Prof. Sugiyono, Buku, dan Keteladanan Jariyah Keilmuan
Prof. Sugiyono yang membuat takjub. Ketika ditanya alasan beliau membangun masjid dijawab, “yang dibawa mati tiga hal. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh. Saya mencoba memenuhi ketiganya.”

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
TANGERANG SELATAN – Di tugas akhir mahasiswa Indonesia, seakan namanya menjadi legenda, karena nyaris tidak pernah absen dikutip. Berdasarkan data Google Schoolar per Mei 2026, nama Prof. Sugiyono sudah dikutip lebih dari 50.000 kali. Tentunya, lebih banyak lagi jika ditambah dengan yang tidak terdata di Google Scholar.
Ia menulis 25 buku dan 20 diantaranya memang mengenai metodologi penelitian dan statistik. Hal itu membuat bukunya banyak digunakan di lintas jurusan berbagai kampus. Mulai dari pendidikan, bisnis, psikologi, kesehatan, komunikasi, hukum, bahkan hingga pariwisata. Bukunya dipakai rujukan oleh seluruh mahasiswa dari Sabang hingga merauke, dari S1 bahkan hingga S3.
Satu diantara buku karyanya yang berjudul Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D terbitan tahun 2013, bahkan dikutip hingga lebih dari 29.000 kali. Jumlah yang sangat fantastis.
Fakta Menarik Prof. Sugiyono
Hal menarik dari Prof. Sugiyono dan tidak banyak yang tahu adalah beliau sebenarnya bukan dari jurusan penelitian, melainkan lulusan S1 Jurusan Pendidikan Teknik Mesin di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 1977. Namun justru bermula dari saat kuliah di jurusan itulah, ia sadar jika mahasiswa di Indonesia ternyata tidak memiliki buku panduan riset yang mudah dipahami.
Tahun 1982, ia melanjutkan studi magister di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung mengambil bidang Manajemen Pendidikan. Setelah lulus tahun 1985, ia kemudian menjadi tenaga pengajar di UNY, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Barulah tiga tahun kemudian, ia membuat buku pertamanya berjudul Statistika untuk Penelitian dengan penjelasan yang mudah untuk bisa dipahami bagi semua mahasiswa.
Prof. Sugiyono selanjutnya juga menempuh pendidikan S3, mengambil konsentrasi Manajemen Pendidikan di UPI dan berhasil menyandang gelar doktor tahun 1990. Pada tahun1996, beliau kembali mengeluarkan buku Metode Penelitian Administrasi. Di susul dua buku pada tahun 1999, semua juga bertema penelitian, yaitu Metode Penelitian Bisnis dan Statistika Nonparametris untuk Penelitian.
Di sepanjang karier Prof. Sugiyono kemudian dari 25 buku yang ditulisnya, 20 judul diantaranya adalah tentang metodologi penelitian dan statistika. Hingga mengantarkan beliau menjadi Guru Besar UNY juga di bidang Metodologi Penelitian pada Fakultas Teknik.
Buku Terlaris dan Diganjar MURI
Prof. Sugiyono tercatat sebagai penulis buku metodologi terbanyak di Indonesia. Selain itu bukunya berjudul Metode Penelitian Pendidikan dan Statistika untuk Penelitian, juga telah mengalami cetak ulang puluhan kali dan bahkan menjadi buku teks standar di mayoritas perguruan tinggi di Indonesia.
Hingga Museum Rekor Indonesia (MURI) memberinya penghargaan sebagai penulis buku terbanyak di bidang metode penelitian pada tahun 2018. Lalu juga memberinya penghargaan sebagai penulis buku terlaris terbanyak di bidang metode penelitian pada tahun 2019.
Ada dua alasan yang menjadi dasar kenapa Prof. Sugiyono fokus menulis berbagai buku tentang penelitian. Pertama, karena rendahnya kualitas sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh penyelenggaraan dan hasil pendidikan dari berbagai jalur, jenjang, serta jenis pendidikan yang belum memadai. Adapun rendahnya kualitas itu, antara lain disebabkan oleh pembuatan kebijakan, pengembangan kurikulum, dan sistem evaluasi yang tidak didasarkan dari hasil penelitian yang tepat.
Kedua, dalam meningkatkan kualitas pendididkan, hasil penelitian memegang peranan sangat penting, dan untuk memastikan penelitian dapat menghasilkan informasi yang akurat, perlu menggunakan metode penelitian yang tepat (uny.ac.id, 14/02/2019).
Umumnya buku mengenai penelitian cenderung rumit dipahami. Adapun Prof. Sugiyono di setiap buku yang ditulis sengaja menyederhanakan prosedur statistika dan logika penelitian agar lebih mudah dipahami, serta aplikatif bagi mahasiswa dan peneliti pemula. Itulah yang membuat buku-bukunya menjadi paling banyak diminati.
Di samping itu, atas kepakaran Prof. Sugiyono di bidang metodologi penelitian juga membuatnya banyak diundang menjadi narasumber utama di ribuan seminar dengan jumlah peserta terbanyak di Indonesia. Bahkan hingga diundang ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan Korea Selatan. pada tahun 2020, MURI pun memberikan penghargaan kepadanya sebagai narasumber tunggal dengan peserta terbanyak.
Teladan Jariyah Keilmuan
Jika berbicara mengenai ilmu yang bermanfaat, tentu dengan banyaknya mahasiswa dan peneliti yang menjadikan bukunya sebagai rujukan untuk penelitian, sudah bisa dipastikan ilmu yang dimiliki Prof. Sugiyono sangat bermanfaat. Belum lagi dengan banyaknya mahasiswa yang diajar beliau sepanjang kariernya sebagai dosen di UNY hingga kini dan mendapat pencerahan keilmuan terutama bidang penelitian.
Demikian halnya dengan hasil royalti yang didapatkan dari penjualan bukunya yang rata-rata cetak ulang hingga puluhan kali. Bisa diperkirakan tentu menghasilkan materi yang tidak sedikit. Namun yang patut dijadikan sebagai contoh dari beliau adalah bagaimana memperlakukan rezeki yang didapat dari penjualan bukunya. Banyaknya materi yang didapat tidak mengubah gaya hidupnya. Ia tetap hidup dengan sederhana.
Sejak tahun 2015, ia menyisihkan royaltinya. Bukan untuk investasi atau kepentingan melipatkan harta pribadi. Tapi untuk membangun masjid di kampung halamannya, Desa Cindaga, Banyumas. Hingga pada 28 Agustus 2022, dengan pembiayaan secara mandiri dari royalti bukunya, ia berhasil mewujudkan masjid impiannya itu dengan luas bangunan 350 m2 di atas tanah seluas 1.300 m2, dan diberi nama “Masjid Prof. Dr. Sugiyono Rusti”.
Satu hal lagi teladan dari Prof. Sugiyono yang membuat takjub. Ketika ditanya alasan beliau membangun masjid dijawab, “yang dibawa mati tiga hal. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh. Saya mencoba memenuhi ketiganya.”
***
*) Oleh : Rochmad Widodo, Praktisi.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


