Advertisement
Kopi TIMES

Cara Baru Memahami Perilaku Masyarakat Digital

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia hidup berdampingan dengan sesuatu yang mampu menjawab hampir semua pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memahami apa yang kita rasakan.

TIMES Indonesia,
Dr. Chusnul Rofiah, CIQaR.
Dr. Chusnul Rofiah, CIQaR. - Kopi Times
Cara Baru Memahami Perilaku Masyarakat Digital
Ilustrasi refleksi manusia di tengah perkembangan Artificial Intelligence.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Bandung Kita menyebutnya Artificial Intelligence (AI). Kehadirannya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita memintanya menyusun ide, mencari informasi, menerjemahkan dokumen, bahkan menjadi teman berdiskusi ketika membutuhkan jawaban dengan cepat. Tanpa disadari, AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu. Ia mulai menjadi bagian dari cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.

Perubahan itu berlangsung perlahan hingga sering kali tidak kita sadari. Pagi hari kita membuka telepon genggam sebelum menyapa keluarga. Kita memilih rute perjalanan berdasarkan aplikasi navigasi, mempercayai ulasan orang yang tidak pernah kita kenal sebelum membeli produk, atau berdiskusi dengan AI sebelum menentukan sebuah keputusan. Semua terasa biasa. Padahal, dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah cara hidup baru sedang terbentuk.

Advertisement

Ironisnya, perhatian kita justru lebih banyak tertuju pada kecanggihan teknologinya. Kita membicarakan algoritma yang semakin pintar, kemampuan AI yang terus berkembang, serta ledakan data yang dihasilkan setiap detik. Kita semakin mahir membaca perilaku manusia melalui angka, statistik, dan jejak digital. Namun, ada satu hal yang tidak pernah mampu dijelaskan oleh data.

Bayangkan seorang mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Dalam hitungan menit ia memperoleh referensi, menyusun kerangka berpikir, bahkan menemukan ide-ide baru. Tugasnya selesai lebih cepat. Namun, sebelum menutup laptop, muncul satu pertanyaan yang tidak pernah tercantum dalam rubrik penilaian: "Apakah ide ini masih benar-benar lahir dari cara berpikir saya?"

Pertanyaan seperti itu tidak akan pernah muncul dalam laporan analitik. Tidak ada algoritma yang mampu mengukur keraguan, rasa percaya diri, rasa ragu, atau pergulatan batin seseorang ketika berinteraksi dengan teknologi. Padahal, justru di sanalah pengalaman manusia berlangsung. Data mampu merekam apa yang kita lakukan, tetapi tidak pernah sepenuhnya menjelaskan apa yang kita rasakan.

Di sinilah paradoks besar era digital. Kita mengetahui semakin banyak tentang perilaku manusia, tetapi belum tentu semakin memahami manusianya. Teknologi semakin cerdas mengenali pola, sementara manusia justru semakin jarang berhenti untuk memahami pengalaman hidupnya sendiri.

Kegelisahan itulah yang mendorong saya mengembangkan sebuah perspektif yang saya sebut Cyber Phenomenology. Perspektif ini mengajak kita melihat ruang digital bukan hanya sebagai kumpulan teknologi, melainkan sebagai ruang tempat manusia membangun makna. Fokusnya bukan pada mesin, melainkan pada pengalaman manusia ketika hidupnya semakin terhubung dengan teknologi.

Advertisement

Melalui perspektif ini, ruang digital dipahami sebagai ruang kehidupan. Di sanalah manusia belajar, bekerja, membangun kepercayaan, menjalin hubungan, mencari pengakuan, bahkan membentuk identitas. Karena itu, memahami transformasi digital tidak cukup hanya melalui data atau kecerdasan buatan. Kita juga perlu memahami bagaimana manusia mengalami, memaknai, dan merespons perubahan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Indonesia yang tengah mempercepat transformasi digital, cara pandang ini menjadi semakin relevan. Keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari semakin cepatnya internet, semakin canggihnya AI, atau semakin tingginya transaksi digital. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaannya.

Tantangan terbesar di era AI bukanlah bagaimana membuat mesin semakin cerdas. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana memastikan manusia tetap mampu memahami dirinya sendiri ketika hampir setiap keputusan hidupnya bersentuhan dengan teknologi.

Data merekam perilaku. Algoritma mengenali pola. Artificial Intelligence membantu mengambil keputusan. Namun, hanya manusialah yang mampu memberi makna pada pengalamannya. Selama makna itu tetap menjadi inti kehidupan, memahami manusia akan selalu lebih penting daripada sekadar memahami teknologinya. Di situlah Cyber Phenomenology menemukan relevansinya.

***

*) Oleh : Dr. Chusnul Rofiah, S.E., M.M., CIQaR., Dosen Program Studi Magister Manajemen Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), School of Economics and Business, Telkom University.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia