Membuka Gerbang Ilmuan Muslim Kelas Dunia
Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan Muslim yang mampu berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan identitas keislamannya. Dan dari sebuah lembaga pendidikan di Jambi, harapan itu kini mulai
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Tangerang Selatan – Siapa yang tidak bermimpi menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir? Kampus yang telah berdiri lebih dari seribu tahun itu bukan hanya dikenal sebagai salah satu universitas tertua di dunia, tetapi juga menjadi pusat peradaban Islam yang melahirkan banyak ulama, pemikir, akademisi, negarawan, hingga tokoh-tokoh berpengaruh di berbagai belahan dunia. Bagi banyak keluarga Muslim, Al Azhar bukan sekadar kampus, melainkan simbol keilmuan, tradisi intelektual, dan keberkahan.
Karena itu, kesempatan untuk bisa melanjutkan studi ke Al Azhar tanpa tes, tanpa harus menunggu masa penyetaraan bahasa selama satu tahun, tentu menjadi impian yang sangat berharga. Kesempatan tersebut bahkan terasa seperti pintu istimewa yang tidak dimiliki oleh semua orang. Namun siapa sangka, peluang itu sebenarnya terbuka bagi siapa saja yang menempuh pendidikan di lembaga yang telah diakui sebagai Cabang Resmi Al Azhar Asy Syarif di Indonesia.
Di Provinsi Jambi, kesempatan emas itu hadir melalui Diniyyah Al Azhar (DIAZ) Jambi. Lembaga pendidikan ini menjadi satu-satunya Cabang Resmi Al Azhar Asy Syarif di Provinsi Jambi sejak tahun 2019. Status tersebut bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan sebuah kepercayaan besar dari Al Azhar Mesir terhadap kualitas pendidikan yang dijalankan.
Tidak banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang memperoleh pengakuan serupa. Bahkan jumlahnya dapat dihitung dengan jari jika dibandingkan dengan ribuan pesantren dan sekolah Islam yang tersebar di seluruh Indonesia.
Banyak lembaga pendidikan Islam besar dan bersejarah yang selama ini dikenal luas masyarakat masih berstatus muadalah atau penyetaraan. Status tersebut memang memberikan pengakuan akademik, tetapi lulusannya tetap harus mengikuti sejumlah tahapan sebelum dapat melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar.
Berbeda dengan itu, lulusan dari Cabang Resmi Al Azhar memperoleh ijazah yang langsung diterbitkan dari Mesir dan ditandatangani oleh Imam Besar Al Azhar Asy Syarif. Dengan ijazah tersebut, mereka dapat melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar tanpa mengikuti tes masuk dan langsung memasuki perkuliahan sesuai ketentuan yang berlaku.
Tentu status sebagai Cabang Resmi Al Azhar tidak diperoleh secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui. Lembaga pendidikan harus menjalani berbagai tahapan penilaian, pelatihan, supervisi akademik, hingga penerapan kurikulum yang sesuai dengan standar Al Azhar Mesir. Sistem pembelajaran, materi ajar, hingga buku-buku yang digunakan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan.
DIAZ Jambi berhasil melewati seluruh proses tersebut. Sejak tahun 2019, lembaga ini mulai menerapkan kurikulum Al Azhar pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari SDIT, SMPIT hingga SMAIT. Konsistensi dalam menjaga kualitas pendidikan itulah yang kemudian membuahkan hasil.
Pada tahun 2023, lulusan DIAZ mulai diterima langsung melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar melalui jalur Cabang Resmi. Hingga tahun 2026, tercatat sekitar 30 lulusan DIAZ telah menempuh pendidikan di kampus prestisius tersebut.
Angka itu mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan makna besar. Sebab di balik angka tersebut terdapat puluhan anak bangsa yang berhasil menembus salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia.
Keberhasilan DIAZ Jambi juga menyimpan pesan penting bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh popularitas lembaga. Selama ini masyarakat sering mengenal pesantren-pesantren besar yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun. Namun perjalanan DIAZ menunjukkan bahwa kesungguhan, komitmen terhadap mutu, dan konsistensi dalam membangun pendidikan dapat mengantarkan sebuah lembaga meraih kepercayaan internasional.
Lebih menarik lagi, keberadaan Cabang Resmi Al Azhar di Jambi bukan hanya membuka peluang bagi anak-anak yang ingin menjadi ulama atau pendakwah. Universitas Al Azhar saat ini memiliki berbagai program studi yang sangat beragam, mulai dari kedokteran, psikologi, hukum, komunikasi, ekonomi, bisnis, hingga berbagai bidang ilmu lainnya.
Artinya, seorang siswa yang bercita-cita menjadi dokter dapat menempuh pendidikan kedokteran di Al Azhar dengan bekal pemahaman agama yang kuat. Seorang calon pengacara dapat belajar hukum sekaligus memahami syariat Islam secara mendalam. Seorang pebisnis dapat menguasai ilmu ekonomi modern tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual.
Inilah model pendidikan yang semakin dibutuhkan pada era modern. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki karakter, integritas, dan landasan moral yang kuat. Kemajuan teknologi tanpa nilai dapat melahirkan krisis kemanusiaan. Sebaliknya, nilai-nilai agama tanpa penguasaan ilmu pengetahuan juga akan membuat umat tertinggal dalam persaingan global.
Karena itu, integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman menjadi kebutuhan mendesak bagi masa depan bangsa. Kita membutuhkan dokter yang memiliki empati, pengusaha yang menjunjung etika, birokrat yang berintegritas, akademisi yang berakhlak, dan pemimpin yang memahami tanggung jawab moralnya kepada masyarakat.
Dalam konteks itulah, keberadaan DIAZ Jambi sebagai Cabang Resmi Al Azhar memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar status kelembagaan. DIAZ menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda Indonesia dengan tradisi keilmuan Islam dunia. Menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi yang menguasai ilmu pengetahuan modern sekaligus memiliki kedalaman spiritual.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan Muslim yang mampu berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan identitas keislamannya. Dan dari sebuah lembaga pendidikan di Jambi, harapan itu kini mulai tumbuh.
DIAZ Jambi bukan sekadar sekolah. Ia adalah gerbang menuju Al Azhar, sekaligus gerbang menuju lahirnya generasi Muslim Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan siap menjadi bagian dari peradaban dunia. (*)
***
*) Oleh : Rochmad Widodo, Praktisi.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


