Advertisement
Kopi TIMES

Saat Domino Menulis Ulang Takdirnya Menjadi Olahraga Berprestasi

Permainan Domino atau Gaplei tidak kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari budaya rakyat. Ia hanya menemukan panggung yang lebih besar di bawah naungan ORADO.

TIMES Indonesia,
Saat Domino Menulis Ulang Takdirnya Menjadi Olahraga Berprestasi
Rudi Mulya A, Kepala Biro TIMES Indonesia Surabaya Raya.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Ada masanya domino hanya dianggap permainan pengisi waktu. Permainan kartu dengan balok balok bulat yang hidup di sudut-sudut kampung, di gardu ronda, pos kamling, warung kopi, hingga teman begadang saat hajatan desa. 

Denting bangtingan kartu Domino atau dikenal juga sebagai permainan gaplei yang beradu menjadi penanda malam yang panjang, diselingi tawa, canda, bahkan sesekali perdebatan kecil saat permainan ini dimainkan oleh empat orang. 

Advertisement

Permainan Domino menjadi bagian dari budaya permainan kartu tradisional di masyarakat, tetapi jarang sekali memperoleh pengakuan sebagai aktivitas yang memiliki nilai olahraga. Pandangan itu kini mulai berubah.

Pada 21 Mei 2026, Pengurus Besar Olahraga Domino Nasional (PB ORADO) resmi diterima sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI di Jakarta. 

Pengesahan tersebut bukan sekadar keputusan administratif, melainkan pengakuan bahwa domino telah memenuhi unsur organisasi, pembinaan, dan sistem kompetisi sebagai cabang olahraga nasional yang dimiliki Indonesia.

Pengesahan Domino sebagai Olahraga dibawah Naungan ORADO memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar bergabungnya sebuah organisasi ke dalam keluarga besar KONI. Ia menjadi simbol bahwa Indonesia mulai berani mendefinisikan olahraga secara lebih luas. 

Bahwa olahraga tidak selalu identik dengan kekuatan otot, kecepatan berlari, atau tinggi lompatan. Ada olahraga yang mengandalkan kecermatan membaca situasi, kemampuan berhitung, daya ingat, pengendalian emosi, komunikasi antarpasangan, dan kecerdasan mengambil keputusan dalam hitungan detik. Di situlah domino menemukan identitas barunya.

Advertisement

Sebab, selama bertahun-tahun, domino sering kali terjebak dalam stigma. Tidak sedikit yang memandangnya sebelah mata karena dianggap identik dengan perjudian. Padahal, seperti halnya catur, bridge, atau olahraga berbasis strategi lainnya, penyimpangan terjadi bukan pada permainannya, melainkan pada cara sebagian orang memanfaatkannya. Menilai seluruh permainan domino hanya dari praktik-praktik negatif sama saja dengan menghakimi sebuah pisau semata-mata karena pernah digunakan untuk melukai orang.

Ketika ORADO membangun organisasi, menyusun regulasi, menghadirkan sistem pertandingan, melahirkan wasit, hingga melakukan pembinaan atlet muda di berbagai daerah, domino perlahan keluar dari bayang-bayang stigma tersebut. Ia memasuki ruang baru, yakni ruang prestasi.

Transformasi ini sesungguhnya menyimpan pelajaran sosial yang menarik. Banyak aktivitas masyarakat yang selama ini dianggap remeh ternyata memiliki potensi besar ketika dikelola secara profesional. Yang membedakan bukan jenis permainannya, melainkan tata kelola, integritas organisasi, dan kesungguhan membangun ekosistem.

Indonesia pernah menyaksikan bagaimana e-sports yang dahulu dianggap sekadar hobi bermain gim kini mampu melahirkan atlet nasional. Biliar yang dulu identik dengan hiburan malam kini menjadi cabang olahraga prestasi.

Domino sedang menapaki jalan yang serupa. Ia sedang membuktikan bahwa sesuatu yang lahir dari budaya rakyat dapat berkembang menjadi olahraga yang memiliki standar pembinaan modern.

Lebih dari itu, domino menyimpan nilai yang relevan dengan tantangan zaman. Permainan ini melatih konsentrasi, kemampuan berpikir beberapa langkah ke depan, kerja sama tim, hingga pengendalian psikologis ketika berada di bawah tekanan.

Dalam dunia yang semakin didominasi kecerdasan, kemampuan analitis, dan pengambilan keputusan cepat, keterampilan semacam itu justru menjadi modal penting.

Tentu perjalanan domino masih panjang. Pengakuan dari KONI bukanlah garis akhir, melainkan garis start. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah status resmi diperoleh.

ORADO harus memastikan bahwa pembinaan atlet berjalan merata, kompetisi berlangsung profesional, integritas pertandingan dijaga. Tanpa itu semua, status sebagai cabang olahraga hanya akan menjadi simbol tanpa substansi.

Namun, bila momentum ini mampu dijaga, bukan mustahil Indonesia akan melahirkan atlet-atlet domino yang mampu berbicara di level internasional. Sebab, bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan pemain berbakat. Yang selama ini kurang hanyalah panggung, sistem, dan pengakuannya saja.

Barangkali inilah ironi sekaligus keindahan sejarah. Permainan yang dahulu akrab dengan bangku bambu di pos ronda, lampu temaram gardu kampung, dan keramaian hajatan desa, kini telah memasuki ruang-ruang resmi olahraga nasional.

Domino tidak berubah menjadi mulia karena kartunya berbeda. Domino berubah karena cara masyarakat memandang, mengelola, dan menghargainya telah berubah menjadi Cabang Olahraga dibawah naungan ORADO.

Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya sebuah olahraga lahir, bukan ketika ia dimainkan oleh banyak orang, melainkan ketika ia berhasil membangun karakter, prestasi, dan peradaban.

Permainan Domino atau Gaplei tidak kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari budaya rakyat. Ia hanya menemukan panggung yang lebih besar di bawah naungan ORADO.

Dari gardu ronda menuju arena pertandingan, dari hiburan begadang malam menjadi olahraga prestasi. Kini, gaple telah naik kelas menjadi olahraga domino membuktikan bahwa tradisi pun mampu melahirkan prestasi ketika dikelola dengan visi, integritas, dan pembinaan yang benar.

***

*) Oleh : Rudi Mulya A, Kepala Biro TIMES Indonesia Surabaya Raya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Hainor Rohman
PenulisHainor RohmanMagister Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2023. Sebagai Editor Kopi TIMES dan meliput berbagai topik, termasuk Pendidikan, Politik, Ekonomi, Kesehatan, Kebudayaan, dan Isu Nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia