Model Pembelajaran Bahasa Inggris Multikultural SMP
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, bahasa, agama, dan budaya yang sangat kaya. Keberagaman tersebut tidak hanya tampak dalam kehidupan masyarakat
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Pembelajaran Bahasa Inggris dan Realitas Keberagaman di Sekolah
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, bahasa, agama, dan budaya yang sangat kaya. Keberagaman tersebut tidak hanya tampak dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga hadir secara nyata di ruang-ruang kelas. Di berbagai sekolah, khususnya pada jenjang SMP dan MTs, peserta didik datang dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Mereka membawa pengalaman, nilai, kebiasaan, serta cara pandang yang beragam ke dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, pembelajaran Bahasa Inggris saat ini tidak lagi dipahami hanya sebagai proses penguasaan kosakata dan tata bahasa. Bahasa Inggris telah berkembang menjadi sarana komunikasi global yang menuntut kemampuan berinteraksi dengan individu dari berbagai latar budaya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris idealnya tidak hanya mengembangkan kompetensi linguistik, tetapi juga membangun kesadaran terhadap keberagaman budaya.
Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian disertasi ini dilakukan untuk memahami bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris multikultural dilaksanakan di sekolah menengah pertama dan madrasah tsanawiyah di Kabupaten Banggai. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana keberagaman yang dimiliki peserta didik telah diakomodasi dalam proses pembelajaran, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Tema ini dipilih karena keberagaman sering kali hadir sebagai realitas yang tidak dapat dihindari dalam kelas, namun belum selalu diposisikan sebagai sumber belajar yang bernilai. Dalam banyak situasi, pembelajaran masih berorientasi pada pencapaian materi tanpa secara eksplisit mengintegrasikan dimensi budaya yang dimiliki siswa. Padahal, pengalaman budaya siswa dapat menjadi jembatan yang efektif untuk membangun pembelajaran yang lebih kontekstual, inklusif, dan bermakna.
Mengapa Menggunakan Pendekatan Kualitatif?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologi. Pemilihan pendekatan tersebut didasarkan pada tujuan penelitian yang tidak sekadar ingin mengetahui apa yang dilakukan guru, tetapi juga memahami bagaimana guru memaknai keberagaman dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Pembelajaran merupakan aktivitas yang kompleks dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui angka-angka statistik. Setiap guru memiliki pengalaman, pertimbangan, dan strategi yang berbeda ketika menghadapi kelas yang beragam. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang memungkinkan peneliti masuk ke dalam pengalaman nyata para guru untuk memahami praktik pembelajaran dari sudut pandang mereka sendiri.
Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini berupaya menangkap pengalaman hidup para guru dalam merancang pembelajaran, mengelola interaksi kelas, serta melakukan penilaian terhadap peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda. Pendekatan ini dipandang relevan karena mampu menghasilkan pemahaman yang mendalam mengenai praktik pembelajaran yang berlangsung secara alami dalam konteks sekolah.
Menelusuri Praktik Pembelajaran di Lapangan
Penelitian dilaksanakan pada sejumlah SMP dan MTs di Kabupaten Banggai. Proses pengumpulan informasi dilakukan melalui pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran, dialog mendalam dengan guru, serta penelaahan berbagai perangkat pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Selama proses penelitian, ditemukan bahwa sebagian besar guru telah menunjukkan kesadaran akan pentingnya keberagaman dalam pembelajaran. Kesadaran tersebut terlihat dari upaya guru mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman sehari-hari siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pandangan, serta menciptakan suasana belajar yang terbuka terhadap perbedaan.
Namun demikian, praktik pembelajaran yang ditemukan juga menunjukkan adanya variasi dalam tingkat penerapan nilai-nilai multikultural. Pada beberapa kelas, keberagaman telah dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang memperkaya diskusi dan interaksi. Akan tetapi, pada kelas lainnya, keberagaman masih lebih banyak berfungsi sebagai latar sosial yang belum sepenuhnya diintegrasikan ke dalam strategi pembelajaran secara sistematis. Temuan lain menunjukkan bahwa aspek evaluasi pembelajaran masih menjadi bagian yang relatif kurang mendapatkan perhatian dalam perspektif multikultural. Penilaian umumnya masih berfokus pada capaian akademik siswa, sementara dimensi seperti kemampuan bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menunjukkan sikap inklusif belum secara optimal menjadi bagian dari proses asesmen.
Merumuskan Model Pembelajaran Bahasa Inggris Multikultural
Salah satu hasil utama dari penelitian ini adalah lahirnya sebuah model pembelajaran yang dirancang berdasarkan praktik nyata guru di lapangan. Model tersebut diberi nama IMEL (Integrative Multicultural English Learning) Model. Model IMEL dikembangkan melalui proses analisis dan sintesis terhadap berbagai praktik baik yang ditemukan selama penelitian. Model ini dirancang untuk membantu guru mengintegrasikan dimensi budaya ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris secara lebih sistematis.
IMEL Model menempatkan pengalaman dan konteks budaya siswa sebagai titik awal pembelajaran. Selanjutnya, pembelajaran diarahkan pada proses eksplorasi makna, interaksi yang inklusif, pengembangan kemampuan berbahasa, serta refleksi terhadap pengalaman belajar yang telah dilakukan. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya berfungsi sebagai sarana penguasaan bahasa, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kesadaran multikultural. Keunggulan model ini terletak pada sifatnya yang kontekstual karena lahir dari realitas praktik pembelajaran yang terjadi di sekolah. Dengan demikian, model yang dihasilkan tidak hanya memiliki dasar teoritis, tetapi juga memiliki relevansi praktis yang kuat bagi guru.
Kontribusi Penelitian bagi Pendidikan
Penelitian ini memberikan beberapa kontribusi penting. Dari sisi akademik, penelitian ini memperkaya kajian mengenai pembelajaran Bahasa Inggris multikultural di Indonesia, khususnya pada jenjang SMP dan MTs yang selama ini masih relatif terbatas. Dari sisi praktis, hasil penelitian menawarkan kerangka yang dapat digunakan guru untuk mengelola pembelajaran secara lebih inklusif dan responsif terhadap keberagaman peserta didik. Model yang dihasilkan juga dapat menjadi referensi bagi sekolah dan pemangku kebijakan dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang selaras dengan tuntutan masyarakat multikultural. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah hambatan dalam pembelajaran. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi sumber belajar yang berharga apabila dikelola melalui pendekatan pedagogis yang tepat.
Harapan ke Depan
Keberagaman merupakan realitas yang akan terus hadir dalam dunia pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, pembelajaran yang menghargai perbedaan dan memberikan ruang yang setara bagi seluruh peserta didik menjadi kebutuhan yang semakin penting. Melalui penelitian ini diharapkan muncul kesadaran yang lebih luas bahwa pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, tetapi juga individu yang memiliki sikap terbuka, toleran, dan mampu berinteraksi secara positif dalam masyarakat yang plural. Ke depan, pengembangan pembelajaran Bahasa Inggris multikultural perlu terus dilakukan melalui kolaborasi antara guru, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga wahana untuk membangun generasi yang kompeten secara global tanpa kehilangan akar budaya dan identitas lokalnya.
***
*) Oleh: ST. Marhana Rullu, Mahasiswa Doktor Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


