Advertisement
Kopi TIMES

Dari Luka Kolektif Menuju Solidaritas Baru

Dalam konteks Indonesia hari ini, keberanian untuk mengakui rapuhnya sistem politik dan ekonomi justru bisa menjadi titik awal pembaruan.

TIMES Indonesia,
Dari Luka Kolektif Menuju Solidaritas Baru
Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

JERMAN Kerapuhan adalah ciri mendasar dari eksistensi manusia. Charlotte Mew, dalam karyanya Einige Arten zu lieben (Beragam Cara Untuk Mencintai, 2025), menggambarkan betapa rapuhnya kehidupan ketika dihadapkan pada pengalaman ekstrem: kehilangan, kegilaan, kesepian, hingga cinta yang tak terbalas.

Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan bukanlah benteng baja, melainkan jalinan halus antara harapan dan ketidakpastian. Fragilitas ini, meski sering disembunyikan di balik ambisi modern, selalu menjadi bayangan setia yang mengikuti langkah kita.

Advertisement

Sejarah modern membuktikan bahwa kerapuhan itu nyata, bukan sekadar gagasan sastra. Pandemi COVID-19, misalnya, menelan lebih dari 6,9 juta jiwa di seluruh dunia (WHO, 2023) dan meluluhlantakkan sistem kesehatan global yang kita anggap kokoh. Perubahan iklim memperlihatkan wajah ekstremnya melalui gelombang panas yang menewaskan lebih dari 61.000 orang di Eropa pada musim panas 2022 (The Lancet, 2023).

Konflik bersenjata, dari Ukraina hingga Gaza, tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga menorehkan luka psikis yang diwariskan lintas generasi. Dalam setiap krisis ini, kita berhadapan kembali dengan fakta sederhana: manusia rapuh.

Namun, paradoks kerapuhan justru terletak pada potensinya melahirkan daya lenting. Psikologi kontemporer menyebutnya post-traumatic growth—kemampuan individu atau komunitas untuk menemukan makna baru, bahkan setelah pengalaman ekstrem yang mengguncang (Tedeschi & Calhoun, 2004).

Jepang yang luluh lantak oleh tsunami 2011 menunjukkan bagaimana trauma kolektif dapat melahirkan sistem mitigasi bencana yang lebih canggih dan solidaritas sosial yang lebih kuat. Demikian pula, pandemi mempercepat inovasi dalam sains, mulai dari pengembangan vaksin mRNA hingga sistem kerja hibrida yang kini mendefinisikan ulang produktivitas.

Mew seolah berbisik dari abad lalu: dalam mengakui kerapuhan, kita menemukan alasan untuk berbelas kasih. Krisis global yang kita hadapi hari ini bukan hanya ujian teknis atas kemampuan kita bertahan hidup, melainkan juga ujian moral: apakah kita mampu merawat satu sama lain ketika dunia berada di ambang runtuh?

Advertisement

Dalam dunia yang dipenuhi algoritma, kecerdasan buatan, dan kompetisi tanpa henti, pesan ini menjadi relevan: kekuatan sejati tidak lahir dari penyangkalan atas kerentanan, melainkan dari keberanian untuk mengakuinya.

Maka, kerapuhan bukanlah akhir, melainkan pintu masuk menuju kemanusiaan yang lebih utuh. Dari pengalaman ekstrem, baik sakit, kehilangan, maupun bencana kolektif, lahirlah kesempatan untuk membangun peradaban yang lebih berempati.

Jika Mew menulis tentang cinta yang getir dan kehilangan yang tak tertahankan, dunia kita hari ini menulis kisah lain: tentang bagaimana kerentanan bersama dapat menjadi fondasi bagi solidaritas baru. Dan mungkin, di situlah letak daya tahan kita yang sejati.

Kerentanan Kolektif dalam Bayang-Bayang Ketidakadilan

Kerapuhan itu tidak hanya hadir dalam bentuk bencana global atau pengalaman personal. Di Indonesia, ketidakpastian ekonomi dan politik menunjukkan wajah lain dari kerentanan manusia. Inflasi yang menekan harga kebutuhan pokok, keterbatasan lapangan kerja, dan melemahnya daya beli membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin rapuh.

Bagi banyak keluarga, sekadar memenuhi kebutuhan dasar sudah menjadi perjuangan yang melelahkan. Dalam kondisi seperti ini, eksistensi manusia diuji bukan hanya oleh bencana alam atau pandemi, tetapi juga oleh sistem sosial-ekonomi yang goyah.

Kerapuhan yang bersumber dari kondisi sosial-ekonomi tersebut juga memengaruhi cara manusia memandang masa depan. Ketika pendapatan tidak menentu dan kesempatan kerja semakin terbatas, banyak orang hidup dalam kecemasan yang berkepanjangan.

Rencana-rencana jangka panjang, seperti pendidikan, kepemilikan rumah, atau persiapan masa tua, sering kali harus ditunda demi memenuhi kebutuhan hari ini. Situasi ini menunjukkan bahwa kerentanan bukan sekadar persoalan individu, melainkan juga hasil dari struktur sosial yang membentuk dan membatasi pilihan hidup manusia dalam menghadapi ketidakpastian.

Gelombang demonstrasi yang dimotori oleh mahasiswa yang terjadi pada minggu-minggu ini adalah refleksi nyata dari kerapuhan itu. Rakyat dan mahasiswa yang merasa tidak didengar turun ke jalan, menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil.

Pemandangan ini mengingatkan kita bahwa rapuhnya kehidupan bukan sekadar soal individu, melainkan juga soal relasi antara warga dan negara. Ketika kepercayaan publik retak, maka jalinan sosial yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber ketegangan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas sosial tidak pernah dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen. Ia harus terus dirawat melalui dialog yang terbuka, kebijakan yang responsif, dan kesediaan pemerintah untuk mendengar aspirasi masyarakat.

Demonstrasi, dalam konteks ini, bukan hanya bentuk penolakan, melainkan juga sinyal bahwa terdapat jarak yang semakin lebar antara harapan publik dan tindakan negara. Jika sinyal itu diabaikan, ketegangan berisiko berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih dalam dan sulit dipulihkan kembali.

Di balik hiruk pikuk politik dan protes sosial, tersimpan paradoks yang sama: kerentanan kolektif dapat memunculkan daya lenting baru. Demonstrasi, meskipun tampak sebagai gejolak, juga bisa dibaca sebagai ekspresi pencarian makna bersama—suara rakyat yang ingin membangun tatanan yang lebih adil dan transparan. Di sini, kerapuhan tidak hanya menjadi beban, tetapi juga peluang untuk merumuskan ulang kontrak sosial antara pemerintah dan masyarakat.

Selain itu, ketika masyarakat dan negara mampu mengelola ketegangan tersebut melalui dialog yang terbuka, krisis dapat bertransformasi menjadi momentum pembelajaran politik yang berharga. Pengalaman menghadapi perbedaan kepentingan mendorong lahirnya mekanisme partisipasi yang lebih inklusif serta pengawasan publik yang lebih kuat.

Dengan demikian, stabilitas tidak lagi dipahami sebagai ketiadaan konflik, melainkan sebagai kemampuan bersama untuk mengelola perbedaan secara konstruktif. Dari proses inilah, kepercayaan publik dan legitimasi institusi dapat tumbuh kembali secara lebih kokoh dan berkelanjutan.

Sebagaimana yang diingatkan Charlotte Mew, pengakuan atas kerentanan dapat membuka ruang bagi belas kasih dan solidaritas. Dalam konteks Indonesia hari ini, keberanian untuk mengakui rapuhnya sistem politik dan ekonomi justru bisa menjadi titik awal pembaruan.

Dari kegelisahan rakyat, dari teriakan di jalan-jalan, kita dapat menemukan potensi lahirnya kesadaran kolektif yang lebih matang. Dan barangkali, di situlah jalan menuju bangsa yang tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dalam keutuhan kemanusiaannya.

***

*) Oleh : Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia