Jakarta: Ambisi Global, Persoalan Lokal
Ambisi menjadikan Jakarta sebagai kota global harus dimulai dari keberanian menyelesaikan persoalan-persoalan lokal yang selama ini masih mengganggu kehidupan sehari-hari warga.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
TANGERANG – Pemerintah Provinsi Jakarta memiliki ambisi besar menjadikan Jakarta sebagai kota global setelah status ibu kota negara berpindah ke Nusantara. Ambisi tersebut sah dan bahkan diperlukan. Sebagai pusat ekonomi nasional, pusat keuangan, dan salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, Jakarta memang memiliki modal untuk memainkan peran yang lebih besar dalam jaringan kota-kota dunia.
Namun, menjadi kota global bukanlah soal slogan, branding, atau pencantuman visi dalam dokumen pembangunan. Kota global adalah hasil dari kemampuan sebuah kota menyelesaikan persoalan-persoalan dasarnya secara konsisten dan berkelanjutan. Di sinilah Jakarta menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Hingga hari ini, persoalan sampah masih menjadi tantangan serius. Ribuan ton sampah dihasilkan setiap hari dan sebagian besar masih bergantung pada TPST Bantargebang. Selama bertahun-tahun, pendekatan yang dominan adalah mengangkut dan membuang sampah, bukan mengurangi sampah dari sumbernya. Akibatnya, volume sampah terus bertambah sementara kapasitas pengelolaannya semakin tertekan.
Persoalan lain dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru kota. Kabel utilitas yang semrawut masih mudah dijumpai. Trotoar yang dibangun dengan biaya besar masih sering beralih fungsi. Penataan utilitas bawah tanah belum merata. Di sejumlah wilayah, kualitas lingkungan permukiman masih jauh dari standar kota modern yang nyaman dan tertata.
Jakarta juga masih menghadapi persoalan sosial yang tidak sederhana. Tawuran antarkelompok warga masih berulang. Vandalisme terhadap fasilitas publik masih ditemukan. Stunting belum sepenuhnya teratasi. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan fisik belum selalu berjalan seiring dengan pembangunan kualitas manusia dan lingkungan sosial. Karena itu, ukuran keberhasilan Jakarta tidak boleh berhenti pada jumlah proyek yang dibangun, besarnya anggaran yang dibelanjakan, atau banyaknya program yang diluncurkan. Ukuran yang lebih relevan adalah apakah kota menjadi lebih bersih, lebih tertata, lebih aman, dan lebih nyaman dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam konteks ini, tantangan terbesar Jakarta sesungguhnya bukan kekurangan regulasi maupun kekurangan program. Jakarta memiliki cukup banyak aturan, cukup banyak institusi, dan cukup banyak anggaran. Tantangannya adalah memastikan seluruh sumber daya tersebut benar-benar menghasilkan perubahan yang dirasakan warga.
Persoalan ini berkaitan langsung dengan kualitas tata kelola pemerintahan. Kota global membutuhkan birokrasi yang profesional, responsif, berintegritas, dan berorientasi pada hasil. Semakin besar kota dan semakin besar anggaran yang dikelola, semakin tinggi pula tuntutan terhadap transparansi dan akuntabilitas.
Jakarta memang telah mencatat banyak kemajuan. Transportasi publik berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Berbagai ruang publik telah dibangun. Digitalisasi layanan pemerintahan juga semakin berkembang.
Semua capaian tersebut patut diapresiasi. Namun apresiasi tidak boleh menghilangkan kemampuan untuk melihat pekerjaan rumah yang masih tersisa. Justru karena Jakarta memiliki sumber daya yang besar, standar yang digunakan untuk menilai keberhasilannya harus lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
Kota global bukan sekadar kota yang mampu menarik investasi atau menyelenggarakan forum internasional. Kota global adalah kota yang mampu menghadirkan pelayanan publik yang baik, lingkungan yang bersih, tata ruang yang tertata, institusi yang dipercaya masyarakat, dan kualitas hidup yang dirasakan secara nyata oleh warganya.
Karena itu, ambisi menjadikan Jakarta sebagai kota global harus dimulai dari keberanian menyelesaikan persoalan-persoalan lokal yang selama ini masih mengganggu kehidupan sehari-hari warga. Sebab pada akhirnya, pengakuan internasional tidak akan banyak berarti apabila warga Jakarta sendiri masih harus berhadapan dengan masalah yang sama dari tahun ke tahun. Sebelum mencari pengakuan dunia, Jakarta perlu memastikan bahwa warganya terlebih dahulu merasakan kualitas hidup yang layak disebut berkelas dunia.
***
*) Oleh : Luqman Jalu, Praktisi.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


