Advertisement
Kopi TIMES

Kompas Aswaja dalam Kepemimpinan

Kepemimpinan yang baik bukanlah kepemimpinan yang selalu menyenangkan semua pihak, melainkan kepemimpinan yang mampu menjaga organisasi tetap berada pada jalur kemaslahatan bersama.

TIMES Indonesia,
Kompas Aswaja dalam Kepemimpinan
M Nabil Syadid AA, Kader IPNU Banyuwangi
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

BANYUWANGI Di tengah lanskap sosial yang terus bergerak dan berubah, organisasi tidak lagi sekadar dipahami sebagai wadah administratif yang mengatur aktivitas kolektif. Organisasi merupakan ruang dialektika gagasan, kepentingan, dan harapan yang menuntut adanya arah yang jelas agar tidak kehilangan orientasi.

Dalam konteks ini, kepemimpinan hadir bukan hanya sebagai instrumen pengendali organisasi, melainkan sebagai kekuatan yang menghubungkan visi dengan realitas. Kualitas seorang pemimpin pada akhirnya menjadi faktor penentu apakah organisasi mampu tumbuh sebagai ruang transformasi atau justru terjebak dalam stagnasi dan konflik internal.

Advertisement

Pada dasarnya, kepemimpinan adalah refleksi dari cara seseorang memaknai tanggung jawab, kekuasaan, dan pengabdian. Dalam perspektif Islam, kepemimpinan tidak dibangun di atas logika dominasi, melainkan amanah. Model kepemimpinan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW menunjukkan bahwa otoritas memperoleh legitimasi bukan karena kemampuan memerintah, tetapi karena kapasitas melayani, mengayomi, dan menghadirkan kemaslahatan.

Paradigma inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi organisasi-organisasi berbasis nilai keagamaan, termasuk Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dalam membentuk kader pemimpin yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Di era ketika popularitas sering kali lebih dihargai daripada kapasitas, dan citra lebih mudah dipertontonkan daripada integritas, kepemimpinan membutuhkan jangkar nilai yang kokoh. Bagi tradisi Nahdlatul Ulama, jangkar tersebut termanifestasi dalam empat pilar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja): tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal. Keempat prinsip ini bukan sekadar doktrin normatif, melainkan perangkat etis yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Bagi saya, tawasuth merupakan kemampuan intelektual untuk tetap jernih ketika banyak pihak terjebak dalam polarisasi. Moderasi dalam pengertian ini bukanlah sikap netral yang pasif, melainkan keberanian untuk berpihak pada akal sehat dan kemaslahatan ketika ruang publik dipenuhi oleh narasi yang saling menegasikan. Pemimpin yang menghayati prinsip tawasuth tidak mudah larut dalam fanatisme, tetapi juga tidak kehilangan ketegasan dalam menentukan arah.

Sementara itu, tasamuh menghadirkan kesadaran bahwa perbedaan bukanlah ancaman terhadap persatuan, melainkan prasyarat bagi lahirnya kemajuan. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang seluruh anggotanya berpikir sama, tetapi organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi energi kolektif.

Advertisement

Dalam konteks ini, kemampuan mendengar menjadi sama pentingnya dengan kemampuan berbicara. Bahkan, seorang pemimpin sering kali dinilai bukan dari seberapa keras suaranya terdengar, melainkan dari seberapa luas ruang yang ia berikan kepada suara orang lain.

Prinsip tawazun kemudian mengingatkan bahwa setiap keputusan selalu berada di antara dua kutub: idealisme dan realitas. Tidak semua yang ideal dapat diwujudkan secara langsung, dan tidak semua yang realistis layak untuk dipertahankan.

Oleh karena itu, kepemimpinan memerlukan sensitivitas untuk menemukan titik temu di antara keduanya. Keseimbangan bukan berarti kompromi terhadap prinsip, melainkan kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional sesuai konteks dan kebutuhan.

Di sisi lain, i'tidal berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi privilese. Keadilan dalam kepemimpinan bukan hanya persoalan hasil, tetapi juga menyangkut proses dan keberpihakan.

Pemimpin yang adil tidak mengukur kebijakan berdasarkan kedekatan personal atau kepentingan kelompok, melainkan berdasarkan manfaat yang dapat dirasakan oleh seluruh anggota organisasi. Di sinilah integritas menemukan makna paling konkret.

Menurut pandangan saya, empat pilar Aswaja tidak hanya relevan sebagai warisan pemikiran keislaman, tetapi juga sebagai tawaran konseptual bagi krisis kepemimpinan yang kerap muncul di era modern.

Ketika sebagian model kepemimpinan sibuk membangun citra, Aswaja justru menawarkan pembangunan karakter. Ketika banyak pemimpin berlomba mencari pengaruh, Aswaja mengajarkan pentingnya pengaruh yang lahir dari keteladanan. Dengan kata lain, Aswaja tidak hanya berbicara tentang bagaimana memimpin, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang layak untuk diikuti.

Lebih jauh lagi, kemampuan mengelola perbedaan merupakan ujian nyata bagi kualitas kepemimpinan. Toleransi memang menjadi nilai yang harus dijaga, namun toleransi tidak identik dengan pembiaran. Ketika perbedaan berkembang menjadi potensi konflik yang mengancam stabilitas organisasi, seorang pemimpin dituntut untuk hadir sebagai penengah yang objektif dan berani mengambil keputusan.

Dalam situasi seperti ini, sikap moderat bukan berarti ragu-ragu, melainkan kemampuan untuk tetap adil tanpa kehilangan ketegasan. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan yang baik bukanlah kepemimpinan yang selalu menyenangkan semua pihak, melainkan kepemimpinan yang mampu menjaga organisasi tetap berada pada jalur kemaslahatan bersama. (*)

***

*) Oleh : M Nabil Syadid AA, Kader IPNU Banyuwangi

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia