Strategi Menguatkan Jejaring dan Kemandirian Sekolah Muhammadiyah
Sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya bertahan dengan kebesaran nama dan sejarah Persyarikatan. Nama besar Muhammadiyah harus diiringi dengan mutu yang nyata, layanan yang meyakinkan, program yang unggul, prestasi yang terlihat, serta tata kelola yang am
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
PADANG PANJANG – Sekolah hebat sering kali diukur dari gedung yang megah, prestasi yang banyak, atau jumlah murid yang besar. Ukuran tersebut tentu penting, karena gedung yang layak menunjukkan perhatian terhadap sarana pendidikan, prestasi mencerminkan kualitas pembinaan, dan tingginya jumlah murid menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat.
Namun, ukuran yang lebih mendasar dari sebuah sekolah hebat adalah kemampuannya untuk bertahan, berkembang, dan menjalankan program secara berkelanjutan. Sekolah yang baik bukan hanya mampu menyelenggarakan pembelajaran hari ini, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menyiapkan layanan pendidikan yang semakin bermutu pada masa depan.
Bagi sekolah Muhammadiyah, persoalan kemandirian menjadi sangat penting. Sebagai lembaga pendidikan yang dikelola oleh Persyarikatan, sekolah tidak dapat semata-mata bergantung pada bantuan pihak lain.
Kesejahteraan guru, pengembangan sarana prasarana, pembinaan prestasi, penguatan program keislaman, hingga peningkatan kualitas layanan kepada orang tua memerlukan perencanaan dan kemampuan finansial yang baik.
Karena itu, sekolah Muhammadiyah harus mampu membangun tiga kekuatan utama, yaitu: meningkatkan jumlah murid, memperluas jejaring, dan mengembangkan unit usaha. Ketiganya bukan program yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan strategi untuk membangun sekolah yang mandiri, dipercaya masyarakat, dan terus bertumbuh. Murid memberi kekuatan operasional. Jejaring membuka peluang. Unit usaha menopang kemandirian.
Philip Kotler dan Karen F. A. Fox menjelaskan bahwa pemasaran dalam lembaga pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada promosi atau pencarian murid baru. Pemasaran pendidikan harus dipahami sebagai upaya meningkatkan efektivitas lembaga melalui pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat, penguatan mutu layanan, dan komunikasi yang tepat tentang keunggulan lembaga.
Meningkatkan Jumlah Murid
bukan berarti sekolah hanya mengejar angka. Jumlah murid yang bertumbuh seharusnya menjadi hasil dari mutu program, layanan yang baik, kepemimpinan yang meyakinkan, serta kepercayaan masyarakat yang terus dijaga.
Untuk memperoleh murid yang cukup dan terus bertumbuh, sekolah harus mampu membangun kepercayaan masyarakat. Kepercayaan tidak lahir hanya dari brosur penerimaan murid baru atau promosi menjelang tahun ajaran baru. Kepercayaan tumbuh dari pengalaman masyarakat ketika melihat, mendengar, dan merasakan kualitas sebuah sekolah.
Jejaring sebagai Kekuatan Pengembangan Sekolah
Membangun jejaring merupakan strategi penting untuk memperluas peluang, memperoleh dukungan, meningkatkan kompetensi SDM, dan membuka akses yang lebih luas bagi murid. Jejaring dapat dibangun dengan Persyarikatan Muhammadiyah, Majelis Dikdasmen dan PNF, Kementerian Agama, dinas pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, perbankan syariah, media massa, alumni, orang tua, tokoh masyarakat, lembaga filantropi, serta mitra nasional dan internasional.
Joyce L. Epstein melalui kerangka school, family, and community partnerships menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Kerangkanya mencakup pengasuhan, komunikasi, kerelawanan, pembelajaran di rumah, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, dan kolaborasi dengan masyarakat.
Dalam konteks sekolah Muhammadiyah, orang tua tidak boleh hanya diposisikan sebagai pembayar biaya pendidikan. Mereka adalah mitra strategis dalam mendukung pembinaan karakter, prestasi, kedisiplinan, dan promosi lembaga. Demikian pula alumni tidak boleh hanya dikenang pada saat kegiatan reuni, tetapi perlu dilibatkan sebagai mentor, pemberi beasiswa, narasumber, penghubung dunia kerja, dan promotor sekolah di tengah masyarakat.
Jejaring juga tidak cukup diukur dari banyaknya MoU yang ditandatangani. Jejaring harus menghasilkan program nyata. Kerja sama dengan perguruan tinggi dapat menghasilkan dosen tamu, pembinaan riset, try out, pelatihan guru, dan akses studi lanjut.
Kerja sama dengan dunia usaha dapat membuka peluang magang, beasiswa, kunjungan industri, serta dukungan sarana. Kerja sama dengan media dapat memperluas publikasi prestasi dan program unggulan sekolah. Jejaring yang produktif adalah jejaring yang membawa manfaat langsung bagi murid, guru, orang tua, dan lembaga.
Unit Usaha sebagai Penopang Kemandirian
Selain jumlah murid dan jejaring, sekolah juga perlu membangun unit usaha yang sehat. Unit usaha bukan berarti sekolah berubah menjadi lembaga bisnis. Unit usaha adalah ikhtiar untuk membangun sumber pendapatan tambahan yang halal, profesional, dan bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan.
Bentuk unit usaha dapat disesuaikan dengan potensi masing-masing sekolah. Misalnya, kantin sehat dan halal, koperasi, percetakan, laundry, toko kebutuhan santri, usaha pertanian atau peternakan, katering, produksi seragam, penyewaan aula, kursus bahasa, pelatihan komputer, bimbingan belajar, hingga produksi konten digital.
Peter F. Drucker memandang inovasi dan kewirausahaan sebagai praktik yang disengaja dan sistematis, bukan sekadar keberanian mengambil risiko atau munculnya ide spontan. Karena itu, usaha yang dibangun oleh sekolah harus berangkat dari kebutuhan nyata, potensi pasar, kemampuan SDM, serta tata kelola yang jelas.
Unit usaha sekolah harus memenuhi beberapa prinsip. Pertama, halal dan sesuai dengan nilai Islam serta karakter Muhammadiyah. Kedua, dikelola secara transparan dan akuntabel. Ketiga, memiliki manajemen yang profesional dan tidak bercampur dengan kepentingan pribadi.
Keempat, tidak mengganggu fokus utama sekolah sebagai lembaga pendidikan. Kelima, hasilnya diarahkan untuk memperkuat mutu program, kesejahteraan SDM, beasiswa murid, serta pengembangan sarana pembelajaran.
Di sisi lain, unit usaha dapat menjadi laboratorium kewirausahaan bagi murid. Mereka dapat belajar tentang tanggung jawab, pelayanan, pengelolaan keuangan, kreativitas, kerja sama, dan inovasi. Dengan demikian, unit usaha tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga memberi nilai pendidikan.
Sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya bertahan dengan kebesaran nama dan sejarah Persyarikatan. Nama besar Muhammadiyah harus diiringi dengan mutu yang nyata, layanan yang meyakinkan, program yang unggul, prestasi yang terlihat, serta tata kelola yang amanah. Karena itu, membangun sekolah Muhammadiyah harus dilakukan secara menyeluruh.
Bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun kepercayaan. Bukan hanya menyusun program, tetapi memastikan program menghasilkan dampak. Bukan hanya menandatangani kerja sama, tetapi memastikan jejaring melahirkan manfaat. Bukan hanya mencari pembiayaan, tetapi juga menciptakan kemandirian.
***
*) Oleh : Dr. Derliana, MA., Mudir Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang Sumatera Barat.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


