Advertisement
Kopi TIMES

Generasi Emas atau Generasi Lemas?

Generasi emas bukan sekadar mimpi dan bukan pula sebuah keniscayaan yang datang dengan sendirinya. Generasi Emas 2045 adalah cita-cita yang harus diperjuangkan bersama.

TIMES Indonesia,
Deni Darmawan
Deni Darmawan - Kopi Times
Generasi Emas atau Generasi Lemas?
Deni Darmawan, Akademisi Unpam, Da’i MUI Jakarta, Founder Kombis.id dan Islamic Religion Teacher at Intercultural School.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

JAKARTA Generasi emas 2045 menjadi roadmap perjalanan Indonesia menuju 1 abad 100 tahun kemerekaan. Namun, ditengah persoalan dan gempuran globalisasi dari berbagai tantangan zaman yang tak henti, mampukah Indonesia mewujudkan generasi emas yang unggul, produktif, kompeten dan berkarakter, atau sebaliknya, terhampas dan tergilas oleh tantangan zaman hingga rapuh pondasi moral dan karakter hingga menjadi generasi lemas dan cemas bahkan menjadi ampas. 

Ketika generasi saat ini tidak mampu melewati segala rintangan dari setiap problematika yang dilalui, Pertanyaannya adalah, apakah Indonesia benar-benar mampu mewujudkan generasi emas? Ataukah justru kita sedang berjalan menuju generasi lemas yang kehilangan arah di tengah derasnya arus perubahan?

Advertisement

Dari hasil pengamatan saya, konsep Indonesia Emas di tahun 2045 memiliki visi Indonesia maju untuk menjawab segala perubahan dan siap bersaing di pasar global yang semakin ketat dan kompetitif, oleh karena itu Indonesia harus melahirkan generasi yang unggul untuk menjawab segala tantangan dan perubahan zaman.

Namun bagaimana mungkin Indonesia berbicara tentang Indonesia Emas 2045 jika hari ini masih menghadapi krisis moral identitas, krisis literasi dan perundungan, maraknya judi online, penyalahgunaan narkoba, tawuran, korupsi yang semakin merajalela, dan problematika lainnya di kalangan generasi muda.

Tak bisa kita pungkiri, bahwa dalam setiap perjalanan mewujudkan generasi emas ada persoalan yang patut kita perhatikan dan ini menjadi cerminan kita semua agar lebih waspada dan melakukan pencegahan. Kita jangan menutup mata dari fakta yang kita lihat bahwa masalah datang silih berganti dan menyasar kepada generasi muda kita.

Dilansir dari Times Indonesia bahwa fenomena judi online (judol) terlihat nyata menyasar dan menyerang generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa. Mereka mudah tergiur oleh iklan judi online yang penuh dengan manupulatif.

Ancaman di dunia gital semakin serius karena terkena paparan konten negatif dari judol sampai konten pornografi. Bahkan anak usia 12 tahun dilaporkan meninggal karena kecanduan gim online karena fisiknya yang terus menurun.

Advertisement

Miris memang, ketika Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) merilis sebanyak 197.054 anak usia di bawah 20 tahun terlibat aktivitas judi online dengan total nilai deposit mencapai Rp293,4 miliar pada tahun 2024. Bahkan, usia 11 tahun sudah teridentifikasi melakukan transaksi judol.

Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, menurut BRIN dan BPS dari tahun 2023 pengguna Narkoba usia produktif sekitar usia 15-25 tahun sekitar 1, 73 persen atau sekitar 3,33 juta orang. Belum lagi pergaulan bebas menyebabkan meningkatnya kasus pernikahan usia dini, kehamilan diluar nikah, tawuran kerap terjadi di berbagai daerah karena dipicu oleh hal-hal yang sepele.Pergaulan bebas yang kebablasan. Hal ini terus menggerogoti fisik dan psikis generasi muda hingga hilang kompas hidup mereka.

Persoalan ini tidak hanya sebatas kenakalan remaja, tapi juga krisis moral dan nilai sehingga pondasi karakter generasi muda tak lagi kuat. Generasi muda saat ini tumbuh di era AI dan banjir informasi yang melimpah dari berbagai media sosial.

Munculnya budaya instan dan serba cepat tanpa mau menikmati proses panjang juga menjadi persoalan mental pada generasi muda. Asal viral tanpa melihat aspek moral selalu menjadi jalan pintas untuk terkenal tanpa memperdulikan nilai dan keselamatan. Mereka jadi kehilangan rasa empati dan rasa peduli antar sesama.

Membaca data tersebut, kita tidak boleh hanya menjadi penonton yang sibuk mengeluh dan protes. Data dan fakta tersebut harus menggerakkan kesadaran, bukan melahirkan keputusasaan. Melahirkan optimisme bukan pesimisme.

Di balik angka-angka itu terdapat anak-anak bangsa yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan ruang tumbuh yang positif. Jika tidak segera diantisipasi, bonus demografi yang digadang-gadang sebagai modal Indonesia Emas 2045 dapat berubah menjadi beban demografi yang menghambat kemajuan bangsa.

Jujur, inilah yang membuat saya khawatir dan waspada, bukan generasi emas yang kita wujudkan tapi generasi cemas hingga lemas, apalagi kalau jadi generasi ampas, seperti generasi yang tak berguna dan tak bermanfaat.

Dalam Islam, kita tidak boleh meninggalkan sebuah generasi dan keturunan yang lemah. Baca surat An-Nisa ayat 9. Jadilah generasi Rabbani yang taat kepada Allah, yang belajar dan mengajarkan kebaikkan. Konsep generasi Rabbani yaitu beriman, berilmu, berakhlak dan beramal ada di surat Ali-Imran ayat 79.

Namun, harapan selalu ada selama kita mau bergerak dan berkolaborasi. Membaca fakta dan data dari semua persoalan saat ini seharusnya tidak membuat kita menyerah, melainkan semakin sadar untuk bertindak. Anak-anak muda membutuhkan ruang yang positif untuk mengembangkan minat, bakat, kreativitas, dan potensinya. Mereka membutuhkan komunitas yang menginspirasi, lingkungan yang mendukung, serta figur teladan yang membimbing.

Salah satu ikhtiar yang saya dan kawan-kawan lakukan adalah adalah membangun komunitas dan wadah bernama Kombis.id (Komunitas Belajar Menulis Indonesia) untuk menginspirasi anak negeri dengan belajar bersama, berbagi ide dan gagasan, serta mengembangkan budaya literasi.

Dari komunitas tersebut lahir berbagai buku kolaboratif dan artikel yang bermanfaat untuk banyak orang, tidak hanya menjadi karya, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Selain itu, gerakan berbagi buku atau GEBBUK (Gerakan Berbagi Buku) terus dilakukan ke sekolah-sekolah di pelosok desa, pondok pesantren, majelis taklim, dan taman baca. Kegiatan sederhana ini menjadi ikhtiar menyalakan lilin-lilin harapan di tengah gelapnya tantangan zaman.

Sebagai bahan refleksi, Generasi Emas 2045 bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang masa depan. Apa yang kita lakukan sekarang adalah investasi untuk puluhan tahun yang akan datang. Sekecil apa pun tindakan positif yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar pada masa depan bangsa. Setidaknya, kita dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan dunia digital yang kita huni bersama.

Karena itu, solusi terbaik adalah bergerak bersama. Mari berkolaborasi menggagas program-program kreatif yang menarik minat generasi muda. Mari menghadirkan kegiatan yang menginspirasi, memberdayakan, dan membangun karakter bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Segala bentuk kemungkaran harus dicegah bukan hanya dengan larangan, tetapi juga dengan menghadirkan alternatif kegiatan yang lebih menarik dan bermakna. Nilai-nilai religius perlu ditanamkan di keluarga, sekolah, dan masyarakat melalui pembiasaan, keteladanan, konsistensi, serta lingkungan yang sehat dan mendukung.

Generasi emas bukan sekadar mimpi dan bukan pula sebuah keniscayaan yang datang dengan sendirinya. Generasi Emas 2045 adalah cita-cita yang harus diperjuangkan bersama. Dengan kolaborasi, kepedulian, dan gerakan nyata yang berkelanjutan, kita dapat melahirkan generasi yang unggul, produktif, kompeten, dan berkarakter. Jika kita hanya diam tanpa gerakan, maka bukan generasi emas yang kita wujudkan, tapi generasi lemas yang hilang pondasi moral dan karakter hingga hilang arah kompas kehidupan.

***

*) Oleh : Deni Darmawan, Akademisi Unpam, Da’i MUI Jakarta, Founder Kombis.id dan Islamic Religion Teacher at Intercultural School.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia