Dari Laut Merah ke Karbala: Refleksi 10 Muharam dalam Pusaran Geopolitik Modern
Kemenangan sejati bukanlah tentang siapa yang bertahan dalam perang, melainkan siapa yang tetap tegak berdiri ketika segala kezaliman mencoba meruntuhkannya.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
KEDIRI – 10 Muharram bukan sekadar tanggal dalam kalender Hijriah. Ia adalah simpul sejarah yang mempertemukan dua kisah besar, keselamatan Nabi Musa dari kejaran tirani, dan pengorbanan cucu tercinta nabi Muhamad, Sayyidina Husain di Karbala. Dua peristiwa yang berbeda akhir, namun satu pesan: bahwa kebenaran tidak pernah tunduk pada kezaliman
Peristiwa terbelahnya Laut Merah merupakan puncak dari kezaliman Firaun terhadap Bani Israil. Penindasan yang berlangsung lama mulai dari kerja paksa hingga pembunuhan menunjukkan bagaimana kekuasaan sering kali bertumpu pada ketidakadilan. Ketika Nabi Musa datang membawa kebenaran, Firaun tidak berubah, melainkan semakin keras mempertahankan kekuasaannya.
Namun di titik paling terdesak, saat Bani Israil terjebak di tepi laut dan dikejar Firaun dan pasukannya, pertolongan datang dengan cara yang tak terduga. Laut terbelah, membuka jalan keselamatan, sementara Firaun dan pasukannya tenggelam. Kisah ini menegaskan bahwa kezaliman, sekuat apa pun, pada akhirnya akan runtuh, dan kebenaran akan menemukan jalannya
Dari laut merah kita tengok ke Karbala, Tragedi Karbala mencapai puncaknya pada 10 Muharram, ketika Imam Husain bersama keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 70 an dikepung oleh 4000 pasukan Yazid . Mereka tidak hanya dihadang, tetapi juga diputus akses airnya selama berhari-hari di tengah panas gurun. Dalam kondisi lapar dan haus, Husain tetap menolak tunduk pada kekuasaan yang ia anggap tidak adil.
Pertempuran yang tidak seimbang itu berakhir dengan gugurnya Husain dan para pengikutnya. Bahkan setelah wafat, tubuhnya diperlakukan secara tidak manusiawi; kepalanya dipisahkan dan dibawa sebagai simbol kemenangan kekuasaan, sebuah tindakan yang menggambarkan puncak dehumanisasi dalam kezaliman. Namun justru dari peristiwa itulah lahir pesan abadi: bahwa kekuasaan bisa melukai tubuh, tetapi tidak mampu mematikan kebenaran yang diperjuangkan.
Dalam kontek geopolitik modern, Tindakan Amerika Serikat dan Israel membunuh Ayatollah Khamenei adalah bentuk kezaliman modern yang terang-terangan. Ini bukan sekadar perang, melainkan penghilangan nyawa pemimpin negara berdaulat tanpa dasar hukum yang sah. Perang terus berlanjut dan merenggut ribuan nyawa tak berdosa, anak-anak dan perempuan menjadi korban utama, sementara Israel melontarkan ancaman pembakaran Lebanon. Ini adalah sadisme yang dibungkus dalih keamanan.
Kemunafikan AS terlihat jelas, meneken gencatan senjata tapi membiarkan sekutunya terus menggila. Dunia seharusnya sadar, jika hari ini Iran yang jadi sasaran, besok bisa negara mana pun. Diam adalah pengkhianatan terhadap keadilan dan kemanusiaan.
Ironisnya, puluhan tahun embargo dan sanksi ekonomi yang menghimpit Iran justru gagal melumpuhkan bangsa ini. Dari himpitan itulah Iran bangkit menjadi adidaya teknologi dan militer yang disegani. Kegagalan AS dan Israel menghentikan Iran melalui embargo menjadi alasan frustrasi yang berujung pada tindakan biadab pembunuhan pemimpinnya, karena tidak sanggup mengalahkan Iran di medan perang ekonomi, maka mereka menempuh jalan kotor di luar hukum.
Namun di tengah gelapnya peperangan, MoU perdamaian yang telah diteken di bulan Muharam menjadi secercah harapan. Semoga perdamaian yang dimulai pada bulan Muharam yang penuh makna, menjadikan semangat perjuangan melawan kezaliman sebagai pelajaran berharga. Allah mengabulkan doa-doa kita agar perdamaian segera terwujud, kekejaman berakhir, dan bumi kembali dijaga oleh keadilan untuk seluruh umat manusia.
Setelah apa yang dialami Nabi Musa oleh Firaun, Yazid bin Muawiyah terhadap Husain cucu nabi, sejarah membuktikan bahwa kezaliman tak pernah abadi. Dalam geopolitik modern Iran telah menunjukkan kepada dunia bahwa embargo, sanksi, bahkan pembunuhan pemimpin sekalipun tidak akan memadamkan semangat juang sebuah bangsa yang berpegang pada kebenaran.
Kemenangan sejati bukanlah tentang siapa yang bertahan dalam perang, melainkan siapa yang tetap tegak berdiri ketika segala kezaliman mencoba meruntuhkannya. Iran menang bukan dengan perang simetris, tetapi dengan pola asimetris, memainkan selat hormuz, dengan drone dan senjata yang jauh lebih murah yang diriset puluhan tahun lamanya serta ketahanan, martabat, dan keimanan yang tak tergoyahkan. Semoga damai selamanya. (*)
***
*) Oleh : H. M. Ali Shodiqin, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Hasyim Asy'ari Kediri.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


