Advertisement
Kopi TIMES

Mencari Makna di Tengah Dunia yang Terluka

Aspek terpenting yang memberi warna transendental pada hakikat manusia adalah petualangannya yang tak pernah berakhir dalam mencari makna hidup.

TIMES Indonesia,
Polykarp Ulin Agan (KT-9)
Polykarp Ulin Agan (KT-9) - Kopi Times
Mencari Makna di Tengah Dunia yang Terluka
Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Jerman Aspek terpenting yang memberi warna transendental pada hakikat manusia adalah petualangannya yang tak pernah berakhir dalam mencari makna hidup. Seluruh sejarah hidupnya adalah sejarah mencari dan menemukan nilai lebih bagi hidup dan keberadaannya. Demi tujuan ini, manusia rela keluar dari monade keakuannya untuk menjalin relasi dengan yang lain. Bukan hanya itu! Ia pun rela meninggalkan sofa kenyamanan diri (zona nyaman) demi menggapai sesuatu yang mungkin tidak akan pernah diraihnya sepanjang hidup.

Senandung pergulatan semacam itulah yang bergema dalam puisi-puisi Ingeborg Bachmann. Melalui Sämtliche Gedichte (Kumpulan Sajak, 2003) penyair Austria ini tidak sekadar merekam kesedihan Eropa pascaperang, melainkan mengungkap keterasingan manusia dalam usaha mencari makna hidup ketika dunia kehilangan kompas moral.

Advertisement

Bagi Bachmann, reruntuhan yang paling sulit dipulihkan bukanlah bangunan, melainkan batin manusia. Masyarakat mungkin tampak kembali normal, tetapi luka sejarah tetap berdiam dalam ingatan yang tak pernah benar-benar sembuh.

Luka sejarah ini memang tidak benar-benar sembuh, sebab ia telah menjelma menjadi pengalaman traumatis yang terus beriak di telaga ingatan. Lebih dari itu, luka tersebut turut membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Ia meninggalkan goresan luka batin yang sering kali jauh lebih dalam daripada sekadar guratan luka fisik.

Refleksi Bachmann terasa semakin relevan dalam era digital. Pada masa ini, dampak dari suatu peristiwa tidak serta-merta berakhir ketika kerusakan fisik telah diperbaiki. Kehilangan kepercayaan, rasa tidak aman, stigma, maupun konflik identitas dapat bertahan dalam jangka panjang dan terus memengaruhi hubungan sosial. Bahkan, perdebatan yang berlangsung di ruang digital kerap memperlihatkan bahwa luka psikologis dan sosial masih belum sepenuhnya pulih.

Meski puisinya dipenuhi nuansa gelap, Bachmann tidak berhenti pada keputusasaan. Harapan tetap hadir melalui cinta, kejujuran, dan simbol-simbol alam yang mengingatkan bahwa manusia selalu merindukan makna yang melampaui dirinya sendiri. Langit, bintang, sungai, dan angin menjadi ruang kontemplasi ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan kenyataan.

Mencari Makna Melalui Solidaritas dan Alam

Advertisement

Pergulatan batin yang digambarkan Bachmann sesungguhnya tidak berhenti pada pengalaman Eropa pascaperang. Dalam konteks Indonesia, pencarian makna hidup dipahami sebagai sesuatu yang tidak berhenti pada pencapaian diri sendiri, melainkan terhubung dengan keberadaan dan kesejahteraan orang lain. Sikap saling membantu, gotong royong, empati, dan solidaritas menjadi cara bagi seseorang untuk menemukan arti keberadaannya dalam masyarakat. Kepedulian terhadap sesama justru menjadi sumber nilai dan tujuan hidup yang senantiasa diperjuangkan.

Semangat itu tercermin dalam praktik filantropi masyarakat Indonesia. World Giving Index 2024 yang diterbitkan Charities Aid Foundation kembali menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia. Sejalan dengan itu, laporan resmi BAZNAS menunjukkan bahwa penghimpunan zakat nasional terus meningkat melalui berbagai lembaga resmi.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pencarian makna tidak berhenti pada pencapaian individual, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata membantu kelompok rentan, memperkuat ikatan sosial, dan menjaga martabat kemanusiaan.

Semangat yang sama juga tampak dalam pelayanan gereja dan berbagai lembaga kemanusiaan Kristen. Melalui pelayanan sosial, mereka membantu masyarakat yang terdampak bencana tanpa membedakan agama, suku, ataupun identitas lainnya.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), misalnya, mengembangkan Program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang mendorong gereja-gereja berperan aktif dalam kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana. Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa kasih tidak berhenti sebagai ajaran moral, melainkan diwujudkan dalam solidaritas yang nyata.

Pencarian makna juga hidup dalam masyarakat adat dan komunitas lokal. Di tengah berbagai krisis lingkungan, mereka tetap mempertahankan cara hidup yang selaras dengan alam melalui hutan adat, sistem Subak di Bali (sistem irigasi dan organisasi pertanian tradisional), maupun tradisi Sasi di Maluku (larangan adat untuk mengeksploitasi sumber daya alam selama jangka waktu tertentu). Bagi mereka, alam bukan sekadar sumber daya ekonomi, melainkan bagian dari identitas, nilai, dan keberlanjutan kehidupan bersama. Di sanalah manusia menemukan makna yang melampaui kepentingan dirinya sendiri: dalam hubungan yang tetap terpelihara dengan sesama sekaligus dengan alam.

Harapan yang Lahir dari Keterhubungan

Harapan untuk menjaga keterhubungan itu kini banyak bertumpu pada generasi muda Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Generasi Z dan Milenial mencakup lebih dari separuh penduduk Indonesia. Posisi demografis tersebut menjadikan mereka kekuatan penting dalam menentukan arah perubahan sosial.

Berkat kesadaran yang semakin bertumbuh, generasi muda semakin terlatih untuk memandang alam bukan semata-mata sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya, sejarah, dan kehidupan bersama. Melalui pelestarian tradisi, dokumentasi pengetahuan lokal, serta pendidikan lingkungan, mereka dapat menjaga nilai-nilai yang diwariskan masyarakat adat dan komunitas lokal (WALHI, 2023).

Keterlibatan kaum muda dalam gerakan sosial dan pelestarian lingkungan memperlihatkan bahwa makna hidup lahir dari keterhubungan, bukan dari keterasingan. Ketika mereka memilih membangun ruang dialog, memperkuat solidaritas, dan merawat kepedulian, mereka sesungguhnya sedang menjawab tantangan zaman.

Di tengah perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan derasnya arus digitalisasi, gerakan komunitas menjadi pengingat bahwa harapan tidak lahir dari pencarian diri semata, melainkan dari kesediaan merawat kehidupan bersama.

Yang menarik, generasi muda juga memanfaatkan teknologi digital bukan hanya untuk membangun jejaring, tetapi juga untuk menggerakkan kolaborasi sosial, menyebarkan pengetahuan, dan memperluas partisipasi masyarakat. Dalam pengertian ini, digitalisasi tidak semata menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sarana memperkuat pembangunan manusia, pelestarian lingkungan, dan pengembangan kebudayaan secara berkelanjutan.

Di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik, polarisasi, dan derasnya arus informasi, warisan pemikiran Ingeborg Bachmann tetap terasa hidup. Ia mengingatkan bahwa keterasingan bukanlah akhir perjalanan manusia.

Justru ketika segala kepastian runtuh, manusia dipanggil untuk terus bertanya, mencintai, berdialog, dan mencari makna. Sebab, mungkin hakikat kemanusiaan tidak pernah terletak pada keberhasilan menemukan jawaban yang final, melainkan pada keberanian untuk terus mencari dan dalam pencarian itu, tetap merawat sesama serta dunia yang menjadi rumah bersama.

***

*) Oleh : Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia