Advertisement
Kopi TIMES

Retensi Karyawan: Lebih dari Sekedar Gaji

Retensi karyawan sesungguhnya tidak dimulai ketika seseorang mengajukan surat pengunduran diri. Retensi dimulai sejak hari pertama organisasi membangun pengalaman kerja bagi setiap orang yang menjadi

TIMES Indonesia,
Prof.Dr.Lilik Kustiani, M.M.
Prof.Dr.Lilik Kustiani, M.M. - Kopi Times
Retensi Karyawan: Lebih dari Sekedar Gaji
Prof. Dr. Hj. Lilik Kustiani, S.S., M.M., Guru Besar Universitas Merdeka Malang dan Dosen Aktif pada Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Malang. Bidang kepakaran Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Kota Malang "The most valuable asset of a 21st-century institution is its knowledge workers and their productivity."- Peter F. Drucker, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Manajemen Modern yang menempatkan manusia sebagai aset paling berharga dalam organisasi.

Pemikiran Peter F. Drucker tersebut lebih relevan lagi menjadi 20 tahun lagi. Selama medan usaha dunia berubah begitu cepat, organisasi perlu memiliki kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, tetapi organisasi dihadapkan pada tantangan yang tak kalah penting, yaitu tetap menjaga kualitas sumber daya manusia.

Advertisement

Pergantian karyawan (fenomena turnover) menjadi salah satu dinamika yang banyak mendapat perhatian. Perubahan karyawan merupakan bagian yang halus dan normal dari berjalannya sebuah organisasi. Namun, ada suatu kondisi yang boleh dijadikan ruang refleksi jika terjadi lebih dari sekali, dan itu hanya relatif dalam waktu yang relatif pendek. Sebab, setiap karyawan yang meninggalkan organisasi membawa pengalaman, pengetahuan, dan nilai yang telah dibangun bersama.

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa alasan mengapa orang cenderung berganti pekerjaan adalah karena gaji. Padahal, dalam perspektif MSDM keputusan seseorang untuk bertahan maupun meninggalkan organisasi hampir tidak pernah dipengaruhi oleh satu faktor saja.

Karyawan bukan hanya untuk menghasilkan uang. Mereka juga menantikan peluang untuk berkembang, saluran komunikasi yang terbuka, lingkungan kerja yang sehat, serta kepemimpinan yang mampu menumbuhkan rasa percaya. Pengalaman-pengalaman tersebut secara perlahan membentuk keterikatan seseorang terhadap organisasi tempat ia bekerja.

Pendapat ini didukung oleh data State of the Global Workplace yang dikumpulkan oleh Gallup. Laporan tersebut menunjukkan bahwa employee engagement masih menjadi tantangan di berbagai negara. Gallup juga menegaskan bahwa kualitas manajer memiliki pengaruh besar dalam membangun keterikatan anggota tim. Temuan tersebut mengingatkan bahwa pengalaman kerja sehari-hari memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan aspek finansial.

Dalam pengalaman saya mengamati berbagai organisasi, turnover hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Fenomena tersebut biasanya merupakan akumulasi dari pengalaman kerja yang dirasakan karyawan setiap hari.

Advertisement

Organisasi yang baik akan secara perlahan-pertahan membentuk keputusan seseorang untuk terus beradaptasi atau untuk memutuskan dan melanjutkan karier di tempat lain, membangun komunikasi, memberikan kesempatan berkembang, menghargai kontribusi, menjalankan kepemimpinan.

Karena itu, turnover seharusnya bukan hanya diketahui sebagai jumlah masuk dan keluar dari karyawan. Lebih dari itu, turnover dapat menjadi cermin bagi organisasi untuk mengevaluasi kembali lingkungan kerja, pola komunikasi, dan kualitas kepemimpinannya. Organisasi yang dapat mendorong pengalaman kerja yang positif akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menahan karyawan terbaik.

Retensi karyawan sesungguhnya tidak dimulai ketika seseorang mengajukan surat pengunduran diri. Retensi dimulai sejak hari pertama organisasi membangun pengalaman kerja bagi setiap orang yang menjadi bagian di dalamnya. Pengalaman itulah yang pada akhirnya menentukan apakah seseorang sekadar bekerja atau benar-benar merasa menjadi bagian dari organisasi.

Mobilitas tenaga kerja merupakan bagian yang wajar dalam perjalanan karier seseorang. Namun, organisasi yang sehat akan selalu belajar dari setiap proses tersebut, bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan untuk memahami apa yang masih dapat diperbaiki.

Tantangan terbesar organisasi bukan hanya merekrut talenta terbaik, tetapi juga menciptakan alasan agar mereka memilih tetap berkarya bersama organisasi. Sebagaimana diingatkan Peter F. Drucker, manusia merupakan aset yang paling berharga.

Ketika organisasi mampu menghargai, mengembangkan, dan membangun pengalaman kerja yang positif, maka retensi karyawan bukan lagi sekadar target, melainkan menjadi hasil dari pengelolaan sumber daya manusia yang berkualitas.

***

*) Oleh : Prof. Dr. Hj. Lilik Kustiani, S.S., M.M., Guru Besar Universitas Merdeka Malang dan Dosen Aktif pada Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Malang. Bidang kepakaran Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia