-mata soal uang. Ada dimensi kebanggaan nasional, politik prestise, dan hasrat kolektif untuk menjadi pusat perhatian dunia. Jerman 2006 menunjukkan lonjakan signifikan dalam indeks kebahagiaan warga.
Afrika Selatan merasakan kebanggaan luar biasa sebagai tuan rumah pertama dari benua Afrika. Namun kebanggaan tidak boleh dijadikan tameng untuk menutupi inefisiensi. Warga Brasil yang turun ke jalan pada 2014 memprotes pemotongan anggaran transportasi dan kesehatan demi membiayai stadion. Mereka mengajarkan satu pelajaran berharga, pesta olahraga tidak boleh mengorbankan kebutuhan dasar rakyat.
Piala Dunia 2026 adalah peluang emas bagi Amerika Utara untuk membuktikan bahwa mega-event dapat dikelola secara bertanggung jawab, tanpa utang publik yang membebani, tanpa stadion terbengkalai, dan tanpa mengorbankan sektor-sektor esensial.
Jika berhasil, ini akan menjadi warisan tak ternilai, bagi sepak bola, bagi ilmu ekonomi event global, dan bagi jutaan warga yang hanya ingin merayakan pesta tanpa harus menanggung mahal di hari-hari setelahnya.
***
*) Oleh : M. Abd. Nasir, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jember.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


