Membongkar Stagnasi Teknologi Penangkapan Ikan Nelayan Kecil
Di tengah gencarnya pemerintah mengampanyekan ekonomi biru dan digitalisasi sektor kemaritiman melalui berbagai seminar, lokakarya, serta forum kebijakan, kondisi nelayan di lapangan masih menunjukkan
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Kota Malang – Di tengah gencarnya pemerintah mengampanyekan ekonomi biru dan digitalisasi sektor kemaritiman melalui berbagai seminar, lokakarya, serta forum kebijakan, kondisi nelayan di lapangan masih menunjukkan kesenjangan yang nyata.
Di sejumlah wilayah pesisir Selat Madura dan Laut Jawa, khususnya perairan Pasuruan, ribuan nelayan bagan tancap masih mengandalkan lentera Petromax berbahan bakar minyak tanah atau gas LPG sebagai alat bantu untuk menarik ikan. Penggunaan teknologi konvensional tersebut bukan sekadar menandakan lambatnya modernisasi perikanan, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi dan lingkungan.
Biaya bahan bakar yang terus dikeluarkan mengurangi pendapatan bersih nelayan, sementara proses pembakarannya menghasilkan emisi karbon dan polutan yang langsung terlepas ke perairan. Realitas ini menunjukkan bahwa transformasi menuju perikanan yang modern, efisien, dan ramah lingkungan belum sepenuhnya menjangkau nelayan kecil sebagai pelaku utama ekonomi pesisir.
Ketergantungan nelayan Bagan Tancap pada lampu Petromax menunjukkan bahwa proses modernisasi teknologi perikanan skala kecil masih berjalan lambat. Lampu berbahan bakar minyak tersebut tidak hanya memiliki efisiensi energi yang rendah, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan akibat panas dan tekanan yang tinggi. Selain itu, Petromax menghasilkan cahaya dengan spektrum yang luas dan tidak dapat diatur sesuai dengan respons visual ikan target.
Padahal, keberhasilan penangkapan ikan menggunakan cahaya sangat dipengaruhi oleh perilaku fototaksis, yaitu respons ikan untuk mendekati atau menjauhi sumber cahaya. Setiap jenis ikan memiliki tingkat kepekaan yang berbeda terhadap panjang gelombang tertentu. Oleh karena itu, penggunaan cahaya yang tepat dapat meningkatkan kemampuan nelayan dalam mengumpulkan kawanan ikan secara lebih cepat, lebih terarah, dan lebih efisien.
Potensi tersebut ditunjukkan melalui penelitian tim Universitas Brawijaya yang dipublikasikan dalam International Journal of Design & Nature and Ecodynamics pada 2025. Penelitian dilakukan melalui 25 kali uji operasional di perairan Pasuruan dengan membandingkan penggunaan lampu Petromax dan lampu Light Emitting Diode (LED) bawah air berspektrum hijau pada panjang gelombang 520–540 nanometer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan LED hijau bawah air mampu meningkatkan volume tangkapan hingga sekitar 80 persen dibandingkan dengan lampu Petromax. Rata-rata biomassa tangkapan menggunakan LED hijau mencapai 28,52 kilogram per trip, sedangkan menggunakan lampu Petromax menghasilkan rata-rata 15,88 kilogram per trip.
Peningkatan hasil tangkapan tersebut berkaitan dengan kemampuan LED hijau dalam mengumpulkan dan mempertahankan kawanan ikan di sekitar area penangkapan. Proporsi pengumpulan kawanan ikan menggunakan teknologi ini tercatat mencapai 75,7 ± 6,3 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai dapat dimanfaatkan untuk mengarahkan perilaku ikan secara lebih efektif.
Keunggulan LED hijau juga terlihat dari efisiensi waktu operasi. Berdasarkan analisis pemodelan spasial, terdapat hubungan yang kuat antara intensitas cahaya dan konsentrasi kawanan ikan, dengan nilai koefisien determinasi sebesar R² = 0,86. LED hijau bawah air mampu membentuk ruang visual yang lebih terarah sehingga kawanan ikan dapat terkonsentrasi dalam waktu sekitar 90 menit.
Setelah terkumpul, tingkat kerapatan kawanan ikan dapat dipertahankan di atas 90 persen hingga proses penarikan jaring (hauling) selesai. Kondisi ini berbeda dengan penggunaan lampu Petromax di permukaan, yang cahayanya cenderung menyebar dan berpotensi membuat ikan berada di area yang lebih luas. Waktu tunggu yang lebih singkat memungkinkan nelayan bekerja lebih efisien dan mengurangi durasi operasi di laut.
Efektivitas spektrum hijau berkaitan dengan karakteristik visual ikan pelagis kecil. Beberapa jenis ikan target, seperti ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) dan selar (Selaroides leptolepis), memiliki fotoreseptor retina yang sensitif terhadap panjang gelombang sekitar 500–540 nanometer. Spektrum hijau juga mampu merambat cukup baik pada perairan pesisir yang cenderung keruh karena mengalami pelemahan yang lebih rendah dibandingkan dengan beberapa spektrum cahaya lainnya.
Sebaliknya, cahaya Petromax yang terlalu terang dan terkonsentrasi di permukaan dapat menimbulkan kejenuhan pada fotoreseptor ikan. Dalam kondisi tertentu, intensitas cahaya yang berlebihan justru berpotensi memicu perilaku menghindar. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan penangkapan ikan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerahan lampu, tetapi juga oleh panjang gelombang, posisi sumber cahaya, serta kemampuan cahaya untuk menembus kolom air.
Temuan ini seharusnya tidak berhenti sebagai hasil penelitian akademik. Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dan teknologi yang digunakan nelayan dalam kegiatan sehari-hari. Program bantuan pemerintah selama ini masih sering berfokus pada pembagian alat tangkap atau subsidi bahan bakar, sementara kebutuhan modernisasi teknologi penangkapan yang lebih efisien belum mendapat perhatian yang memadai.
Dari sisi ekonomi, penggunaan LED berpotensi menekan konsumsi energi hingga 60–80 persen. Penghematan tersebut dapat mengurangi biaya operasional nelayan, terutama ketika harga bahan bakar mengalami kenaikan atau fluktuasi. Efisiensi energi menjadi penting karena biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen terbesar dalam operasi penangkapan ikan skala kecil.
Dari perspektif lingkungan, penggunaan LED dengan panjang gelombang tertentu juga berpotensi meningkatkan selektivitas penangkapan. Cahaya dapat diarahkan untuk menarik kelompok ikan pelagis target sehingga risiko organisme non-target atau bycatch tertangkap dapat ditekan. Pengurangan penggunaan bahan bakar sekaligus mendukung penerapan perikanan rendah emisi yang lebih konkret dan terukur.
Namun, penerapan LED tidak cukup hanya dengan membagikan perangkat kepada para nelayan. Program modernisasi harus disertai pelatihan penggunaan, pengaturan intensitas dan kedalaman pencahayaan, perawatan baterai, keselamatan kelistrikan, serta pemantauan komposisi hasil tangkapan. Tanpa pendampingan, teknologi baru berisiko tidak digunakan secara optimal atau bahkan ditinggalkan setelah program bantuan berakhir.
Modernisasi tersebut bukan sekadar mengganti lampu Petromax dengan lampu LED. Perubahan yang dibutuhkan adalah peralihan dari praktik penangkapan berbasis kebiasaan menjadi pengelolaan berbasis teknologi dan sains. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, LED hijau bawah air dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional, meningkatkan keselamatan kerja, serta mendorong perikanan skala kecil yang lebih berkelanjutan.
Tiga Strategi Mempercepat Modernisasi Teknologi Penangkapan Ikan
Pertama, pemerintah perlu mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi melalui kemitraan dengan industri manufaktur dalam negeri. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memproduksi perangkat LED bawah air yang ekonomis, tahan terhadap kondisi lingkungan laut, mudah dioperasikan, serta dapat diperbaiki oleh nelayan dengan peralatan sederhana.
Produksi dalam negeri penting untuk menekan harga perangkat, menjamin ketersediaan suku cadang, dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Perguruan tinggi dapat berperan dalam pengembangan desain dan pengujian teknologi, sedangkan industri bertanggung jawab atas produksi massal, standardisasi kualitas, dan layanan purnajual.
Kedua, skema subsidi energi bagi nelayan perlu dievaluasi dan diarahkan pada investasi teknologi yang memberikan manfaat jangka panjang. Sebagian anggaran yang selama ini digunakan untuk mendukung konsumsi minyak tanah atau bahan bakar lampu dapat dialihkan menjadi subsidi modal awal untuk pengadaan perangkat lampu LED bawah air.
Perangkat tersebut dapat diintegrasikan dengan panel surya skala kecil dan sistem penyimpanan energi. Dengan demikian, nelayan tidak hanya memperoleh bantuan alat, tetapi juga memiliki sumber energi yang lebih hemat, stabil, dan rendah emisi. Skema ini dapat dikembangkan melalui hibah terbatas, kredit lunak, koperasi nelayan, atau pembiayaan bergulir agar program tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.
Ketiga, penerapan teknologi harus disertai dengan penyuluhan berbasis bukti langsung di lapangan. Keraguan nelayan terhadap teknologi baru tidak dapat diatasi hanya melalui seminar atau pembagian buku panduan. Demonstrasi operasional perlu dilakukan di lokasi penangkapan dengan melibatkan nelayan sebagai pelaku utama.
Uji coba lapangan harus memperlihatkan perbandingan hasil tangkapan, konsumsi energi, waktu operasi, biaya perawatan, serta kemudahan penggunaan antara LED bawah air dan lampu Petromax. Pendekatan ini akan membuat nelayan dapat menilai manfaat teknologi berdasarkan pengalaman nyata, bukan sekadar menerima klaim dari pemerintah atau para akademisi.
Produktivitas Meningkat, Biaya Operasi Menurun
Urgensi modernisasi tersebut didukung oleh sejumlah indikator produktivitas. Penggunaan LED hijau bawah air dilaporkan mampu meningkatkan hasil tangkapan hingga sekitar 80 persen. Rata-rata biomassa tangkapan mencapai 28,52 kilogram per trip, lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan lampu Petromax yang menghasilkan sekitar 15,88 kilogram per trip.
Keunggulan berikutnya terlihat pada kemampuan teknologi untuk menangkap ikan. Proporsi kawanan ikan yang terkonsentrasi di sekitar area penangkapan mencapai 75,7 ± 6,3 persen. Peningkatan ini berkaitan dengan kesesuaian spektrum hijau terhadap sensitivitas visual sejumlah ikan pelagis yang menjadi target utama perikanan bagan tancap.
LED hijau juga meningkatkan efisiensi waktu operasi. Kawanan ikan dapat distabilkan dalam waktu sekitar 90 menit, sedangkan tingkat kerapatannya dapat dipertahankan di atas 90 persen hingga proses penarikan jaring (hauling) selesai. Kondisi ini memungkinkan nelayan mengurangi waktu tunggu sebelum jaring diangkat, sehingga operasi penangkapan menjadi lebih efektif.
Dari sisi ekonomi, penggunaan LED berpotensi menurunkan konsumsi energi hingga 60–80 persen. Penghematan tersebut dapat mengurangi biaya operasional per trip, meningkatkan margin pendapatan nelayan, dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang harganya terus berubah.
Modernisasi sebagai Keputusan Strategis
Modernisasi lampu bagan tancap bukan sekadar penggantian perangkat penerangan. Perubahan dari lampu Petromax menuju LED hijau bawah air merupakan peralihan dari teknologi berbasis kebiasaan menuju teknologi berbasis bukti ilmiah.
Bagi negara maritim seperti Indonesia, peningkatan kualitas teknologi penangkapan ikan skala kecil harus dipandang sebagai bagian dari kebijakan pembangunan pesisir. Nelayan tradisional membutuhkan akses terhadap teknologi yang dapat meningkatkan hasil tangkapan, mengurangi biaya energi, meningkatkan keselamatan kerja, serta menekan dampak lingkungan.
Namun, modernisasi tidak boleh berhenti pada pembagian perangkat. Pemerintah perlu memastikan adanya standar teknis, pelatihan penggunaan, pendampingan perawatan, akses pembiayaan, serta evaluasi terhadap hasil tangkapan dan dampaknya terhadap ekologi. Tanpa komponen tersebut, bantuan teknologi berisiko menjadi tidak berkelanjutan dan kembali menjadi program jangka pendek.
Peralihan dari cahaya kuning Petromax menuju spektrum hijau LED berbasis sains pada akhirnya merupakan keputusan ekonomi dan kebijakan publik. Keputusan ini dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk meningkatkan produktivitas nelayan, mengurangi beban biaya operasional, memperkuat industri teknologi dalam negeri, serta mendukung pembangunan perikanan yang lebih adil dan berkelanjutan.
***
*) Oleh : Fuad
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


