Advertisement
Kopi TIMES

Rahasia Membangun Madrasah Yang Dilirik

Madrasah tidak bisa lagi hanya menunggu masyarakat datang. Madrasah harus hadir, dikenal, dipercaya, dan terus menunjukkan manfaatnya.

TIMES Indonesia,
Dr Derliana
Dr Derliana - Kopi Times
Rahasia Membangun Madrasah Yang Dilirik
Derliana, Mudir Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Padang Panjang Madrasah tidak bisa lagi hanya menunggu masyarakat datang. Madrasah harus hadir, dikenal, dipercaya, dan terus menunjukkan manfaatnya. Ketika Performance, Branding, Achievement, dan Show berjalan beriringan, promosi tidak lagi terasa sebagai upaya menjual lembaga.

Setiap tahun ajaran baru selalu menghadirkan suasana yang sama di banyak madrasah. Ada kepala madrasah yang bisa bernapas lega karena kuota peserta didik baru telah terpenuhi. Namun tidak sedikit pula yang masih dihantui kecemasan. Hari demi hari berlalu, sementara jumlah pendaftar belum juga sesuai harapan. Telepon terus berdering, media sosial tetap aktif, brosur sudah lama dibagikan, tetapi hasilnya belum tentu sesuai ekspektasi.

Advertisement

Pada titik ini, banyak kepala madrasah hanya bisa menunggu. Bukan lagi masa untuk gencar berpromosi, melainkan masa memetik hasil dari berbagai ikhtiar yang telah dilakukan selama berbulan-bulan. Sisanya adalah doa dan tawakal kepada Allah. Sebab pada akhirnya, rezeki setiap lembaga pendidikan telah ditentukan. Namun tawakal tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berbenah.

Persaingan dunia pendidikan hari ini jauh berbeda dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Masyarakat memiliki banyak pilihan. Orang tua tidak lagi memilih sekolah hanya karena faktor kedekatan lokasi atau nama besar semata. Mereka mulai membandingkan kualitas layanan, prestasi, karakter lulusan, hingga bagaimana sebuah madrasah membangun komunikasi dengan masyarakat.

Di sinilah peran kepala madrasah menjadi sangat menentukan. Kemajuan sebuah lembaga hampir selalu berawal dari kualitas kepemimpinannya. Kepala madrasah bukan sekadar administrator yang mengurus surat-menyurat atau memastikan kegiatan belajar berjalan sesuai jadwal. Ia adalah motor penggerak perubahan, sekaligus wajah pertama yang dinilai masyarakat ketika hendak mempercayakan pendidikan anak-anak mereka.

Menurut saya, ada satu pendekatan sederhana yang dapat menjadi arah pengembangan madrasah di era kompetisi saat ini, yaitu konsep PBAS: Performance, Branding, Achievement, dan Show. Empat unsur ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Yang pertama adalah Performance atau penampilan kualitas lembaga. Banyak orang mengira performance hanya berarti gedung yang megah atau seragam yang rapi. Padahal maknanya jauh lebih luas. Performance adalah pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat ketika berinteraksi dengan madrasah.

Advertisement

Performance dimulai dari kepala madrasah. Masyarakat ingin mengetahui siapa pemimpinnya, bagaimana visinya, bagaimana cara berkomunikasinya, serta sejauh mana komitmennya terhadap peningkatan mutu pendidikan. Karena itu, kepala madrasah perlu membangun personal branding yang lahir dari integritas, keteladanan, kemampuan memimpin, dan kedekatan dengan masyarakat. Popularitas bukan tujuan, tetapi kepercayaan publik adalah modal yang harus dibangun.

 Performance berikutnya hadir melalui guru dan tenaga kependidikan. Guru, staf administrasi, satpam, hingga petugas kebersihan merupakan representasi budaya madrasah. Keramahan saat menyambut tamu, kesantunan melayani orang tua, disiplin waktu, serta profesionalisme dalam bekerja sering kali lebih membekas daripada baliho promosi yang dipasang di pinggir jalan.

 Yang tidak kalah penting adalah performance para peserta didik. Sesungguhnya murid merupakan duta terbaik sebuah madrasah. Akhlaknya, cara berbicara, kedisiplinannya, semangat belajarnya, hingga prestasi yang diraih adalah promosi yang paling jujur. Ketika masyarakat melihat lulusan yang santun sekaligus berprestasi, mereka tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk menilai kualitas sebuah lembaga.

 Performance juga tercermin dari lingkungan belajar. Madrasah memang tidak harus memiliki bangunan bertingkat atau fasilitas mewah. Namun setiap lembaga harus mampu menghadirkan suasana yang bersih, hijau, indah, aman, dan sehat. Lingkungan yang nyaman akan membangun rasa bangga bagi peserta didik sekaligus menghadirkan keyakinan bagi orang tua.

 Setelah performance terbentuk, langkah berikutnya adalah Branding. Sayangnya, masih banyak lembaga pendidikan yang memahami branding hanya sebatas logo, slogan, atau desain media sosial. Padahal branding adalah identitas yang hidup di benak masyarakat.

 Madrasah perlu memiliki keunggulan yang jelas. Ada yang unggul dalam tahfiz Al-Qur'an, bahasa asing, riset, teknologi, kewirausahaan, olahraga, ataupun pendidikan karakter. Apa pun pilihannya, branding harus dibangun berdasarkan kekuatan nyata, bukan sekadar slogan pemasaran.

 Tidak ada gunanya mengklaim sebagai madrasah riset jika karya ilmiah peserta didiknya hampir tidak pernah lahir. Tidak tepat pula menyebut diri sebagai madrasah tahfiz apabila pembinaan hafalan Al-Qur'an berjalan seadanya. Branding yang kuat selalu lahir dari konsistensi program, bukan dari kalimat promosi.

 Selanjutnya adalah Achievement atau prestasi. Prestasi bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan. Ia harus direncanakan, dipetakan, dan dibina secara berkelanjutan. Madrasah perlu mengenali potensi guru dan peserta didiknya, kemudian menentukan bidang unggulan yang akan menjadi fokus pembinaan.

 Prestasi tidak harus selalu dimulai dari tingkat nasional. Justru budaya berprestasi dibangun dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang terus dipelihara hingga akhirnya mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Ketika prestasi lahir secara konsisten, branding lembaga akan semakin kuat dengan sendirinya.

 Unsur terakhir adalah Show, yaitu keberanian menunjukkan seluruh kebaikan yang dimiliki madrasah kepada publik. Banyak lembaga pendidikan sebenarnya memiliki program luar biasa, guru-guru yang berdedikasi, dan peserta didik yang berprestasi. Sayangnya, semua itu hanya diketahui oleh lingkungan internal.

 Di era digital, kebaikan yang tidak dipublikasikan sering kali dianggap tidak ada. Karena itu, setiap aktivitas positif perlu didokumentasikan dan disampaikan kepada masyarakat secara proporsional. Bukan untuk mencari pujian, melainkan membangun kepercayaan.

 Media sosial, website, video pendek, podcast, hingga media massa dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bagaimana proses pendidikan berlangsung setiap hari. Yang ditampilkan bukan sekadar seremoni, tetapi juga proses pembelajaran, pembiasaan ibadah, kegiatan literasi, prestasi siswa, inovasi guru, hingga kisah-kisah sederhana yang menginspirasi.

Keberhasilan sebuah madrasah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya spanduk yang terpasang menjelang penerimaan peserta didik baru. Kepercayaan masyarakat dibangun sepanjang tahun melalui kualitas pelayanan, budaya kerja, prestasi, dan komunikasi yang baik.

 Madrasah tidak bisa lagi hanya menunggu masyarakat datang. Madrasah harus hadir, dikenal, dipercaya, dan terus menunjukkan manfaatnya. Ketika Performance, Branding, Achievement, dan Show berjalan beriringan, promosi tidak lagi terasa sebagai upaya menjual lembaga. Sebaliknya, masyarakat sendirilah yang akan menjadi juru bicara terbaik bagi madrasah. (*)

***

 *) Oleh : Derliana, Mudir Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.

 *) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 *) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

 *) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

 *) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

 *) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia