Advertisement
Kopi TIMES

Sintesis Iman dan Peradaban

Pendidikan abad ke-21 menuntut keseimbangan. Dan kini, kita telah memiliki peta navigasinya. Saatnya bagi para praktisi pendidikan, pembuat kebijakan, dan pengelola pesantren untuk menjemput masa depan dengan menerapkan kerangka berpikir yang integratif i

TIMES Indonesia,
Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf - Kopi Times
Sintesis Iman dan Peradaban
Salman Akif Faylasuf, Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SUMENEP Dunia saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang membingungkan. Di satu sisi, akselerasi teknologi dan globalisasi telah membawa umat manusia pada pencapaian intelektual yang memukau. Di sisi lain, kita menyaksikan krisis moral yang kronis, disintegrasi sosial, dan kekosongan spiritual yang menganga lebar.

Di tengah kebisingan peradaban yang seringkali kehilangan arah inilah, sebuah diskursus segar muncul dari rahim pendidikan pesantren, institusi tertua yang sering dianggap tradisional, namun justru kini menawarkan jawaban paling futuristik bagi tantangan zaman.

Advertisement

Tanggal 19 Mei 2026 menjadi catatan historis bagi dunia pendidikan Islam. Hosaini, seorang akademisi muda yang membawa napas segar dari Arjasa, Kangean, Sumenep, berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para guru besar di Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Keberhasilannya meraih gelar doktor dengan predikat Cumlaude bukan sekadar perayaan akademik. Yang lebih fundamental adalah lahirnya sebuah kerangka teoretis yang ia sebut sebagai “Teori Komitmen”. Teori ini hadir bukan sebagai pelengkap khazanah akademik, melainkan sebagai sebuah “navigasi” bagi pendidikan abad ke-21 yang sedang kehilangan kompas moralnya.

Selama berdekade-dekade, pendidikan Islam sering terjebak dalam perdebatan usang: apakah harus memprioritaskan ilmu agama atau ilmu pengetahuan umum? Diskursus ini sering menciptakan segregasi yang merugikan. Lembaga pendidikan agama sering dicap “tertinggal” dari kemajuan sains, sementara institusi pendidikan sekuler sering dianggap “steril” dari nilai-nilai spiritualitas yang memanusiakan.

Disertasi Hosaini yang berjudul “Penguatan Desain Kurikulum Integratif, Pembelajaran Integratif dan Kompetensi Lulusan dalam Menjawab Kebutuhan dan Tantangan Global di Pesantren” adalah upaya dekonstruksi atas dikotomi tersebut. Dengan melakukan studi kasus di tiga pesantren besar yaitu, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Mulk Jember. Hosaini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi mampu memimpin integrasi ilmu.

Teori Komitmen yang ia rumuskan adalah sebuah sintesis. Ia mendamaikan kebutuhan manusia akan kesalehan spiritual dengan tuntutan dunia untuk kecakapan intelektual. Inilah yang kita sebut sebagai navigasi pendidikan abad ke-21: sebuah model yang tidak mengorbankan iman demi kemajuan, pun tidak mengabaikan kemajuan demi iman.

Advertisement

Teori komitmen bukanlah jargon kosong. Ia memiliki arsitektur yang kokoh. Hosaini membagi dimensi kompetensi ini menjadi dua kategori besar: “core competence” (kompetensi inti) dan “instrumental competence” (kompetensi instrumen).

Kompetensi Inti meliputi Iman, Taqwa, dan Moral. Ketiganya adalah fondasi. Iman memberikan arah, Taqwa memberikan kedisiplinan dan kesadaran ilahiah dalam beraktivitas, sementara Moral memberikan jangkar etika. Tanpa ketiga hal ini, kemajuan hanyalah sebuah perlombaan menuju kehancuran nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam perspektif Hosaini, moralitas bukan sekadar aturan perilaku, melainkan filter utama yang menentukan apakah sebuah kecerdasan teknologi akan digunakan untuk kemaslahatan atau kerusakan bumi.

Kompetensi Instrumen adalah Ilmu Pengetahuan. Inilah aspek yang sering disalahpahami sebagai entitas terpisah. Padahal, ilmu pengetahuan, sains, teknologi, ekonomi, hingga manajemen, adalah instrumen pembangunan peradaban (civilizational tools). Hosaini menempatkan ilmu pengetahuan sebagai “perpanjangan tangan” dari iman. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin luas cakupan manfaat keimanannya.

Secara filosofis, ini adalah manifestasi nyata dari doa “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah”. Bahwa menjadi muslim yang baik berarti harus menjadi manusia yang kompeten di dunia melalui penguasaan ilmu pengetahuan, sekaligus terjaga secara ukhrawi melalui kekuatan iman dan moral.

Kita hidup di era Artificial Intelligence (AI), disrupsi digital, dan polarisasi global. Pendidikan di abad ini sering kali hanya berfokus pada “bagaimana cara bekerja”, bukan “mengapa kita harus bekerja”. Hasilnya adalah tenaga kerja yang cakap secara teknis, namun rapuh secara eksistensial.

Teori Komitmen menawarkan jawaban. Lulusan pendidikan yang menggunakan model ini tidak hanya akan memiliki keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan literasi digital yang tinggi, sebagaimana tuntutan kompetensi abad ke-21, tetapi mereka juga memiliki apa yang disebut sebagai “moral compass”.

Inilah navigasi yang dibutuhkan. Di dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan cepat, seorang individu membutuhkan resiliensi (ketangguhan). Resiliensi itu tidak datang dari sekadar kecerdasan kognitif, melainkan dari kedalaman spiritual yang memungkinkannya tetap tenang di tengah badai perubahan.

Sederhananya, Teori Komitmen berhasil merumuskan proposisi operasionalnya: “Semakin kuat kompetensi iman, taqwa, moral, dan ilmu pengetahuan, maka semakin besar potensi peserta didik dalam menjawab tantangan global.”

Apresiasi Akademik dan Validitas sebuah Gagasan

Dalam sidang promosi doktornya, para penguji, termasuk Prof. Dr. Mahmud Arif, Prof. Dr. H. Mujamil Qomar, dan Prof. Dr. H. Kojin, mengakui bahwa menemukan sebuah teori baru dalam penelitian doktoral adalah pencapaian yang sangat langka dan berharga. Mengapa? Karena sebuah teori memerlukan validasi empiris yang kuat serta konsistensi logika yang tahan uji.

Teori Komitmen dianggap unik karena ia tidak meminjam konsep Barat yang seringkali sekuler. Ia lahir dari tradisi pesantren yang autentik, namun memiliki universalitas yang memungkinkan untuk diterapkan di berbagai lembaga pendidikan lain. Diskusi mendalam antara para guru besar tersebut menegaskan bahwa model ini adalah bentuk “modernisasi pesantren” yang paling orisinal; sebuah transformasi yang tidak meninggalkan akar, melainkan mekar dan membuahkan solusi bagi masyarakat modern.

Menuju Pesantren sebagai Inkubator Peradaban

Jika selama ini pesantren sering dipandang sebelah mata dalam peta jalan pendidikan nasional, Teori Komitmen membalikkan narasi tersebut. Pesantren kini memiliki legitimasi ilmiah untuk memosisikan diri sebagai inkubator peradaban.

Bayangkan jika setiap institusi pendidikan Islam menerapkan model ini. Kita tidak akan lagi melihat dikotomi antara cendekiawan yang buta agama atau agamawan yang buta sains. Kita akan melahirkan generasi “intelektual-spiritual”: orang-orang yang bisa memprogram sistem AI dengan kecerdasan algoritma tingkat tinggi, namun tetap memegang prinsip akhlak yang teguh dalam setiap baris kode yang mereka tulis. Inilah masa depan peradaban yang kita butuhkan.

Warisan bagi Masa Depan

Keberhasilan Dr. Hosaini adalah pengingat bahwa kebenaran intelektual seringkali lahir dari ketekunan di tempat-tempat yang sunyi, namun memberikan resonansi yang sangat luas. Perjalanannya dari Arjasa, Kangean, hingga meraih gelar doktor tertinggi adalah inspirasi bagi kita semua untuk tidak pernah berhenti mencari sintesis antara nilai-nilai ketuhanan dan kemajuan intelektual.

Sekali lagi, Teori Komitmen bukan sekadar deretan kata dalam sebuah disertasi. Ia adalah sebuah tawaran peradaban. Dunia sedang haus akan sosok pemimpin yang memiliki integritas moral di tengah banjir informasi dan godaan teknologi. Melalui navigasi Teori Komitmen, kita sedang menyiapkan generasi tersebut.

Pendidikan abad ke-21 menuntut keseimbangan. Dan kini, kita telah memiliki peta navigasinya. Saatnya bagi para praktisi pendidikan, pembuat kebijakan, dan pengelola pesantren untuk menjemput masa depan dengan menerapkan kerangka berpikir yang integratif ini.

Mari kita buktikan bahwa Islam, melalui lembaga pendidikan tertuanya, tetap menjadi obor yang memandu peradaban menuju keadilan, kemajuan, dan kemanusiaan. Dr. Hosaini telah meletakkan batu pertama; kini giliran kita untuk membangun gedung peradaban tersebut hingga ke puncaknya.

***

*) Oleh : Salman Akif Faylasuf, Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia