Advertisement
Kopi TIMES

Bung Hatta dan Indonesia Hari Ini

Bung Hatta mewariskan lebih dari sekadar nama besar dalam sejarah kemerdekaan. Ia meninggalkan cara berpikir, etika bernegara, dan cita-cita tentang Indonesia yang tidak hanya merdeka, tetapi juga adil, rasional, dan bermartabat.

TIMES Indonesia,
Krisna Wahyu Yanuar
Krisna Wahyu Yanuar - Kopi Times
Bung Hatta dan Indonesia Hari Ini
Krisna Wahyu Yanuar, Aktivis dan Pegiat Filsafat, Demisioner PMII Rayon Sufi Jalaluddin Rumi.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Tulungagung Setiap tanggal 12 Agustus, bangsa Indonesia mengenang kelahiran Mohammad Hatta. Bagi sebagian orang, Bung Hatta mungkin hanya dikenang sebagai proklamator, wakil presiden pertama, atau Bapak Koperasi Indonesia. 

Padahal, jika kita menelusuri jejak pemikirannya, Hatta adalah salah satu intelektual terbesar yang pernah dimiliki bangsa ini. Ia bukan sekadar pejuang kemerdekaan, melainkan seorang filsuf politik, ekonom, sekaligus pendidik yang menawarkan fondasi bagi Indonesia yang merdeka, adil, dan bermartabat.

Advertisement

Di tengah berbagai persoalan bangsa hari ini mulai dari demokrasi yang semakin transaksional, menguatnya oligarki ekonomi, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara—pemikiran Bung Hatta justru terasa semakin relevan. Ia seolah sedang berbicara kepada Indonesia masa kini.

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 dari keluarga Minangkabau yang religius. Ayahnya, Haji Muhammad Djamil, wafat ketika Hatta masih berusia tujuh bulan. Sejak kecil, ia dibesarkan oleh ibunya, Siti Saleha, yang menanamkan nilai-nilai Islam, kejujuran, kesederhanaan, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.

Bekal itulah yang membentuk karakter Hatta. Ia tumbuh menjadi sosok yang gemar membaca dan terbuka terhadap berbagai pemikiran dunia. Ketika melanjutkan studi di Belanda selama sebelas tahun, Hatta tidak hanya belajar ekonomi dan politik, tetapi juga mendalami filsafat, sosialisme, hingga Marxisme. 

Namun, ia tidak mempelajari gagasan-gagasan itu untuk menjadi "orang Barat". Ia justru ingin memahami mengapa penjajahan melahirkan ketimpangan sosial yang begitu dalam.

Bagi Hatta, ilmu pengetahuan adalah alat untuk membebaskan manusia, bukan sekadar memperkaya wawasan. Karena itu, ia menggunakan analisis sosial untuk membaca realitas kolonialisme yang menindas rakyat Indonesia. 

Advertisement

Sikap kritis itu tampak jelas dalam pidato pembelaannya yang terkenal, Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka), di Pengadilan Den Haag pada 1928. Di hadapan hakim Belanda, Hatta membongkar wajah kolonialisme yang dibangun di atas diskriminasi, eksploitasi, dan perampasan martabat manusia.

Yang menarik, Hatta tidak pernah memandang Barat secara hitam putih. Ia mampu mengambil rasionalitas dan tradisi berpikir kritis dari Eropa tanpa kehilangan akar keislaman maupun budaya Nusantara. Inilah yang membuat pemikirannya berbeda. Ia tidak terjebak pada sikap anti-Barat, tetapi juga tidak menjadi pengagum Barat secara membabi buta.

Jejak intelektual Hatta dapat dilihat melalui karya-karyanya. Dalam Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan, ia menegaskan bahwa bangsa yang merdeka harus memiliki budaya berpikir rasional dan kritis. Sementara melalui Alam Pikiran Yunani, Hatta memperlihatkan kekagumannya terhadap tradisi filsafat klasik yang mengajarkan pentingnya logika dan kebijaksanaan.

Namun, barangkali karya yang paling relevan untuk dibaca hari ini adalah Demokrasi Kita. Dalam buku tersebut, Hatta mengkritik demokrasi liberal yang hanya memberikan kebebasan politik tanpa menghadirkan keadilan ekonomi.

Menurutnya, demokrasi politik tidak akan berarti apabila rakyat tetap hidup dalam kemiskinan. Hak memilih pemimpin memang penting, tetapi hak memperoleh pekerjaan, pendidikan, dan kesejahteraan jauh lebih menentukan kualitas sebuah demokrasi.

Karena itu, Hatta menawarkan konsep demokrasi sosial. Demokrasi yang tidak hanya berbicara mengenai pemilu, parlemen, atau kebebasan berpendapat, tetapi juga memastikan bahwa kekayaan negara dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat.

Gagasan itu lahir dari sintesis yang sangat khas. Hatta memadukan rasionalitas Barat, nilai-nilai Islam, dan budaya gotong royong masyarakat Indonesia. Baginya, demokrasi bukan barang impor yang harus ditiru mentah-mentah, melainkan sistem yang harus tumbuh dari karakter bangsa sendiri.

Pandangan tersebut melahirkan konsep ekonomi koperasi yang hingga kini masih menjadi salah satu warisan terbesar Bung Hatta. Ia percaya bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan jalan untuk membangun kemandirian ekonomi rakyat.

Sayangnya, cita-cita itu perlahan memudar. Banyak koperasi berubah menjadi lembaga administratif yang kehilangan semangat pemberdayaan. Bahkan tidak sedikit yang hanya aktif menjelang agenda politik atau sekadar memenuhi kewajiban administratif.

Padahal, bagi Hatta, koperasi merupakan perwujudan demokrasi ekonomi. Ia ingin rakyat menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton yang menikmati sisa-sisa pertumbuhan ekonomi.

Di sinilah pemikiran Bung Hatta terasa sangat relevan. Ketika ketimpangan ekonomi semakin melebar, ketika akses terhadap sumber daya lebih banyak dikuasai kelompok tertentu, dan ketika demokrasi sering dipersepsikan hanya menguntungkan elite politik, Hatta mengingatkan bahwa kebebasan politik harus berjalan beriringan dengan pemerataan kesejahteraan.

Hatta juga memiliki pandangan yang sangat mendalam tentang makna kemerdekaan. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan adalah keberanian berpikir secara merdeka, kemampuan mengambil keputusan secara mandiri, sekaligus kesediaan memikul tanggung jawab sosial.

Dalam pandangan Hatta, manusia Indonesia yang merdeka bukanlah individu yang egois dan bebas melakukan apa saja. Sebaliknya, manusia merdeka adalah mereka yang mampu menggabungkan kebebasan dengan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, Hatta menolak dua kutub ekstrem sekaligus. Ia menolak otoritarianisme yang membungkam kebebasan warga negara. Di sisi lain, ia juga mengkritik liberalisme yang mengabaikan solidaritas sosial.

Nilai inilah yang tampaknya mulai langka dalam kehidupan publik kita hari ini. Demokrasi sering dipahami sebatas kompetisi politik, bukan kerja sama untuk menghadirkan kemaslahatan bersama. Politik lebih sibuk mengejar kekuasaan daripada memperkuat etika.

Padahal Hatta pernah mengingatkan bahwa demokrasi hanya dapat berkembang apabila masyarakat dipenuhi semangat persamaan, saling menghargai, dan saling memahami.

Pesan itu terasa sangat penting ketika bangsa ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari korupsi yang terus berulang, politik identitas, polarisasi masyarakat, hingga menurunnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga publik.

Indonesia memang telah merdeka secara politik. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam berpikir? Apakah kita telah merdeka dari korupsi, ketimpangan ekonomi, politik transaksional, dan budaya kekuasaan yang mengabaikan etika?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat Bung Hatta tetap hidup dalam ruang diskusi kebangsaan. Menghidupkan pemikiran Hatta bukan berarti mengultuskan tokoh sejarah. Setiap gagasan tentu dapat dikritik dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. 

Namun, semangat yang diwariskannya tetap layak dijadikan pijakan: keberanian berpikir kritis, kejujuran dalam politik, keberpihakan kepada rakyat, serta keyakinan bahwa demokrasi harus menghasilkan keadilan sosial.

Pada akhirnya, Bung Hatta mewariskan lebih dari sekadar nama besar dalam sejarah kemerdekaan. Ia meninggalkan cara berpikir, etika bernegara, dan cita-cita tentang Indonesia yang tidak hanya merdeka, tetapi juga adil, rasional, dan bermartabat.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti mengenang Hatta hanya setiap tanggal kelahirannya. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan kembali nilai-nilai yang ia perjuangkan dalam kehidupan berbangsa. 

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kita rindukan justru negarawan yang mampu memadukan kecerdasan, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat—seperti yang telah dicontohkan Mohammad Hatta.

***

*) Oleh : Krisna Wahyu Yanuar, Aktivis dan Pegiat Filsafat, Demisioner PMII Rayon Sufi Jalaluddin Rumi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia