Advertisement
Kopi TIMES

Pesantren sebagai Ekosistem Pedagogis Holistik dalam Pendidikan Kesantunan Berbahasa

Habiburrahman, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, menyelesaikan penelitian disertasi berjudul Pendidikan Kesantunan Berbahasa di Kalangan Pondok Pesantren pada Juni 2026.

TIMES Indonesia,
Pesantren sebagai Ekosistem Pedagogis Holistik dalam Pendidikan Kesantunan Berbahasa
Habiburrahman, Mahasiswa Doktor Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Habiburrahman, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, menyelesaikan penelitian disertasi berjudul Pendidikan Kesantunan Berbahasa di Kalangan Pondok Pesantren pada Juni 2026. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, dengan fokus pada praktik kesantunan berbahasa santri dalam kehidupan pesantren.

Penelitian tersebut berangkat dari fenomena perubahan perilaku berbahasa generasi muda di era digital. Pola komunikasi yang cepat, ringkas, terbuka, dan banyak dipengaruhi media sosial dinilai turut membentuk cara remaja bertutur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa situasi, perubahan tersebut berpotensi menggeser kepekaan generasi muda dalam menjaga sopan santun kepada orang tua, guru, tokoh agama, maupun pihak yang memiliki otoritas moral.

Advertisement

Dalam konteks inilah, pesantren menjadi ruang penting untuk dikaji. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai lingkungan sosial, budaya, dan religius yang mempertahankan tradisi adab, penghormatan, kepatuhan, dan keteladanan melalui praktik komunikasi sehari-hari. Habiburrahman menempatkan Pondok Pesantren Darul Falah sebagai lokasi penelitian karena pesantren ini memiliki tradisi kepesantrenan yang kuat, berada di tengah dinamika masyarakat kota, serta tetap menjaga nilai kesantunan dalam relasi antara santri, ustaz, dan kiai.

Disertasi ini secara khusus mengkaji bentuk kesantunan berbahasa, pola pendidikan kesantunan, serta faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan budaya tutur santun di lingkungan pesantren. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana santri menggunakan bahasa ketika berinteraksi dengan santri yang lebih tua, sesama santri, ustaz, dan kiai. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengungkap bagaimana pesantren membentuk kesantunan berbahasa sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Dalam pelaksanaannya, Habiburrahman menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengintegrasikan etnografi komunikasi dan perspektif sosiopragmatik. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, teknik simak, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan kiai, ustaz, serta santri. Data tersebut kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, penafsiran, dan penarikan simpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa santri tampak melalui penggunaan ragam bahasa alus dalam bentuk sapaan, kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata tugas. Pemilihan bentuk bahasa tersebut tidak dilakukan secara acak, tetapi disesuaikan dengan usia, status sosial, kedekatan hubungan, dan kedudukan mitra tutur. Kesantunan juga tampak melalui aspek nonverbal dan paralinguistik, seperti menundukkan kepala, mengatur intonasi dan volume suara, menghindari kata kasar, serta menunjukkan sikap hormat ketika berkomunikasi dengan kiai maupun ustaz.

Salah satu temuan penting dalam disertasi ini adalah lahirnya konsep "maksim kepatuhan" dan "strategi kesantunan kepatuhan". Temuan ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya menggunakan bahasa untuk menghormati kiai, tetapi juga untuk menyatakan adab, ta’dzim, ketundukan, penerimaan, dan pengakuan terhadap otoritas keilmuan serta spiritual kiai. Dengan demikian, kesantunan berbahasa di pesantren tidak hanya dipahami sebagai fenomena linguistik, tetapi juga sebagai praktik sosial-religius yang berakar pada nilai keislaman dan budaya pesantren.

Advertisement

Penelitian ini juga menemukan bahwa pendidikan kesantunan berbahasa di pesantren dibentuk melalui enam pola utama, yaitu pembiasaan, keteladanan, pendampingan, pembatasan, pengawasan, dan sanksi edukatif. Keenam pola tersebut bekerja secara terpadu dalam membentuk karakter santri. Melalui pembiasaan, santri dilatih menggunakan bahasa santun dalam aktivitas harian. Melalui keteladanan, kiai dan ustaz menjadi model utama dalam bertutur. Sementara itu, pendampingan, pengawasan, pembatasan, dan sanksi edukatif menjadi mekanisme pembinaan agar nilai kesantunan terus terjaga.

Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sosiopragmatik, etnografi komunikasi, dan pendidikan karakter berbasis budaya religius. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi pesantren, sekolah, dan lembaga pendidikan dalam merancang pembinaan adab berbahasa yang lebih sistematis, kontekstual, dan berkelanjutan.

Habiburrahman berharap hasil penelitian ini dapat memperkuat peran pesantren sebagai pusat konservasi nilai kesantunan, adab, dan karakter Islami. Ke depan, temuan disertasi ini berpotensi dikembangkan menjadi artikel ilmiah, modul pembinaan adab berbahasa santri, serta model pendidikan karakter berbasis budaya tutur lokal-religius yang relevan bagi dunia pendidikan nasional.

***

*) Oleh: Habiburrahman, Mahasiswa Doktor Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia