Rumah Sakit, Prodi Kedokteran & PTNU
Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri memiliki tradisi besar dalam membangun peradaban melalui pendidikan dan pelayanan kepada umat.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Surabaya – Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia sedang memasuki fase baru yang ditandai oleh meningkatnya kebutuhan tenaga kesehatan, transformasi sistem layanan kesehatan, dan kompetisi antarperguruan tinggi dalam membangun keunggulan akademik.
Dalam konteks ini, Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) menghadapi momentum strategis untuk memperkuat perannya melalui pembukaan Program Studi Kedokteran yang terintegrasi dengan rumah sakit pendidikan. Namun, momentum tersebut hanya akan bermakna apabila dibangun di atas fondasi mutu, tata kelola, dan visi pelayanan publik, bukan semata-mata dorongan prestise institusi.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi ketimpangan distribusi dokter. Rasio dokter terhadap penduduk memang terus meningkat, tetapi masih berada di bawah rekomendasi ideal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sementara sebagian besar dokter masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan membuka ruang lebih besar bagi penguatan pendidikan kedokteran dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan. Situasi ini menghadirkan peluang sekaligus tanggung jawab bagi PTNU untuk mengambil bagian dalam menjawab kebutuhan bangsa.
Namun demikian, mendirikan Program Studi Kedokteran bukanlah sekadar memenuhi persyaratan administratif. Pendidikan kedokteran merupakan ekosistem yang kompleks, membutuhkan dosen berkualifikasi, laboratorium modern, rumah sakit pendidikan yang memadai, jejaring pelayanan kesehatan, sistem penelitian yang kuat, hingga budaya akademik yang menjunjung tinggi etika profesi. Tanpa seluruh prasyarat tersebut, pembukaan Prodi Kedokteran justru berpotensi melahirkan lulusan yang kurang kompetitif dan pada akhirnya merugikan masyarakat.
Di sinilah posisi rumah sakit menjadi sangat strategis. Rumah sakit bukan hanya tempat praktik klinik mahasiswa, melainkan pusat pembelajaran, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam berbagai negara maju, universitas dan rumah sakit berkembang sebagai satu ekosistem akademik yang saling memperkuat. Kualitas pendidikan kedokteran sangat ditentukan oleh kualitas rumah sakit pendidikan yang menjadi mitranya.
Bagi PTNU, pembangunan atau penguatan rumah sakit pendidikan seharusnya ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, bukan proyek jangka pendek. Rumah sakit yang sehat secara finansial, profesional dalam tata kelola, dan unggul dalam pelayanan akan menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa sekaligus sumber pendapatan yang menopang keberlanjutan institusi. Sebaliknya, rumah sakit yang lemah akan menjadi beban finansial sekaligus menghambat proses pendidikan.
Sebagai jaringan perguruan tinggi berbasis organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, PTNU memiliki modal sosial yang tidak dimiliki banyak institusi lain. Nahdlatul Ulama memiliki basis masyarakat luas, jaringan pesantren, rumah sakit, klinik, dan lembaga kesehatan yang tersebar di berbagai daerah.
Potensi ini merupakan keunggulan komparatif yang dapat ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif apabila dikelola melalui tata kelola modern, kolaborasi lintas institusi, serta perencanaan yang berbasis kebutuhan nasional.
Sayangnya, masih terdapat kecenderungan sebagian perguruan tinggi memandang pembukaan Prodi Kedokteran sebagai simbol peningkatan status kelembagaan. Perspektif seperti ini perlu dikoreksi. Prestise akademik tidak lahir dari banyaknya program studi, melainkan dari kualitas lulusan, produktivitas riset, kontribusi kepada masyarakat, serta reputasi institusi yang dibangun secara konsisten dalam jangka panjang.
Karena itu, PTNU perlu menghindari pendekatan yang bersifat ekspansif tanpa kesiapan. Yang lebih penting adalah membangun model pengembangan yang bertahap namun kokoh. Tahap pertama adalah memperkuat rumah sakit pendidikan melalui peningkatan mutu pelayanan, digitalisasi manajemen, akreditasi, serta pengembangan sumber daya manusia.
Tahap berikutnya adalah memperkuat kapasitas akademik melalui rekrutmen dosen, pengembangan laboratorium, peningkatan penelitian, dan kerja sama internasional. Setelah seluruh fondasi tersebut kuat, pembukaan Program Studi Kedokteran akan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil.
Lebih jauh lagi, PTNU dapat mengembangkan diferensiasi yang menjadi ciri khas pendidikan kedokterannya. Misalnya, mengintegrasikan ilmu kedokteran modern dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, etika pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kesehatan preventif, serta pendekatan kesehatan berbasis komunitas.
Model seperti ini relevan dengan karakter masyarakat Indonesia yang masih menghadapi tingginya penyakit tidak menular, masalah kesehatan ibu dan anak, stunting, hingga tantangan kesehatan lingkungan.
Dari perspektif ekonomi pendidikan, investasi pada rumah sakit pendidikan memang membutuhkan biaya besar. Namun investasi tersebut memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan. Rumah sakit menciptakan lapangan kerja, mendorong aktivitas ekonomi lokal, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memperkuat penelitian, hingga menjadi pusat inovasi teknologi kesehatan. Dalam jangka panjang, keberadaan rumah sakit pendidikan yang unggul juga meningkatkan daya saing perguruan tinggi dan memperkuat reputasi institusi di tingkat nasional maupun internasional.
Yang tidak kalah penting adalah tata kelola. Banyak rumah sakit mengalami kesulitan bukan karena kekurangan pasien, melainkan akibat lemahnya manajemen, rendahnya efisiensi operasional, serta minimnya inovasi. Oleh sebab itu, PTNU memerlukan kepemimpinan yang profesional, transparan, dan berbasis kinerja. Spirit pengabdian organisasi harus berjalan seiring dengan prinsip good university governance dan good hospital governance.
Keberhasilan PTNU membangun Program Studi Kedokteran tidak akan diukur dari seberapa cepat izin diperoleh, melainkan dari seberapa besar kontribusi yang diberikan kepada bangsa. Indonesia membutuhkan dokter yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki integritas moral, kepedulian sosial, kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi kesehatan, serta komitmen melayani masyarakat hingga daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga medis.
Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri memiliki tradisi besar dalam membangun peradaban melalui pendidikan dan pelayanan kepada umat. Tradisi tersebut harus diterjemahkan ke dalam strategi pengembangan pendidikan tinggi yang visioner, berbasis data, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.
Rumah sakit dan Program Studi Kedokteran bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas sekaligus mencetak generasi dokter yang berilmu, berakhlak, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Dengan demikian, agenda membangun rumah sakit pendidikan dan Program Studi Kedokteran di lingkungan PTNU semestinya tidak dipandang sebagai perlombaan mengejar gengsi kelembagaan. Ia adalah ikhtiar besar membangun ekosistem ilmu pengetahuan, pelayanan kesehatan, dan pengabdian sosial yang berkelanjutan.
Jika dilakukan dengan perencanaan matang, tata kelola yang profesional, dan komitmen terhadap mutu, PTNU berpeluang menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus melanjutkan khidmah Nahdlatul Ulama bagi Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


