Advertisement
Kopi TIMES

Dr. Hosaini sebagai Kompas Baru Peradaban Islam Global

Dr. Hosaini telah memberikan sumbangsih pemikiran yang berharga. Kini, bola berada di tangan para pengelola pesantren dan praktisi pendidikan untuk mengimplementasikan kerangka teoretis ini.

TIMES Indonesia,
Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf - Kopi Times
Dr. Hosaini sebagai Kompas Baru Peradaban Islam Global
Dr. Hosaini bersama para peguji sesaat setelah sidang Disertasinya.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SUMENEP Tanggal 19 Mei 2026 akan tercatat dalam buku sejarah perkembangan pendidikan Islam di Indonesia sebagai titik balik yang krusial. Di tengah deru perubahan zaman yang menuntut relevansi institusi pendidikan, seorang akademisi muda asal Arjasa, Kangean, Sumenep, Madura, yakni Hosaini, berhasil memecah kebuntuan diskursus pendidikan Islam melalui disertasinya yang fenomenal.

Lulus dengan predikat Cumlaude sebagai Doktor ke-103 di Program Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Hosaini tidak sekadar meraih gelar; ia membawa “oase” pemikiran berupa penemuan teori baru yang ia sebut sebagai Teori Komitmen (Kompetensi Iman, Taqwa, Moral, dan Ilmu Pengetahuan).

Advertisement

Keberhasilan Hosaini, yang saat ini mendedikasikan ilmunya sebagai dosen di Universitas Bondowoso, adalah bukti bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan tertua dan paling autentik di nusantara memiliki daya lenting (resiliensi) dan daya cipta intelektual yang melampaui masanya.

Sidang yang Mengukir Sejarah

Sidang promosi doktor yang berlangsung di Aula Lantai 5 Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung pada pukul 13.00-15.00 WIB tersebut bukanlah seremoni akademik biasa. Dihadiri oleh jajaran guru besar yang memiliki reputasi mentereng, suasana sidang yang khidmat mencerminkan betapa berat dan pentingnya bobot penelitian yang dipaparkan.

Panel penguji yang terdiri dari Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I. (Ketua Penguji), Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I. (Sekretaris Penguji), Prof. Dr. Mahmud Arif, M.Pd.I. (UIN Sunan Kalijaga), Prof. Dr. H. Mujamil Qomar, M.Ag. (Promotor), Prof. Dr. H. Imam Fuadi, M.Pd., Prof. Dr. H. Kojin, M.A. (Ko-Promotor), serta Assoc. Prof. Dr. Muhammad Zaini, M.A., memberikan pengakuan secara kolektif bahwa apa yang dibawa Hosaini adalah sebuah loncatan konseptual.

Tantangan Global dan Pesantren

Advertisement

Disertasi Hosaini yang bertajuk “Penguatan Desain Kurikulum Integratif, Pembelajaran Integratif dan Kompetensi Lulusan dalam Menjawab Kebutuhan dan Tantangan Global di Pesantren” merupakan respons kritis terhadap tantangan zaman. Ia melakukan studi mendalam di tiga episentrum pendidikan pesantren yang memiliki karakter integratif yang kuat: Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Mulk Jember.

Selama ini, terdapat narasi biner yang menjebak dunia pendidikan kita: pilihan antara menjadi “alim” (ahli agama) atau “mahir” (ahli sains). Hosaini membongkar narasi ini. Ia berpendapat bahwa pesantren telah berhasil menjaga kompetensi primer, yaitu ilmu agama. Namun, agar tidak tergilas oleh arus globalisasi, diperlukan penguatan sistematis pada kompetensi sains, teknologi, ekonomi, dan humaniora. Tantangannya bukan lagi “apakah pesantren harus terbuka”, melainkan “bagaimana mengintegrasikan keduanya secara organik tanpa menghilangkan marwah kesantrian.”

Sintesis Dunia dan Akhirat

Secara filosofis, Teori Komitmen tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah turunan dari refleksi teologis atas Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 201. Ayat ini bukan sekadar doa, melainkan sebuah desain hidup yang menuntut keselarasan. Pendidikan Islam yang ideal, menurut Hosaini, adalah pendidikan yang mampu mewujudkan integrasi IMTAQ dan IPTEK sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Teori Komitmen merinci dimensi kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan pesantren modern. Pertama, kompetensi iman (fondasi). Inilah pemandu arah. Iman di sini bukan sekadar doktrin, melainkan kesadaran spiritual yang membentuk orientasi hidup. Dengan iman yang kuat, seorang lulusan pesantren memiliki “jangkar” saat menghadapi badai budaya global.

Kedua, kompetensi taqwa (praktik). Diterjemahkan melalui pemahaman Fiqih yang aplikatif. Taqwa adalah bagaimana nilai-nilai agama diwujudkan dalam etika bisnis, politik, sosial, dan teknologi.

Ketiga, kompetensi moral (karakter). Di dunia yang mengalami degradasi nilai dan krisis integritas, moralitas adalah pembeda. Akhlak mulia adalah filter bagi setiap pengambilan keputusan.

Keempat, kompetensi ilmu pengetahuan (instrumen). Inilah aspek yang sering dianggap “asing” namun krusial. Hosaini menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengejawantahkan nilai Islam. Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah “buta”, namun agama tanpa ilmu pengetahuan adalah “lumpuh”.

Dalam struktur teori ini, Iman, Taqwa, dan Moral menempati posisi “core competence”. Ilmu pengetahuan menempati posisi “instrumental competence”. Dengan demikian, ilmu umum tidak lagi dipandang sebagai “musuh” bagi ilmu agama, melainkan sebagai “civilizational tools” (alat pembangun peradaban).

Salah satu keunggulan utama dari temuan Hosaini adalah kemampuannya merumuskan proposisi yang sangat operasional: “Semakin kuat kompetensi iman, taqwa, moral, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar potensi mereka dalam menjawab kebutuhan dan tantangan global.”

Proposisi ini didukung oleh temuan empiris di tiga pesantren lokasi penelitian. Santri yang mendapatkan pendidikan integratif secara sistematis terbukti jauh lebih resilien. Mereka mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, inovatif dalam pemecahan masalah sosial, namun tetap memiliki identitas Islam yang kokoh. Mereka tidak menjadi “asing” di tengah kemajuan, justru mereka menjadi penggerak kemajuan itu sendiri.

Apresiasi Akademik dan Validitas Metodologis

Prof. Dr. H. Kojin, M.A., dalam sambutannya, memberikan penekanan bahwa menemukan teori baru adalah puncak tertinggi dari capaian seorang doktor. Sebuah teori harus memenuhi kriteria ilmiah yang sangat ketat: hubungan antar-konsep yang logis, konstruksi teoretis yang kuat, dan yang terpenting adalah validasi empiris di lapangan.

Diskusi antara Prof. Kojin dan Prof. Mujamil Qomar menyimpulkan bahwa Teori Komitmen adalah kontribusi yang orisinal. Di tengah maraknya teori pendidikan yang mengadopsi model Barat, Hosaini justru menawarkan teori yang “membumi” di pesantren, namun “melangit” dalam orientasinya. Ini adalah kebanggaan bagi dunia akademik Islam Indonesia karena berhasil menyumbangkan kerangka berpikir yang bisa diadopsi oleh lembaga pendidikan lain di seluruh dunia.

Jika kita menarik diskursus ini dalam konteks yang lebih luas, Teori Komitmen adalah jawaban atas kecemasan kita terhadap masa depan SDM Indonesia. Pendidikan kita sering kali terjebak dalam dikotomi: sekolah agama yang kurang sains, atau sekolah umum yang kurang karakter.

Teori Komitmen menawarkan jalan tengah yang transformatif. Individu yang lahir dari pendidikan berbasis teori ini akan memiliki “kompas moral” yang kuat, sehingga ia tidak akan korup meskipun memiliki kekuasaan dan ilmu pengetahuan tinggi. Mereka akan menjadi “agent of change” yang beretika. Di sinilah letak kemanusiaan dalam pendidikan yang diusung Hosaini. Ia ingin melahirkan generasi yang tidak hanya “pintar” secara kognitif, tetapi juga “bijak” secara spiritual.

Menjawab Disrupsi dan Krisis Moral Global

Kita sedang hidup di era di mana “Artificial Intelligence”, disrupsi teknologi, dan krisis identitas menjadi makanan sehari-hari. Konflik sosial sering terjadi karena hilangnya empati. Teori Komitmen menawarkan pendekatan yang holistik. Ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam bingkai Teori Komitmen tidak akan dipakai untuk merusak alam atau mengeksploitasi manusia, melainkan untuk membangun kebermanfaatan.

Pesantren, melalui model ini, bertransformasi dari sekadar “benteng tradisi” menjadi “inkubator peradaban”. Inilah yang disebut Hosaini sebagai kontribusi strategis. Ia ingin menegaskan bahwa pendidikan Islam bukan sekadar tentang menyiapkan seseorang untuk akhirat, tetapi juga tentang bagaimana memberikan “kebahagiaan” (hasanah) di dunia melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang dibimbing oleh iman.

Warisan bagi Generasi Mendatang

Keberhasilan Dr. Hosaini adalah kemenangan bagi ketekunan dan kedalaman berpikir. Perjalanan seorang putra Kangean yang mampu menembus batas-batas geografis dan akademis adalah sebuah narasi inspiratif. Teori Komitmen bukan hanya sekadar akhir dari sebuah proses disertasi, melainkan awal dari gerakan pendidikan baru di Indonesia.

Sebagai pemerhati sosial, kita melihat bahwa apa yang dilakukan Hosaini adalah langkah berani untuk memastikan bahwa warisan pendidikan tertua di Indonesia ini tetap relevan dan mampu memimpin arus zaman.

Dengan Teori Komitmen, kita tidak perlu takut akan masa depan. Karena kita telah menyiapkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi dunia, tetapi juga siap membangun peradaban dunia yang lebih berkeadaban, berkemajuan, dan berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

Dr. Hosaini telah memberikan sumbangsih pemikiran yang berharga. Kini, bola berada di tangan para pengelola pesantren dan praktisi pendidikan untuk mengimplementasikan kerangka teoretis ini. Harapannya, Teori Komitmen tidak hanya berhenti di lembaran disertasi, tetapi menjadi kurikulum hidup yang membentuk wajah Indonesia masa depan yang cerdas, berakhlak, dan berketuhanan.

Ala kulli hal, selamat kepada Dr. Hosaini. Karya ini bukan hanya milik UIN SATU Tulungagung, tetapi milik peradaban Islam yang sedang menapaki jalan untuk kembali berjaya.

***

*) Oleh : Salman Akif Faylasuf, Penulis Lepas dan Pemerhari Isu Sosial.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia