Advertisement
Kopi TIMES

Makna Politik di Balik Diplomasi Prambanan

Candi Prambanan sebagai warisan budaya memang sangat layak untuk dirawat dan dijaga oleh seluruh kelompok secara gotong royong.

TIMES Indonesia,
Teddy Chrisprimanata Putra
Teddy Chrisprimanata Putra - Kopi Times
Makna Politik di Balik Diplomasi Prambanan
Teddy Chrisprimanata Putra, M.Sos - Dosen Ilmu Politik UPN "Veteran" Jakarta.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Jakarta Selatan Beberapa waktu lalu, Candi Prambanan komplek candi bercorak Hindu-Budha terbesar di Asia Tenggara mendadak menjadi sorotan publik. Hal ini tidak terlepas dari kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, bersama Presiden RI, Prabowo Subianto. Bukan hanya sekadar kunjungan biasa, Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan RI mengungkapkan bahwa tersimpan beberapa perjanjian kerja sama antara dua negara tersebut—salah satunya adalah konservasi Candi Perwara yang ada di Candi Prambanan. 

Di samping menandai dimulainya kerja sama konservasi dan restorasi Prambanan, pertemuan dua pemimpin negara ini juga menandai babak baru bagi perjalanan panjang Candi Prambanan yang sudah berdiri lebih dari seribu tahun lamanya.

Advertisement

Bagi sebagian besar orang, kunjungan Modi dan Prabowo ke Candi Prambanan barangkali dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Memang, hubungan antar negara seringkali diwujudkan lewat berbagai bentuk kerja sama. Ada yang membangun jalan, pusat riset, atau rumah sakit. Juga ada kerja sama di bidang pertahanan, pertanian, perdagangan, maupun pendidikan. Semua hal yang disebutkan sebelumnya adalah hal lazim yang dijumpai dalam kerja sama internasional. Dan pada titik ini, muncul sebuah pertanyaan besar—mengapa Candi Prambanan dipilih sebagai wujud kerja sama antara Indonesia dan India?

Sebelum menulis esai ini, saya membaca tulisan Andre Nuaba—Dosen Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya. Ia menjelaskan dengan baik bahwa rencana restorasi Prambanan merupakan bagian dari diplomasi budaya antara Indonesia dan India. Tulisan tersebut berhasil mengurai hubungan sejarah kedua bangsa yang berlangsung, bahkan sebelum munculnya dua negara sebagai peradaban modern. Dan Prambanan menjadi simbol peradaban yang dapat dibaca hingga hari ini.

Alih-alih hadir untuk menjawab pertanyaan, tulisan Andre Nuaba justru berhasil memperkuat pertanyaan yang telah diajukan sebelumnya. Mengapa harus Prambanan? Memang terlihat sederhana, tetapi justru seringkali pertanyaan-pertanyaan sederhana ini yang dapat mengurai sebuah fenomena jauh lebih mendalam.

Semakin saya coba pikirkan, semakin terasa bahwa relasi peradaban yang panjang jadi salah satu faktor penentu. Prambanan sejatinya bukan sekadar bangunan tua yang membutuhkan perawatan. Ia adalah monumen yang menyimpan sekaligus merawat ingatan tentang perjalanan panjang sebuah peradaban.

Prambanan berhasil menjadi pengingat bahwa relasi antara Indonesia dan India dimulai dengan perjumpaan manusia, gagasan, serta kebudayaan yang adiluhung. Dan Prambanan berhasil memberi suasana yang lebih segar terhadap jalinan kerja sama yang bersejarah antara dua negara demokrasi besar di dunia ini.

Advertisement

Sebagai saksi sejarah, Prambanan berhasil membantu dua negara menjelaskan hubungan mereka ke hadapan dunia—dan bagi saya, ini bukanlah hal yang kebetulan. Dalam perspektif politik, pilihan-pilihan semacam ini seringkali dipahami sebagai cara menggunakan simbol dalam menyampaikan pesan yang lebih dari isi pidato resmi.

Simbol tidaklah menggantikan diplomasi, tetapi memberinya makna lebih mendalam. Simbol membantu menjelaskan mengapa sebuah hubungan layak untuk dirawat—dan Prambanan tampaknya sedang “dipinjam” demi kepentingan tersebut.

Bagi India, keterlibatannya dalam merestorasi Shivagrha—nama asli Candi Prambanan yang memiliki arti “Rumah Siwa”, dapat dibaca sebagai wujud penghormatan terhadap jejak panjang peradaban yang pernah menghubungkan kedua negara. Sedang, bagi Indonesia sendiri, Prambanan adalah sebuah monumen pengingat sejarah peradaban bangsa yang dibangun oleh akulturasi kebudayaan—bukan dibangun dari satu identitas yang berdiri sendiri.

Bagi dunia, kerja sama ini bisa dimaknai sebagai pesa n bahwa hubungan antar-negara tidak mesti selalu dibangun oleh kepentingan ekonomi ataupun pertahanan. Kadang kala, hubungan tersebut menemui simpul kekuatannya lewat merawat ingatan bersama.

Tetapi, setiap simbol akan selalu memberikan implikasi. Kini Prambanan memasuki ruang yang lebih dari sekadar konservasi. Setidaknya, ke depan akan muncul pertentangan mengenai siapa yang paling berhak bercerita tentang Prambanan? Nilai apa yang ingin ditonjolkan melalui proses restorasi? Bagaimana warisan budaya dipahami oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya? Dan sejauh batasan negara dalam menggunakan Prambanan sebagai bagian dari narasi politiknya?

Meski tidak selalu membutuhkan jawaban yang tegas, tetapi lewat fenomena ini, Prambanan mencoba mengingatkan kita semua bahwa warisan budaya sejatinya tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu hidup bersama manusia yang selalu berusaha memberikan makna baru sesuai dengan zamannya.

Dan karena itu, setiap generasi memandang Prambanan dengan cara yang berbeda, ada yang mellihatnya sebagai tempat suci, ada yang melihatnya sebagai sebuah mahakarya arsitektur. Bahkan ada pula yang memandangnya sebagai destinasi wisata yang iconic. Di luar dari penilaian tersebut, kini Prambanan menemukan peran krusial, yakni sebagai simbol persahabatan. 

Barangkali dalam lima tahun ke depan, wujud Prambanan akan menjadi lebih lengkap berkat kerja sama strategis dua negara. Candi Prambanan sebagai warisan budaya memang sangat layak untuk dirawat dan dijaga oleh seluruh kelompok secara gotong royong.

Jalinan kerja sama ini juga harus dimaknai lebih dari sekadar menyusun kembali batu-batu yang telah lama roboh. Ia harus dimaknai sebagai relasi peradaban panjang antara dua bangsa besar yang tidak dipertemukan demi kepentingan politik, tetapi juga cerita yang telah bertahan lebih panjang dari usia kedua negara itu sendiri.

***

*) Oleh : Teddy Chrisprimanata Putra, M.Sos - Dosen Ilmu Politik UPN "Veteran" Jakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia