Poros Tengah Menjaga Marwah NU
NU akan terus berdiri sebagai rumah besar umat Islam Indonesia yang teduh, inklusif, dan membawa kemaslahatan bagi bangsa.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Jakarta – Nahdlatul Ulama telah memasuki abad kedua. Ini bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momentum penting untuk menentukan arah perjalanan ke depan. Pada fase ini, NU tidak lagi dihadapkan pada tantangan mempertahankan eksistensi sebagaimana yang dialami para muassis pada masa awal berdiri.
Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menjaga persatuan, merawat marwah jam'iyah, serta memastikan seluruh potensi besar yang dimiliki tetap bergerak dalam satu tujuan: khidmah kepada umat.
NU hari ini memiliki sumber daya yang luar biasa. Kadernya tersebar di berbagai bidang, mulai dari ulama, akademisi, profesional, birokrat, pengusaha, hingga generasi muda yang aktif dalam berbagai ruang pengabdian.
Namun, sebesar apa pun potensi itu, ia tidak akan melahirkan kekuatan apabila tidak dipersatukan oleh semangat yang sama. Organisasi sebesar NU tidak boleh terjebak pada polarisasi, apalagi pertarungan kepentingan yang justru menguras energi internal.
Di sinilah pentingnya menghadirkan poros tengah. Bukan poros yang mengaburkan prinsip, melainkan poros yang menghidupkan kembali karakter asli Nahdlatul Ulama. Sejak didirikan pada 1926, NU tumbuh bukan melalui logika menang atau kalah, melainkan melalui musyawarah, ukhuwah, tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil). Nilai-nilai itulah yang menjadikan NU mampu bertahan hampir satu abad sekaligus menjadi organisasi Islam terbesar di dunia.
Dalam tradisi pesantren, kepemimpinan tidak pernah dimaknai sebagai kemampuan menguasai orang lain. Kepemimpinan justru dipahami sebagai kemampuan melayani, mengayomi, dan menyatukan. Seorang kiai dihormati bukan karena kekuasaan yang dimilikinya, tetapi karena keluasan ilmunya, keteduhan akhlaknya, serta keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai inilah yang menjadi ruh kepemimpinan NU sejak awal berdiri.
Sebagai cicit KH Irfan bin Musa dari Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, saya tumbuh dengan keyakinan bahwa adab adalah fondasi utama kepemimpinan. Ilmu dapat melahirkan kecerdasan, tetapi hanya adab yang mampu melahirkan kewibawaan. Sebab orang mungkin tunduk karena jabatan, tetapi mereka akan mengikuti karena keteladanan.
Karena itu, memasuki abad kedua, NU membutuhkan figur yang mampu menjadi titik temu berbagai kelompok. Pemimpin yang tidak hanya piawai berbicara di hadapan publik, tetapi juga mampu mendengar aspirasi warga jam'iyah. Pemimpin yang tidak sibuk membangun popularitas, tetapi bekerja dalam diam demi kemaslahatan organisasi.
Dalam pandangan saya, karakter seperti itu dapat ditemukan pada sosok Gus Gudfan Arif Ghofur. Ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan lebih nyaman bekerja daripada membangun pencitraan. Sebagai seorang saudagar, ia menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi bukanlah alat memperbesar pengaruh pribadi, melainkan sarana memperluas manfaat bagi umat. Sikap tersebut mengingatkan kita pada tradisi saudagar-santri yang sejak dahulu menjadi salah satu penopang kekuatan Nahdlatul Ulama.
Sejarah mencatat bahwa Ketua Umum PBNU pertama, KH Hasan Gipo, juga berasal dari kalangan saudagar. Beliau tidak hanya menyumbangkan pikiran, tetapi juga mengerahkan kemampuan ekonomi untuk menopang perjuangan NU pada masa-masa awal berdiri.
Dunia usaha baginya bukan sekadar ruang mencari keuntungan, melainkan instrumen pengabdian kepada jam'iyah. Warisan inilah yang menurut saya relevan untuk terus dihidupkan pada abad kedua NU.
Kesamaan semangat itu tampak pada cara Gus Gudfan memandang pengabdian. Ia memilih membangun komunikasi antarkiai, mempererat hubungan dengan kalangan akademisi, saudagar, santri, hingga generasi muda. Ia lebih banyak membangun jembatan daripada tembok, lebih memilih mempertemukan daripada mempertentangkan. Dalam organisasi sebesar NU, karakter seperti ini memiliki nilai strategis karena mampu menjaga ukhuwah di tengah beragam pandangan.
Tradisi NU sendiri sangat menghargai kerendahan hati. Dalam Risâlatul Mu'âwanah, Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan bahwa salah satu ciri orang yang tawadhu' adalah lebih menyukai tidak dikenal daripada mengejar kemasyhuran. Nilai ini sejalan dengan budaya pesantren yang mengajarkan bahwa keberhasilan pengabdian tidak selalu diukur dari sorotan publik, tetapi dari kebermanfaatan yang dirasakan umat.
Para ulama juga telah lama mengingatkan pentingnya sifat tawadhu' bagi seorang pemimpin. "Rendah hatilah ketika engkau memperoleh kedudukan di tengah manusia. Sesungguhnya orang yang paling tinggi derajatnya di suatu kaum adalah mereka yang rendah hati."
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika organisasi menghadapi dinamika yang semakin kompleks. NU tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar populer, tetapi pemimpin yang mampu menghadirkan keteduhan. Tidak hanya cakap mengelola organisasi, tetapi juga mampu menjaga hati seluruh warganya.
Tentu, memilih pemimpin NU bukan semata soal figur. Ia adalah ikhtiar menjaga keberlanjutan nilai-nilai yang diwariskan para muassis. Karena itu, siapa pun yang dipercaya memimpin harus mampu menempatkan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Jabatan hanyalah amanah, bukan tujuan.
Dalam konteks tersebut, poros tengah bukanlah kompromi terhadap prinsip, melainkan jalan untuk mengembalikan NU kepada watak aslinya sebagai rumah besar seluruh nahdliyin. Rumah yang mempersatukan ulama, santri, akademisi, profesional, saudagar, dan generasi muda dalam satu cita-cita besar: mengabdi kepada umat dan bangsa.
Harapan banyak warga NU kepada Gus Gudfan Arif Ghofur juga perlu dipahami dalam kerangka tersebut. Harapan itu bukan semata karena sosoknya, melainkan karena nilai-nilai yang dianggap melekat pada dirinya: kesederhanaan, kemampuan merangkul, pilihan bekerja dalam senyap, serta komitmen menjaga ukhuwah. Tentu saja, aspirasi ini tidak mewakili seluruh warga NU, tetapi menjadi bagian dari dinamika yang hidup di tengah jam'iyah.
Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mengutamakan pengabdian daripada ambisi, persaudaraan daripada persaingan, dan keteladanan daripada pencitraan. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa NU menjadi besar bukan karena kerasnya pertarungan internal, melainkan karena kokohnya persaudaraan yang diwariskan para ulama.
Poros tengah, dalam pengertian itu, bukan sekadar strategi organisasi. Ia adalah jalan menjaga marwah Nahdlatul Ulama. Ketika adab tetap menjadi panglima, ukhuwah menjadi fondasi, dan pengabdian menjadi orientasi, NU akan terus berdiri sebagai rumah besar umat Islam Indonesia yang teduh, inklusif, dan membawa kemaslahatan bagi bangsa. Di situlah warisan para muassis benar-benar hidup, dan di situlah pula abad kedua NU menemukan arah pengabdiannya.
***
*) Oleh : M Nadhim Ardiansyah, Cicit KH Irfan Bin Musa Pondok Apik Kaliwungu.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


