Advertisement
Kopi TIMES

Pesantren dan Ujian Moral Komunitas

Pesantren telah lama menjelma fondasi moral masyarakat. Menjaganya tetap kokoh bukan berarti menutup mata pada realialitas yang terjadi, namun tetap memastikan bahwa nilai-nilai yang menjadi pedoman benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan. 

TIMES Indonesia,
NOR MAHMUDI
NOR MAHMUDI - Kopi Times
Pesantren dan Ujian Moral Komunitas
Nor Mahmudi, Alumni PP. Annuqayah Sumenep & Mahasiswa Magister Sosiologi Pedesaan IPB University.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

BOGOR Pesantren hadir bukan sekadar bangunan fisik atau sekolah biasa. Lebih dari itu, ia adalah ruang sakral sekaligus rahim peradaban tempat nilai, adab dan kepercayaan ditanamkan. Di tempat ini, orang tua menitipkan bukan hanya anak, namun juga masa depan moral mereka. Tentu kepercayaan itu tidak lahir dalam waktu semalam, melainkan dibangun dari tradisi panjang penghormatan terhadap ilmu dan otoritas keagamaan.

Namun dalam beberapa watu terakhir, ruang yang selama ini dipandang sacral itu kerap diuji oleh realitas yang tidak sederhana. Berbagai peristiwa yang mencuat ke publik sedang menunjukkan bahwa persoalan yang muncul di lingkungan pesantren tidak lagi berdiri sebagai kasus yang terpisah, tapi mulai membentuk pola yang berulang.

Advertisement

Sejak 2024 sampai 2026, sejumlah kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren muncul di berbagai daerah. Sebuah pesantren di Pati, Jawa Tengah, misalnya, menjadi sorotan nasional akibat dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati, kemudian baru diproses ketika mendapat tekanan yang kuat dari publik.

Di Pekalongan juga terdapat kasus serupa, menunjukkan pola berulang dengan jumlah korban yang tidak sedikit dan dalam waktu yang panjang. Di wilayah lain, seperti Semarang, Ngawi, hingga Madura, laporan dari korban terus bertambah memperlihatkan duduk persoalan ini bukan insidental.

Jika ditarik lebih dalam, fenomena ini juga terlihat jelas dalam data nasional. Sepanjang 2025 saja terdapat 600+ kasus kekerasan di lembaga pendidikan, dengan kekerasan seksual paling mendominasi, sekitar 57,65 persen dari total kasus. Di lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren, tercatat juga ratusan kasus dengan grafik yang terus meningkat. Dari data ini menunjukkan bahwa yang dihadapi bukan sekadar peristiwa sporadis, melainkan gejala sosial yang sudah kronis.

Dalam perspektif Emile Durkheim, fenomena ini dapat dibaca melalui dua konsep, sakral dan profan. Ia menjelaskan bahwa masyarakat membangun batas di antara yang dianggap suci dan yang biasa. Posisi pesantren berada pada kategori ruang sakral. Oleh sebab itu, ketika terjadi penyimpangan di pesantren, reaksi sosial menjadi begitu kuat. Yang terguncang bukan hanya peristiwanya, melainkan rasa kesucian yang selama ini sudah melekat pada institusi tersebut.

Di sisi lain, ada dinamika berbeda yang tak kalah penting untuk dilihat, yaitu persoalan otoritas. Max Weber menyebut bahwa dalam komunitas keagamaan, otoritas sering kali bersifat karismatik. Dalam struktur semacam ini, hubungan antara figur otoritas dan anggota komunitas menjadi sangat erat. Tetapi saat bersamaan, kekuatan itu juga dapat menciptakan jarang yang berdampak melemahnya kontrol sosial.

Advertisement

Dari berbagai kasus yang terjadi, ada temuan yang menunjukkan bahwa relasi tersebut mempunyai peran di dalamnya. Sebagian besar pelaku berasal dari tempat yang memiliki otoritas tinggi, sehingga posisi ini membuat korban semakin terjepit. Selain sulit untuk menolak atau bersuara, ditambah lagi relasi kepercayaan yang bersanding dengan relasi kuasa. Apalagi, karena tekanan sosial yang begitu besar, khawatir akan stigma negatif, hingga upaya menjaga nama baik komunitas, menyebabkan melambatnya kasus-kasus tersebut terungkap.

Di sinilah ujian komunitas benar-benar terjadi. Persoalannya tidak berhenti pada ada atau tidaknya penyimpangan, namun pada bagaimana komunitas meresponnya. Apakah akan melakukan transparansi dan perbaikan, atau justru akan menutup diri demi menjaga citra tetap aman?. Dalam banyak kasus, keterlambatan penanganan, malah memperburuk keadaan, baik bagi korban, maupun kepercayaan publik yang terus memudar.

Melihat situasi tersebut, penting untuk meletakkan pesantren secara proporsional. Ia tetap sebagai institusi penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia. Namun sebagaimana institusi lainnya, pesantren tidak kebal terhadap persoalan manusiawi. Bahkan sebab posisinya yang sakral, maka harus melekatkan standar moral yang jauh lebih tinggi.

Akhirnya, ujian moral komunitas bukan terletak pada apakah sebuah institusi memiliki masalah, melainkan bagaimana ia menghadapi persoalan tersebut. Sebab kepercayaan yang kuat bukan berada pada tiadanya masalah, namun dari keberanian untuk mengungkapkannya, memperbaikinya, dan memastikan agar tidak terulang kembali.

Pesantren telah lama menjelma fondasi moral masyarakat. Menjaganya tetap kokoh bukan berarti menutup mata pada realialitas yang terjadi, namun tetap memastikan bahwa nilai-nilai yang menjadi pedoman benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan. Sebab di sanalah letak kekuatan dari sebuah komunitas, bukan pada cintranya yang selalu tampak sempurna, melainkan bersandar pada kemampuannya untuk terus berbenah dan bertumbuh di tengah gejolak ujian.

***

*) Oleh : Nor Mahmudi, Alumni PP. Annuqayah Sumenep & Mahasiswa Magister Sosiologi Pedesaan IPB University.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia