Gus Gudfan, Pemimpin Pemersatu PBNU Abad Kedua
PBNU tidak hanya membutuhkan seorang ketua. PBNU membutuhkan seorang pemimpin pemersatu.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Banyuwangi – Nahdlatul Ulama (NU) telah memasuki abad kedua perjalanan pengabdiannya. Ini bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momentum untuk menentukan arah baru dalam menjawab tantangan zaman.
Di tengah perubahan sosial, kemajuan teknologi, dinamika geopolitik global, hingga menguatnya berbagai kepentingan yang kerap membelah kehidupan berbangsa, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola organisasi, tetapi juga mampu mempersatukan seluruh elemen Nahdliyin. Sosok itu ada pada diri Gus Gudfan.
NU hari ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadi titik temu, bukan titik benturan. Sebab sebesar apa pun organisasi ini, kekuatannya tetap bertumpu pada persatuan para ulama, pesantren, dan warganya. Karena itu, Ketua Umum PBNU mendatang harus hadir sebagai pemimpin yang diterima oleh seluruh kalangan, bukan sekadar representasi dari kelompok tertentu.
Salah satu alasan mengapa Gus Gudfan layak memimpin PBNU adalah kuatnya akar spiritual yang dimilikinya. Dalam tradisi pesantren, sanad bukan sekadar silsilah keluarga, tetapi mata rantai perjuangan, keilmuan, dan akhlak yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebagai Dzurriyah Walisongo melalui garis keturunan Sunan Drajat, Gus Gudfan mewarisi nilai-nilai dakwah Islam Nusantara yang selama berabad-abad menjadi fondasi berdirinya Nahdlatul Ulama. Warisan itu bukan hanya soal nasab, melainkan tanggung jawab untuk menjaga ajaran Islam yang ramah, moderat, dan mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat.
NU akan semakin kokoh apabila dipimpin oleh figur yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus memahami ruh perjuangan para wali. Sebab NU sejak awal berdiri bukan hanya organisasi sosial-keagamaan, tetapi juga penjaga tradisi keilmuan dan peradaban Islam Nusantara.
Namun, kepemimpinan tidak cukup hanya bertumpu pada legitimasi sejarah. Pemimpin NU juga harus mampu menjawab tantangan masa depan.
Di sinilah Gus Gudfan memiliki kelebihan. Pengalamannya sebagai Bendahara Umum PBNU memberinya pemahaman yang utuh terhadap tata kelola organisasi. Latar belakangnya sebagai profesional dan pengusaha menunjukkan kemampuannya membaca perubahan zaman serta membangun sistem yang modern dan akuntabel.
NU memasuki abad kedua membutuhkan tata kelola yang lebih profesional tanpa kehilangan ruh pesantren. Organisasi sebesar PBNU memerlukan kepemimpinan yang mampu memadukan nilai tradisi dengan manajemen modern. Saya melihat kapasitas itu ada pada Gus Gudfan.
Lebih dari itu, NU juga menghadapi tantangan besar dalam membangun kemandirian ekonomi warga. Selama ini, dakwah sering dipahami sebatas ceramah dan pendidikan. Padahal para Walisongo telah memberi teladan bahwa dakwah juga dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sunan Drajat mengajarkan pentingnya membantu mereka yang lemah agar mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Nilai itu tetap relevan hingga hari ini. Karena itu, saya memandang NU perlu dipimpin oleh figur yang memahami bagaimana membangun kekuatan ekonomi umat secara nyata.
Dengan pengalaman yang dimiliki Gus Gudfan, saya optimistis NU dapat memperkuat ekosistem usaha warga, mengembangkan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi, sekaligus menciptakan organisasi yang semakin mandiri. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan menjadi pemersatu.
NU adalah rumah besar yang dihuni beragam latar belakang, tradisi, dan pandangan. Perbedaan merupakan kekayaan yang harus dirawat, bukan alasan untuk saling menjauh. Karena itu, PBNU membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri di atas semua golongan dan menghadirkan suasana yang meneduhkan.
Saya memandang Gus Gudfan memiliki posisi tersebut. Ia diterima oleh kalangan struktural organisasi, dekat dengan tradisi pesantren, dan tidak membawa beban polarisasi masa lalu.
Modal sosial seperti inilah yang sangat dibutuhkan NU agar energi organisasi dapat diarahkan sepenuhnya untuk melayani umat, bukan menghabiskan waktu dalam persaingan internal.
Di tengah tantangan global, NU juga dituntut tampil sebagai wajah Islam moderat dunia. Indonesia telah menjadi rujukan banyak negara dalam praktik Islam yang damai, toleran, dan menghargai keberagaman. Amanah besar ini membutuhkan pemimpin yang memiliki akar kuat pada tradisi lokal sekaligus mampu berkomunikasi dengan dunia modern.
Menghadirkan pemimpin dari kalangan Dzurriyah Walisongo bukan berarti membawa NU kembali ke masa lalu. Justru sebaliknya, ini adalah cara memastikan bahwa setiap langkah pembaruan tetap berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan para pendiri peradaban Islam Nusantara.
Abad kedua NU harus menjadi era penguatan persatuan, kemandirian ekonomi, modernisasi organisasi, dan penguatan peran pesantren sebagai pusat peradaban. Semua cita-cita itu membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdliyin.
Karena itulah saya meyakini, Gus Gudfan adalah figur yang layak menakhodai PBNU. Ia memiliki perpaduan antara sanad perjuangan, pengalaman organisasi, kapasitas manajerial, serta visi untuk membawa NU melangkah lebih jauh tanpa kehilangan jati dirinya.
PBNU tidak hanya membutuhkan seorang ketua. PBNU membutuhkan seorang pemimpin pemersatu. Dan menurut saya, Gus Gudfan adalah sosok yang paling tepat untuk mengemban amanah besar tersebut.
***
*) Oleh : KH KRT Abdul Chalim, Pengasuh Pondok Pesantren An-nurul Qodiiri Genteng Banyuwangi.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



