Advertisement
Kopi TIMES

AI dan Makna Kun Fayakun

AI tidak membuat saya semakin takjub kepada mesin. AI justru membuat saya semakin memahami mengapa hanya Sang Pencipta yang berhak berfirman, "Kun, fayakun."

TIMES Indonesia,
Luqman Jalu
Luqman Jalu - Kopi Times
AI dan Makna Kun Fayakun
Luqman Jalu, Praktisi.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Kota Tangerang Banyak orang memandang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai puncak kemampuan manusia. Saya justru sampai pada kesimpulan yang berbeda. Semakin saya memahami cara AI bekerja, semakin saya menyadari bahwa teknologi secanggih apa pun tidak pernah mendekati makna kun fayakun. Sebaliknya, AI justru memperlihatkan betapa mutlaknya perbedaan antara kreasi manusia dan penciptaan Sang Pencipta.

Kesadaran itu muncul dari sesuatu yang sangat sederhana. Setiap kali menggunakan AI, selalu ada urutan yang sama. Mula-mula muncul gagasan dalam pikiran. Gagasan itu kemudian diterjemahkan menjadi perintah atau prompt. Setelah itu, sistem bekerja dan menghasilkan tulisan, gambar, atau bentuk lain sesuai perintah yang diberikan.

Advertisement

Urutan tersebut mengingatkan saya pada struktur yang dikenal dalam Al-Qur'an ketika menggambarkan kehendak Sang Pencipta: ada kehendak, ada perintah, lalu ada hasil. Kemiripan pola ini memang menarik. Namun justru pada titik ketika keduanya tampak serupa, kita harus berhati-hati agar tidak menarik kesimpulan yang keliru.

AI tidak pernah berada pada posisi "Kun". Kehendak tetap berada pada manusia yang memberikan perintah. AI hanyalah penghubung yang mengolah perintah itu menjadi keluaran. Mesin tidak menentukan tujuan. Ia tidak memiliki kehendak. Ia bekerja sejauh ada instruksi yang diberikan kepadanya.

Dalam Al-Qur'an, kata "Kami" sering digunakan ketika Sang Pencipta menjelaskan proses penciptaan dan pengaturan alam yang berlangsung melalui berbagai tahapan. Manusia diciptakan melalui proses. Hujan turun melalui rangkaian hukum alam.

Semua berlangsung menurut ketetapan-Nya. Dalam pengertian inilah AI dapat dipahami sebagai bagian dari rangkaian sebab dan proses. Ia adalah alat yang bekerja di dalam sistem, bukan sumber kehendak yang memulai sistem. Di sinilah batas yang tidak boleh dilanggar.

Perenungan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyamakan AI dengan firman Sang Pencipta. Justru sebaliknya. Analogi tersebut hanya membantu memahami bahwa setiap proses yang melibatkan alat, tahapan, energi, dan waktu tetap berada dalam wilayah makhluk.

Advertisement

AI bekerja melalui pusat data, jaringan komputer, listrik, algoritma, serta pelatihan yang berlangsung bertahun-tahun. Untuk menghasilkan satu jawaban saja, dibutuhkan infrastruktur yang sangat besar. Meski demikian, hasilnya tetap dapat keliru, bias, atau tidak sesuai dengan maksud pengguna.
Di situlah letak pelajarannya.

Semakin rumit cara AI bekerja, semakin jelas bahwa seluruh kemampuannya bergantung pada sesuatu yang berada di luar dirinya. AI tidak menciptakan pengetahuan dari ketiadaan. Ia menyusun ulang informasi yang telah ada. Ia tidak menciptakan kehidupan. Ia tidak melahirkan satu makhluk pun.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa seluruh makhluk yang disembah selain Sang Pencipta tidak akan mampu menciptakan seekor lalat sekalipun, meskipun mereka bersatu melakukannya. AI mungkin mampu menghasilkan gambar lalat yang sangat realistis atau menjelaskan anatominya dengan rinci, tetapi ia tidak dapat menghadirkan satu lalat yang hidup. Di titik itulah saya menemukan makna yang sebelumnya tidak saya sadari.

Jika AI hanyalah penghubung bagi kehendak manusia, maka kehendak manusia sendiri sebenarnya juga bukan sumber yang berdiri sendiri. Kemampuan berpikir, bahasa, logika, dan pengetahuan yang melahirkan teknologi merupakan anugerah yang lebih dahulu diberikan kepada manusia.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa manusia hanya diberi sedikit pengetahuan, dan bahwa Sang Pencipta-lah yang mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya.

Rantai itu menjadi sangat jelas. AI bergantung pada manusia. Manusia bergantung pada ilmu yang dianugerahkan Sang Pencipta. Hanya Sang Pencipta yang tidak bergantung kepada apa pun.
Karena itu, semakin saya mengenal AI, semakin kecil alasan untuk menyombongkan kemampuan manusia.

Teknologi yang tampak luar biasa ternyata hanya mampu bekerja melalui rangkaian sebab yang panjang, rumit, dan bergantung pada begitu banyak syarat. Sementara itu, kun fayakun menggambarkan kemahakuasaan Sang Pencipta yang sama sekali tidak memerlukan alat, proses, ataupun perantara.

Bagi saya, di situlah letak pelajaran terbesar dari kecerdasan buatan. AI tidak mengurangi keimanan. Ia justru menjadi pengingat tentang batas kemampuan manusia. Semakin tinggi teknologi berkembang, semakin nyata bahwa ada jarak yang tidak mungkin dijembatani antara ciptaan manusia dan kuasa Sang Pencipta.

***

*) Oleh : Luqman Jalu, Praktisi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia