Advertisement
Kopi TIMES

Final Dua Filosofi Sepak Bola

Ketika Spanyol sang penguasa permainan bertemu Argentina penguasa mental juara. Opini Kopi Times ini mengulas dua tim yang lolos ke fase final Piala Dunia 2026.

TIMES Indonesia,
Final Dua Filosofi Sepak Bola
Rudi Mulya A, Kepala Biro TIMES Indonesia Surabaya Raya
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SURABAYA Ada banyak cara menjadi juara dunia. Sebagian tim mencapainya dengan menguasai bola. Sebagian lagi mencapainya dengan menguasai ruang. Ada yang mengandalkan kecemerlangan individu, ada pula yang bertumpu pada organisasi permainan yang nyaris sempurna.

Namun, Final Piala Dunia 2026 menawarkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar duel dua negara besar.

Advertisement

Ia mempertemukan dua filosofi tentang bagaimana kemenangan dibangun.

Di satu sisi berdiri Spanyol. Tim yang datang dengan identitas yang begitu jelas. Mereka percaya bahwa pertandingan dimenangkan melalui penguasaan permainan. Bola harus berada di kaki sendiri. Tempo pertandingan harus dikendalikan. Lawan harus dipaksa berlari mengejar bayangan.

Di sisi lain berdiri Argentina. Tim yang tidak selalu mendominasi statistik, tetapi hampir selalu menemukan cara untuk menang.

Jika Spanyol menguasai bola, Argentina menguasai keadaan.

Jika Spanyol membangun kemenangan melalui kontrol permainan, Argentina membangunnya melalui keyakinan bahwa pertandingan belum pernah selesai sebelum peluit panjang berbunyi.

Advertisement

Maka, final di New York New Jersey Stadium bukan sekadar perebutan trofi Jules Rimet modern.

Ia adalah pertarungan dua keyakinan.

Dua cara membaca sepak bola.

Dua jalan berbeda menuju puncak dunia.

Spanyol dan Seni Membuat Permainan Tampak Mudah

Usai mengalahkan Prancis 2-0 di semifinal, pelatih Luis de la Fuente mengungkapkan kalimat yang segera menjadi pembicaraan.

"Prancis memiliki pemain-pemain terbaik di dunia. Tetapi mereka menghadapi tim terbaik di dunia."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan keyakinan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Spanyol tidak pernah percaya bahwa sepak bola dimenangkan oleh sebelas individu terbaik.

Mereka percaya bahwa tim terbaik selalu lebih berbahaya daripada kumpulan pemain terbaik.

Filosofi itu bukan lahir kemarin sore. Ia telah mengakar sejak era Luis Aragonés, mencapai puncaknya bersama Vicente del Bosque ketika Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010, lalu terus berevolusi hingga kini di tangan Luis de la Fuente.

Nama-nama boleh berganti.

Dulu ada Xavi Hernández, Andrés Iniesta, Sergio Busquets, David Villa, dan Iker Casillas.

Kini muncul generasi baru.

Tetapi identitasnya tetap sama.

Bermain bersama.

Menyerang bersama.

Bertahan bersama.

Tidak ada pemain yang lebih besar daripada sistem. Semifinal melawan Prancis menjadi contoh paling nyata.

Di atas kertas, Les Bleus memiliki lini depan yang menakutkan.

Kylian Mbappé.

Ousmane Dembélé.

Michael Olise.

Bradley Barcola.

Empat pemain yang setiap pekan menjadi pembeda di klub-klub elite Eropa. Namun selama sembilan puluh menit, mereka seperti kehilangan arah.

Bukan karena kualitas individu mereka menurun. Melainkan karena Spanyol membuat mereka tidak pernah nyaman.

Ruang ditutup.

Aliran bola diputus.

Tekanan dilakukan secara kolektif.

Hasilnya, Prancis melepaskan sepuluh percobaan tanpa benar-benar menghasilkan peluang bersih yang mengancam.

Sepak bola modern menyebutnya organisasi permainan. Spanyol menyebutnya identitas.

Argentina dan Mental yang Tidak Pernah Menyerah

Jika Spanyol mengajarkan bagaimana mengendalikan pertandingan, Argentina mengajarkan bagaimana mengendalikan rasa takut.

Tidak ada tim di Piala Dunia 2026 yang berkali-kali berada di ambang kegagalan seperti La Albiceleste.

Melawan Tanjung Verde, mereka harus bermain hingga babak tambahan.

Menghadapi Mesir, mereka tertinggal dua gol hingga menit ke-79.

Banyak tim akan menyerah. Argentina justru mulai bermain.

Tiga gol lahir dalam waktu yang nyaris mustahil.

Comeback itu menjadi salah satu kisah terbesar turnamen.

Di perempat final melawan Swiss, mereka kembali dipaksa bermain selama 120 menit.

Di semifinal menghadapi Inggris, cerita yang sama terulang. Anthony Gordon membawa Inggris unggul lebih dahulu. 

Stadion Atlanta bergemuruh.

Namun tidak lama.

Enzo Fernández menyamakan kedudukan melalui tendangan jarak jauh yang mengubah momentum pertandingan.

Menjelang laga usai, Lautaro Martínez menanduk bola hasil umpan Lionel Messi.

Argentina kembali bangkit.

Sekali lagi.

Comeback bukan lagi kebetulan. Ia telah berubah menjadi karakter.

Messi Menjawab Kritik dengan Cara yang Elegan

Selama Piala Dunia berlangsung, tidak sedikit suara yang mempertanyakan perjalanan Argentina.

Ada yang menilai mereka beruntung.

Ada yang menganggap keputusan-keputusan tertentu lebih berpihak kepada juara bertahan.

Lionel Messi mendengar semuanya.

Namun ia tidak menjawab melalui konferensi pers yang emosional.

Ia menunjuk lapangan.

"Ada orang yang sedih melihat kami kembali ke final. Mereka bisa mengatakan apa pun yang mereka inginkan. Tim ini telah menunjukkan bahwa hasil yang kami raih adalah hasil kerja keras."

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi justru di situlah kekuatannya.

Messi tidak sedang membela dirinya.

Ia sedang membela kerja keras rekan-rekannya. Ia ingin dunia melihat sesuatu yang sering luput.

Bahwa Argentina tidak hanya menang. Mereka bekerja untuk setiap kemenangan.

"Kami bersaing, kami berjuang, dan kami juga bermain dengan baik. Lihat bagaimana kami mendominasi Inggris meski sempat tertinggal."

Ucapan itu sekaligus menjawab satu hal. Argentina bukan hanya tim yang emosional.

Mereka juga mampu memainkan sepak bola berkualitas tinggi.

Dua Pelatih, Dua Jalan Menuju Kejayaan

Menariknya, final ini juga mempertemukan dua pelatih dengan pendekatan yang berbeda.

Luis de la Fuente membangun Spanyol dari sistem. Tidak ada satu pemain yang benar-benar menjadi pusat permainan.

Semua bergerak mengikuti struktur. Sementara Lionel Scaloni membangun Argentina dari karakter.

Ia memberi ruang kepada pemain untuk mengekspresikan diri, tetapi memastikan semangat kolektif tetap menjadi fondasi.

Satu tim bermain dengan kepala.

Satu tim bermain dengan kepala dan hati. Tidak ada yang lebih benar.

Keduanya hanya memilih jalan yang berbeda.

Messi dan Negeri yang Membesarkannya

Bagi Lionel Messi, final ini memiliki makna yang jauh melampaui sepak bola.

Ia akan menghadapi Spanyol.

Negeri yang membesarkan namanya.

Di Barcelona, seorang bocah bertubuh kecil dari Rosario berubah menjadi ikon sepak bola dunia.

Lebih dari dua dekade ia hidup di tanah Spanyol.

Bahasa yang ia gunakan.

Budaya sepak bola yang membentuknya.

Teman-teman yang menemani masa mudanya.

Semuanya berasal dari negeri yang kini menjadi lawan di final.

Ironis.

Tetapi justru karena itulah sepak bola selalu melahirkan cerita yang tidak mampu ditulis oleh penulis skenario mana pun.

Messi tidak sedang melawan masa lalunya.

Ia sedang mengejar masa depannya.

Trofi Piala Dunia kedua akan mengukuhkan warisannya sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah.

Final yang Tidak Hanya Menentukan Juara

Piala Dunia selalu lebih besar daripada sembilan puluh menit.

Ia adalah panggung tempat ide-ide sepak bola saling diuji.

Tahun ini, dunia akan melihat apakah penguasaan permainan masih menjadi jalan paling efektif menuju kemenangan.

Atau justru mental juara yang mampu mengalahkan segalanya.

Spanyol datang sebagai juara Eropa.

Argentina datang sebagai juara bertahan dunia dan kampiun Amerika Selatan.

Keduanya layak berada di final.

Keduanya memiliki alasan kuat untuk percaya akan keluar sebagai juara.

Namun hanya satu yang akan mengangkat trofi.

Sepak Bola Selalu Memilih Ceritanya Sendiri

Pada akhirnya, final ini bukan hanya tentang Messi.

Bukan pula tentang Yamal, Oyarzabal, Lautaro Martínez, atau Enzo Fernández.

Ia adalah cerita tentang dua bangsa yang meyakini cara berbeda untuk mencapai puncak.

Spanyol percaya bahwa sepak bola harus dikuasai.

Argentina percaya bahwa keadaan harus ditaklukkan.

Yang satu memenangkan pertandingan melalui ritme.

Yang lain melalui keberanian.

Dan ketika peluit pertama dibunyikan di New York, dunia tidak hanya akan menyaksikan perebutan trofi Piala Dunia.

Dunia akan menyaksikan pertarungan dua filosofi yang selama puluhan tahun membentuk wajah sepak bola modern.

Mungkin, siapa pun yang akhirnya mengangkat trofi, kemenangan sejati bukan hanya milik satu negara.

Melainkan milik sepak bola itu sendiri.

Karena sekali lagi, Piala Dunia membuktikan bahwa tidak ada satu jalan tunggal menuju kejayaan. Ada yang membangunnya dengan dominasi permainan. Ada pula yang menemukannya melalui ketangguhan mental. Dan justru dari perbedaan itulah lahir sebuah final yang layak dikenang sebagai salah satu panggung paling menarik dalam sejarah sepak bola.

***

*) Rudi Mulya A, Kepala Biro TIMES Indonesia Surabaya Raya

*) Tulisan opini yang dimuat di KOPI TIMES sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak menjadi tanggung jawab Redaksi TIMES Indonesia.

Punya gagasan, analisis, atau opini yang layak diketahui publik? Saatnya suarakan melalui KOPI TIMES! Rubrik ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berbagi pandangan, kritik, maupun solusi atas berbagai isu aktual. Kirim tulisan terbaik Anda dengan panjang maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

Pastikan naskah dilengkapi dengan Nama lengkap, Profesi, Foto diri, dan Nomor telepon yang dapat dihubungi

Kirim opini Anda melalui Kopi.times.co.id

Redaksi berhak melakukan penyuntingan seperlunya serta berhak tidak menayangkan naskah yang dikirim tanpa kewajiban memberikan alasan.

Jangan hanya menjadi pembaca. Jadilah bagian dari percakapan publik. Suara Anda layak didengar, dan gagasan Anda bisa menginspirasi banyak orang melalui KOPI TIMES.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rudi Mulya
PenulisRudi MulyaSarjana Ilmu Sosial (S.Sos) Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Fotografer dan Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, Pemerintahan, Pendidikan, Seni, Budaya dan Isu Nasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia