Tirakat Menulis, Dzikir Informasi, Barokah Tulisan
Sejarah menunjukkan bahwa karya-karya yang bertahan bukanlah yang paling banyak diperbincangkan pada zamannya, tetapi yang mampu menjawab persoalan kemanusiaan melintasi ruang dan waktu.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Tulungagung – Menulis merupakan aspek krusial dalam kehidupan. Karena menulis artinya menggerakan ide- ide, menumbuhkan teknik membaca dan meninggalkan warisan pemikiran yang selalu relevan agar bisa dipelajari oleh banyak orang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dasarkan pada satu hal yakni Menulis. Seperti halnya sebuah gagasan yang menggerakan transformasi sosial, contohnya seorang Alan Touring dalam tulisanya yang berjudul "Can Machine Think?", mengeksplorasi pertanyaan tersebut yang disuguhkan menjadi teori Imitation Game yang sekarang dari adopsi pemikiranya mengembangkan teknologi kecerdasan buatan yang dikenal luas yakni Artificial Intelligent (Gulnar, 2025).
Yang mana informasi mudah dan cepat di akses. Tidak hanya informasi ai juga mengembangkan project- project yang bisa saja mengancam dunia industri. Seperti halnya perkembangan claude ai yang bisa membuat paper dalam 5 menit, bahkan versi Claude Fable 5 dan Claude Mythos 5 yang berhasil membuat video dan game simulasi dengan realistik (Indonesia, 2026).
Nah, dari hal itulah mentalitas menulis di gerus oleh mentalitas pragmatis dan instan, belum lagi penggunaan ai tersebut digantungkan sebagai penyelesaiaan tugas akademis. Coba bayangkan, jika manusia selalu menggantungkan ai sebagai penentu keputusan dan penyelesaian masalah manusia. Maka ruang menulis tidak lagi sebagai sarana menciptakan ide dan spiritual bonding, tetapi hanya sebagai pemuas hasrat akan ide.
Tirakat Menulis dalam Menciptakan Keabadian
Tiada karya yang abadi kecuali melalui proses yang panjang. Tirakat atau laku spiritual adalah fondasi bagi penuntut ilmu. Mengutip tulisan KH M. Afifuddin Dimyati yang berjudul "Tirakat Ulama dalam Menulis Kitab" kisah ulama terdahulu, Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam al Nubala' menceritakan bahwa Imam Bukhari selalu mandi dan shalat sunnah dua rakaat sebelum mulai menulis satu hadits.
Kemudian dalam sejarah Islam, tidak hanya Bukhari yang melakukan hal ini. Imam An-Nawawi juga melaksanakan shalat istikharah sebelum menulis karya besarnya, Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. Begitu pula, Ibnu Hazm Al-Andalusiy melakukan shalat istikharah sebelum menyusun kitabnya, al-Muhalla bi al-Âtsâr. Bahkan Imam Adz-Dzahabi pun tidak lupa melaksanakan shalat istikharah sebelum menuliskan karya-karyanya (Dimyati, 2019)
Selain tirakat spiritual, kita juga harus tirakat intelektual ketika menulis dalam artian menikmati dan memahami serta mengalami perdebatan atau pembacaan terkait diskursus keilmuan. Seperti contohnya Immanuel Kant dikenal menjalani rutinitas yang sangat disiplin di Königsberg. Setelah puluhan tahun mengajar dan menulis karya-karya pendahuluan, ia baru menerbitkan Critique of Pure Reason pada tahun 1781 ketika berusia 57 tahun.
Karya tersebut lahir dari proses refleksi yang panjang dan direvisi secara mendalam hingga edisi kedua pada tahun 1787. Friedrich Nietzsche menulis sebagian besar karya besarnya dalam kondisi kesehatan yang buruk, sering berpindah-pindah tempat di pegunungan Swiss dan Italia. Ia memenuhi puluhan buku catatan (Nachlass) berisi aforisme, gagasan, dan revisi sebelum menjadi buku seperti Thus Spoke Zarathustra (1883–1885) dan Beyond Good and Evil (1886).
Karl Marx menghabiskan lebih dari dua dekade meneliti ekonomi politik di ruang baca British Museum Reading Room sebelum menerbitkan jilid pertama Das Kapital pada tahun 1867. Ribuan halaman manuskrip dan catatan menjadi fondasi karya tersebut. Michel Foucault melakukan riset arsip secara intensif di perpustakaan, rumah sakit, dan lembaga pemasyarakatan.
Pendekatan genealogi yang ia gunakan lahir dari penelusuran dokumen sejarah yang sangat rinci sebelum menjadi buku seperti Discipline and Punish (1975). Artinya menulis membutuhkan proses yang panjang untuk memahami satu hal yang nantinya melahirkan banyak hal.
Proses kreatif dalam perjalanan intelektual juga mengalami pasang surut, tugas kita bagaimana memastikan nafas spiritual dan intelektual tetap terjaga? Apalagi ditengah badai kebisingan informasi dan kepragmatisan hidup yang disajikan dunia modern?
Dzikir Informasi Menemukan Nurani dalam Banjir Informasi
Setiap hari kita disajikan potongan- potongan berita, opini, video pendek, notifikasi, pesan, dan iklan yang datang tanpa jeda. Manusia pada jaman sekarang mengalami fenomena namanya overload information. Akibatnya manusa tenggelam dalam asumsi- asumsi dan mitos modern yakni digitalisasi.
Seperti layaknya sokrates yang menggugat mitos dewa- dewi yunai, maka mari kita gugat tersebut dengan sebuah pertanyaan. Bagaimana caranya agar hati tetap jernih ketika pikiran terus-menerus dibanjiri rangsangan?
Saya menggunakan aforisme ini untuk mengambarkan umat nabi nuh yang tenggelam oleh bahtera. Tapi jika di rekontruksi zaman ini, kita semua yang tenggelam tanpa ada bahtera dan sosok nuh yang mendampingi kita.
Berbeda dengan banjir air yang tampak jelas dampaknya, banjir informasi terjadi dengan cara yang tidak terlihat. Ia tidak menghancurkan bangunan seseorang, tetapi secara perlahan mengikis kemampuan kita untuk berpikir dengan tenang, membedakan yang benar-benar penting dari yang hanya viral, dan mendengarkan suara hati kita sendiri. Jumlah informasi yang masuk semakin banyak, menyebabkan semakin sedikit ruang yang tersedia untuk berpikir.
Maka daripada itu dzikir informasi, sebagai konsep, tidak berarti mengucapkan kalimat suci saat membaca berita atau melafalkan dan mengulang kalimat suci, tetapi dengan harfiah lain yakni lebih merupakan sikap batin yang mengingatkan kembali tujuan kita dalam mengakses informasi, serta mengingat nilai-nilai yang menjadi dasar sebelum kita bereaksi.
Ini merupakan momen penuh kesadaran sebelum menyebarkan sesuatu, sebelum merasa marah terhadap sebuah posting, dan sebelum mempercayai sebuah pernyataan. Momen ini adalah ruang kecil di mana suara hati dapat berbicara di tengah kebisingan.
Dzikir Informasi mengajarkan bahwa penting bagi setiap orang untuk mengambil waktu sejenak sebelum membagikan sebuah informasi. Tidak semua berita yang muncul di linimasa layak untuk diteruskan. Memiliki kesadaran penuh untuk berhenti sejenak sebelum membagikannya adalah bentuk pengendalian diri untuk tidak terlibat dalam penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan.
Selanjutnya, Dzikir Informasi menekankan perlunya melakukan tabayyun sebelum mempercayai informasi. Dalam era AI generatif, gambar, video, suara, dan teks bisa dihasilkan dengan sangat meyakinkan, sehingga tidak selalu mencerminkan kebenaran.
Oleh karena itu, kemampuan untuk memverifikasi sumber, memeriksa kredibilitas informasi, dan membandingkan berbagai referensi menjadi tanggung jawab moral setiap individu yang menggunakan teknologi digital. Prinsip tabayyun yang diajarkan dalam Islam relevan sebagai dasar literasi digital saat ini.
Relevansi lainnya terlihat pada pentingnya berpikir sebelum memberikan komentar. Ruang digital sering kali dipenuhi reaksi emosional, ujaran kebencian, intimidasi online, dan perdebatan yang tidak konstruktif.
Dzikir Informasi mengingatkan kita bahwa setiap komentar mencerminkan karakter dan integritas individu. Oleh sebab itu, etika berkomunikasi, penghargaan terhadap perbedaan pandangan, serta penggunaan bahasa yang sopan harus menjadi bagian dari budaya digital yang positif.
Lebih dalam, Dzikir Informasi juga mendorong generasi muda untuk lebih banyak berkarya daripada hanya mengonsumsi konten. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna agar mereka tidak sadar jika menjadi konsumen pasif informasi.
Sebenarnya, teknologi seharusnya digunakan sebagai sarana untuk menciptakan ide, melakukan penelitian, berinovasi, menulis karya ilmiah, atau memproduksi konten edukatif yang bermanfaat untuk masyarakat. Dengan cara ini, teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk hiburan, tetapi juga untuk produktivitas dan pengabdian.
Akhirnya, Dzikir Informasi mengajak setiap individu untuk selalu mengingat nilai-nilai spiritual sebelum bertindak. Setiap keputusan yang dibuat di dunia digital seharusnya berdasar pada kesadaran moral, tanggung jawab sosial, serta nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan. Reaksi yang muncul dari hati yang tenang akan lebih efektif dalam menjaga persatuan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan membangun ekosistem digital yang lebih baik.
Dengan demikian, Dzikir Informasi bisa dianggap sebagai teknologi kesadaran (technology of consciousness) yang mengintegrasikan kecerdasan digital dengan kecerdasan spiritual. Di tengah dominasi algoritma, kecerdasan buatan, dan aliran informasi yang tiada henti, manusia memerlukan kompas batin yang dapat mengarahkan setiap tindakan dengan bijak.
Barokah Tulisan dalam Proses Kreatif Kemanusiaan
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia dalam memproduksi pengetahuan. Saat ini, artikel, laporan, bahkan naskah akademik dapat dihasilkan dalam waktu yang sangat singkat.
Teknologi ini menawarkan efisiensi yang luar biasa dan membuka peluang baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar yakni apakah kecepatan identik dengan kedalaman? Apakah tulisan yang dihasilkan secara instan mampu menggantikan proses panjang pencarian makna yang dijalani oleh manusia?
Dalam tradisi Islam, keberhasilan sebuah amal tidak hanya diukur dari hasil yang terlihat, tetapi juga dari keberkahan (barakah) yang menyertainya. Barakah adalah nilai yang melampaui ukuran kuantitatif atau kualitatif.
Tidak selalu juga sejalan dengan popularitas, jumlah pembaca, atau tinggi rendahnya angka pengutipan, tetapi muncul ketika sebuah karya mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, tulisan yang barokah bukanlah tulisan yang hanya viral, melainkan tulisan yang mampu menggerakkan kesadaran, menumbuhkan kebijaksanaan, dan menghadirkan perubahan positif bagi pembacanya.
Di era kecerdasan buatan, ukuran keberhasilan sebuah tulisan sering kali mengalami pergeseran. Sebuah artikel dianggap berhasil jika mencapai ribuan pembaca, jutaan tayangan, atau menjadi bahan perbincangan di berbagai media sosial. Banyak penulis yang akhirnya menyesuaikan isi tulisannya untuk memenuhi selera algoritma daripada memenuhi kebutuhan masyarakat akan pengetahuan yang berkualitas.
Akibatnya, proses kreatif berubah menjadi kompetisi untuk menarik perhatian, sehingga kedalaman gagasan mulai kehilangan tempatnya. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa karya-karya yang bertahan bukanlah yang paling banyak diperbincangkan pada zamannya, tetapi yang mampu menjawab persoalan kemanusiaan melintasi ruang dan waktu.
Barokah sebuah tulisan lahir dari proses kreatif yang tidak terpisahkan dari kejujuran intelektual. Sebuah tulisan mendapatkan maknanya ketika disusun melalui proses membaca yang tekun, penelitian yang mendalam, refleksi yang jujur, dan kesediaan untuk terus belajar.
Dalam proses tersebut, penulis tidak hanya menyusun kalimat, tetapi juga membentuk dirinya sendiri. Setiap buku yang dibaca memperluas cakrawala berpikir, setiap kritik yang diterima memperhalus cara pandang, dan setiap revisi yang dilakukan melatih kerendahan hati. Dengan demikian, proses kreatif sebenarnya merupakan proses pembentukan karakter sekaligus pematangan kemanusiaan.
Sebuah tulisan dapat menginspirasi seseorang untuk belajar, mengubah cara pandang masyarakat terhadap suatu persoalan, bahkan menjadi dasar lahirnya kebijakan yang membawa kebaikan. Inilah makna dari proses kreatif kemanusiaan yakni ketika tulisan kita menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan.
***
*) Oleh : Krisna Wahyu Yanuar, Penulis dan Jurnalis di Urupedia.id.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


