Advertisement
Kopi TIMES

Muharram Saatnya Muhasabah Waktu Menuju Pribadi Beruntung

Datangnya Muharram harus menjadi momentum refleksi, perbaikan diri, dan penguatan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

TIMES Indonesia,
Muharram Saatnya Muhasabah Waktu Menuju Pribadi Beruntung
Muhammad Hamidi, Praktisi.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

LOMBOK Muharram dalam tradisi Islam, merupakan tanda dari pergantian tahun dalam kalender Hijriyah. Tahun Baru Hijriah bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan momentum spiritual untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap perjalanan kehidupan satu tahun lalu.

Ketika bulan Muharram tiba, umat Islam diajak untuk menoleh ke belakang, menimbang amal yang telah dilakukan, sekaligus menata langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Advertisement

Kalender Hijriah berakar dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah bukan hanya perpindahan tempat secara fisik, tetapi juga simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan lebih berorientasi kepada ridha Allah SWT. Oleh karena itu, setiap datangnya Muharram sejatinya menjadi panggilan bagi setiap muslim untuk melakukan hijrah pribadi, yakni berpindah dari kebiasaan yang kurang baik menuju kebiasaan yang lebih baik.

Satu tahun telah berlalu dalam kehidupan kita. Namun, di balik semua itu terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab: apakah waktu yang telah berlalu menjadikan kita sebagai orang yang beruntung atau justru termasuk golongan yang merugi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut sejenak kita renungkan surat Al Ashr sebagai pedoman kita menuju insan yang beruntung. Bahkan Imam Asy-Syafi'i pernah menyatakan bahwa seandainya manusia merenungkan surat ini dengan sungguh-sungguh, maka surat tersebut sudah cukup sebagai pedoman hidup.

Allah SWT berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1-3)

Ayat pertama diawali dengan sumpah Allah atas nama waktu. Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia. Semua manusia memperoleh jatah waktu yang sama dalam sehari, namun hasil yang diperoleh berbeda. Ada yang memanfaatkannya untuk beribadah, belajar, bekerja, dan berbuat kebaikan. Ada pula yang menghabiskannya dalam kelalaian dan tidak memberikan manfaat baginya.

Advertisement

Pesan pertama yang dapat dipetik dari Surat Al-'Ashr adalah pentingnya menghargai waktu. Dalam konteks Tahun Baru Muharram, pesan ini menjadi sangat relevan. Karena itu, Muharram mengajarkan kepada kita untuk lebih bijak dalam mengelola waktu dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang bernilai. Selanjutnya, Allah menegaskan bahwa manusia pada dasarnya berada dalam keadaan merugi.

Dalam perspektif Surat Al-'Ashr, kerugian terbesar adalah ketika waktu yang diberikan Allah tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kerugian terjadi ketika manusia terlena oleh kesenangan dunia sehingga melupakan tujuan utama kehidupannya. Yaitu untuk meningkatkan kualitas keimanan, memperbanyak amal saleh, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Dalam ayat berikutnya, Allah memberikan empat syarat agar manusia termasuk dalam golongan yang beruntung. Pertama, beriman. Keimanan merupakan fondasi utama kehidupan seorang muslim. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang tertanam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Tahun Baru Muharram hendaknya menjadi momentum memperbarui komitmen keimanan kepada Allah SWT. 

Kedua, beramal saleh. Keimanan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Amal saleh tidak terbatas pada ibadah ritual semata, tetapi mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan dengan niat yang benar dan memberikan manfaat bagi sesama. Mengajar, bekerja dengan jujur, membantu orang yang membutuhkan, menjaga lingkungan, mendidik anak dengan baik, serta berkontribusi bagi kemajuan masyarakat merupakan bentuk-bentuk amal saleh yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya budaya saling mengingatkan dalam kebaikan. Kebenaran tidak cukup hanya diketahui dan diamalkan secara pribadi, tetapi juga harus disampaikan kepada orang lain dengan cara yang bijaksana dan penuh hikmah.

Keempat, saling menasihati dalam kesabaran. Menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai kebenaran bukanlah perkara mudah. Akan selalu ada ujian, tantangan, dan hambatan yang harus dihadapi. Kesabaran menjadi kunci agar seseorang tetap istiqamah dalam menjalani jalan yang benar. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk tetap teguh dalam kebaikan meskipun menghadapi berbagai kesulitan.

Muharram mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang berapa lama seseorang hidup, melainkan tentang bagaimana ia mengisi kehidupannya. Surat Al-'Ashr memberikan ukuran yang jelas tentang keberuntungan dan kerugian manusia. Keberuntungan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya popularitas, tetapi oleh kualitas iman, amal saleh, kepedulian terhadap kebenaran, dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.

Oleh karena itu, datangnya Muharram harus menjadi momentum refleksi, perbaikan diri, dan penguatan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika tahun lalu masih dipenuhi berbagai kekurangan, maka tahun ini harus menjadi awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna. Jika tahun lalu masih banyak waktu yang terbuang, maka tahun ini harus menjadi tahun untuk memaksimalkan setiap kesempatan dalam kebaikan.

Semoga pesan agung Surat Al-'Ashr senantiasa menjadi pengingat bahwa waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dan semoga setiap pergantian Muharram menjadikan kita semakin dekat kepada Allah SWT, semakin banyak beramal saleh, semakin peduli terhadap sesama, serta termasuk golongan orang-orang yang beruntung. (*)

***

*) Oleh : Muhammad Hamidi, Praktisi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia