Advertisement
Kopi TIMES

Antara Hukum dan Rasa, Disertasi Ungkap Kontruksi Sosial Orang Asli Papua Atas NKRI

Disertasi dilakukan melalui penelitian lapangan di Kab Jayapura, Keerom, Wamena, Kota Jayapura, Merauke, dan Manokwari dalam kurun waktu penelitian tahun 2024 hingga 2026

TIMES Indonesia,
Antara Hukum dan Rasa, Disertasi Ungkap Kontruksi Sosial Orang Asli Papua Atas NKRI
Udin Ramazakir, Mahasiswa Doktor SOSIOLOGI Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Disertasi dilakukan melalui penelitian lapangan di Kab Jayapura, Keerom, Wamena, Kota Jayapura, Merauke, dan Manokwari dalam kurun waktu penelitian tahun 2024 hingga 2026, dengan melibatkan Orang Asli Papua dari unsur tokoh adat, pemuka agama, dan pemuda sebagai subjek utama.

Latar Belakang Penelitian

Secara yuridis Papua telah menjadi bagian sah dari NKRI sejak Penentuan Pendapat Rakyat (1969), namun realitas tersebut tidak selalu identik dengan pengalaman subjektif masyarakat bahwa NKRI sudah menjadi bagian dalam kehidupannya secara internal ditandai dengan banyaknya narasi dan gerakan yang non NKRI. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan Papua tidak semata-
mata berada pada ranah legalitas, melainkan bagaimana NKRI dapat diinternalisasi dalam hidup sehari-hari. Untuk melihat hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang Konstruksi Sosial Orang Asli Papua atass NKRI.

Advertisement

Fokus Penelitian

Penelitian ini berjudul “Konstruksi Sosial Orang Asli Papua atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana OAP sebagai subjek sosial mengonstruksi, menafsirkan, dan menginternalisasi makna NKRI dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman hidup OAP dalam membentuk konstruksi sosial terhadap NKRI, mengidentifikasi konflik dan perbedaan makna yang muncul di antara mereka, serta menganalisis bagaimana status formal sebagai warga negara dinegosiasikan dengan pengalaman eksistensial yang mereka rasakan.

Metode Penelitian 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi hermeneutik. Informan penelitian adalah Orang Asli Papua dari berbagai latar belakang sosial di lima wilayah Adat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan secara interpretatif dengan menelusuri makna pengalaman hidup (lived experience) dalam kerangka konstruksi sosial, teori pengakuan, dan nasionalisme.

Hasil atau Temuan Utama 

Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruksi sosial Orang Asli Papua (OAP) atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bersifat tunggal, stabil, maupun final. NKRI hadir dalam kesadaran OAP sebagai makna yang terus dinegosiasikan melalui pengalaman hidup yang konkret. 

Terdapat perbedaan makna yang signifikan antarindividu dan antarkelompok, yang dibentuk oleh variasi pengalaman historis, posisi sosial, generasi, serta kedekatan atau jarak dengan aparatus negara.

Advertisement

Melalui dialog reflektif antara data empirik dan kerangka teori konstruksi sosial, pengakuan, serta nasionalisme, penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi makna NKRI di kalangan OAP bersifat rapuh dan tidak linear. Proses internalisasi dapat menguat dalam situasi tertentu, namun dapat pula melemah atau terputus ketika berhadapan dengan pengalaman kekerasan struktural, konflik ruang, atau kebijakan yang dirasakan tidak adil.

Manfaat dan Kontribusi 

Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian sosiologi kewarganegaraan dan nasionalisme dengan mengintegrasikan teori konstruksi sosial, teori pengakuan, dan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menegaskan bahwa legitimasi negara tidak hanya bergantung pada legalitas, tetapi juga pada rekognisi moral dalam pengalaman warga. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pemerintah dan pembuat kebijakan untuk merancang pendekatan yang lebih dialogis, empatik, dan berbasis pengakuan dalam pembangunan Papua. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik dan menciptakan relasi negara-warga yang lebih setara.

Harapan

Harapaan kedepan dari hasil penelitian ini adalah adanya manfaat bagi keberlangsungan kehidupan di Papua dalam pendekatan yang lebih humanis, pemerintah ataupun pihak terkait dapat melakukan prosses dialog untuk menyelesaiakan berbagai problematika yang masih terpendam, pemulihan memori historis dan penguatan ketahanan budaya, inovasi kebijakan berbasis
nilai dan kepercayaan sosial serta bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian lanjutan sehingga semakin melengkapi dan menyempurnakan temuan penelitian ini. Hasil disertasi ini direncanakan untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan menjadi rujukan dalam perumusan kebijakan yang lebih inklusif di Papua dan akan dibuatkan dalam buku ber-ISBN perpusnas. 

***

*) Oleh: Udin Ramazakir, Mahasiswa Doktor SOSIOLOGI Program Pascasarjana Universitas  Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id



Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia