Advertisement
Kopi TIMES

Gus Yusuf Chudlori: Pesantren, Tata Kelola NU, dan Sumber Daya Berkelanjutan

Masa depan NU dapat dipahami sebagai sebuah ekosistem peradaban yang mengelola manusia, nilai, ilmu pengetahuan, lingkungan dan jaringan sosial berkelanjutan.

TIMES Indonesia,
Ahmad Imaduddin Abdillah
Ahmad Imaduddin Abdillah - Kopi Times
Gus Yusuf Chudlori: Pesantren, Tata Kelola NU, dan Sumber Daya Berkelanjutan
Ahmad Imaduddin Abdillah, Alh., S.Sy., MH., Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Periode 2019–2022.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Kota Banjar Media informasi dan media sosial berbasis digital memberikan informasi yang cepatdan merata pada dewasa ini. Hal ini memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi dan memahami dunia luarnya, termasuk menjadi fasilitas bagi masyarakat untuk mengenal dan memahami figur seseorang. Proses knowledge by description ini bukan hanya melahirkan pemahaman dan pengetahuan terhadap sosok figur yang dipelajarinya, tetapi juga menumbuhkan harapan terhadapnya.

Penulis mengenal Gus Yusuf Chudlori (sapaan akrab KH. M. Yusuf Chudlori) melalui media informasi dan media sosial yang mengelilinginya sebagai sosok yang dapat diketahui dan dipahami sebagai seorang kiai dan pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang. Beliau juga dikenal sebagai seorang pendakwah yang menggunakan pendekatan tradisi Nahdlatul Ulama dan keindonesiaan, yang dalam setiap kehadiran serta konten dakwahnya memberikan pencerahan kepada umatdengan nuansa kesejukan, membumi, dan bersahaja.

Advertisement

Penulis pertama kali bertemu dan menyimak secara langsung uraian serta pemaparan Gus Yusuf pada acara bincang-bincang menjelang Muktamar NU ke-35 seri 6 dengan tema “NU Masa Depan & Masa Depan NU” yang diselenggarakan oleh Yayasan Tali Buana Nusantara.

Dalam forum tersebut, penulis tidak hanya mendapatkan knowledge by acquaintance (pengetahuan langsung) tentang Gus Yusuf yang terkonfirmasi sebagaimana narasi yang berkembang di media informasi dan media sosial, yaitu sebagai sosok yang memiliki kemampuan menyampaikan uraian dengan kesejukan dan kesahajaan, tetapi juga melahirkan tesis bagi penulis bahwa beliau memiliki realitas yang lebih dari ekspektasi awal (positive disconfirmation).

Hemat penulis, terdapat tiga pokok gagasan strategis Gus Yusuf yang menjadi fondasi tesis tersebut sekaligus menggambarkan visi beliau, yaitu: penguatan NU berbasis pesantren, tata kelola NU berbasis kepastian dan kemanfaatan, serta pengembangansumber daya NU berkelanjutan.

Penguatan Ke-NU-an Berbasis Pesantren

Selama ini pesantren sering dipahami sebagai lembaga penjaga tradisi dengan kajian teks-teks masa lalu dan pola berpikir yang cenderung transendental. Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya keliru, karena salah satu kekhasan pesantren sampai saat ini adalah nilai-nilai 'salafus shalih' (generasi terbaik) yang terus menjadi pedoman.

Advertisement

Pesantren dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan pendiri sekaligus penggerak NU sampai saat ini. Belakangan ini pesantren diuji pada aspek kepercayaan dan pengakuan sosial. Pesantren dengan otoritas moral keagamaannya tidak boleh goyah. Di sisi lain, relevansi kurikulum pendidikannya dituntut bukan hanya mampu menyesuaikan perkembangan zaman, tetapi juga harus mampu menjadi jawaban atas kebutuhan zaman.

Mempertahankan pesantren sebagai institusi keagamaan, moral, dan tradisi merupakan sebuah keniscayaan. Namun, menjadikan pesantren sebagai institusi produsen ilmu (knowledge institution) yang mampu melakukan diferensiasi fungsi adalah sebuah keharusan. Dengan demikian, aspek keagamaan, moral, tradisi, sertariset keislaman, sosial, teknologi, hukum, lingkungan, kebijakan publik, dan ekonomi umat dapat berjalan dalam satu tarikan napas gerakan pesantren.

Tata Kelola Organisasi Berbasis Kepastian dan Kemanfaatan

NU merupakan organisasi besar yang dimensi utamanya adalah keulamaan. Kendati demikian, pengurus dan warga NU memiliki latar belakang yang beragam, seperti kiai, cendekiawan, politisi, birokrat, pedagang, petani, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Hal ini tergambar dalam ajakan Rais Akbar NU, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, dalam 'Qanun Asasi NU': "Golongan fakir miskin, rakyat jelata, para hartawan, dan orang-orang kuat berbondong-bondong masuk ke jam’iyah yang diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini."

Keberagaman latar belakang tersebut menjadi kekayaan sekaligus potensi untuk mewujudkan cita-cita para muassis NU, baik dalam konteks organisasi, umat, maupun masyarakat secara umum.

Kehadiran NU dalam realitas sosial keislaman dan keindonesiaan telah menjadi sebuah subkultur. Hal ini menjadi modal utama bagi NU secara organisasi untuk menghadirkan kemaslahatan secara lebih terukur melalui pelayanan dan pengkhidmatan kepada umat yang dikelola berdasarkan prinsip kepastian dan kemanfaatan.

Postur organisasi NU yang di dalamnya terdapat kelembagaan Syuriyah, Tanfidziyah, Lembaga, Badan Otonom, Badan Khusus, dan Badan Usaha Organisasi perlu diperkuat melalui optimalisasi fungsi serta kepastian kewenangan beserta batasannya.

Sumber daya dan aset NU, baik yang bersifat material maupun nonmaterial, hendaknya tidak berhenti pada batas inventarisasi kepemilikan organisasi, tetapi harus digerakkan menjadi sumber kemanfaatan.

Bagi NU, sumber daya dan aset tersebut perlu dikelola dengan asas kepastian tatakelola yang kuat, karena sejatinya sumber daya dan aset NU dipergunakan untuk mempermudah NU sebagai 'civil society movement' yang memberikan dampak kemanfaatan bagi seluruh sendi organisasi dan umat, bukan sebaliknya.

Pengembangan Sumber Daya NU Berkelanjutan

NU dapat dipahami bukan hanya sebagai organisasi, tetapi juga sebagai kekuatan kebudayaan, sosial, dan peradaban. Dalam perjalanannya, NU jangan sampai terjebak pada romantisme sejarah panjangnya, tetapi harus mampu mentransformasikan nilai-nilainya menjadi energi perubahan sosial yang mengarah pada peradaban yang bermartabat.

Sebuah peradaban tidak dibangun hanya oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh suatu kelompok manusia yang mampu mengelola nilai, ilmu pengetahuan, budaya, institusi, dan jaringan sosialnya. Dalam pengertian inilah NU sejatinya telah memiliki sumber daya dalam menggerakkan dan membentuk peradaban yang terdiferensiasi melalui pesantren, organisasi, dan jamaahnya.

Pesantren sebagai institusi sumber daya intelektual dan kultural NU berfungsi sebagai pusat produksi pengetahuan, pembentukan karakter, serta reproduksi nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Keberlanjutan pesantren diarahkan pada penguatan kapasitas keilmuan, integrasi antara khazanah turats dengan ilmu pengetahuan modern, penguasaan teknologi digital, pengembangan riset, serta penciptaan generasi yang memiliki kompetensi global tanpa kehilangan akar tradisinya.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi institusi keagamaan dan penjaga tradisi, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat produksi pengetahuan, inovasi sosial, dan pembentuk peradaban yang bermartabat.

NU secara organisasi sebagai sumber daya institusional memiliki fungsi mengelolanilai menjadi gerakan yang sistematis. Struktur NU dari tingkat pusat hingga ranting, beserta lembaga dan badan-badan di dalamnya, memiliki daya jangkau yang sangat luas.

Dalam perspektif keberlanjutan peradaban, organisasi tidak cukup hanyamempertahankan eksistensi administratif, tetapi harus berkembang menjadi organisasi yang mampu membaca perubahan sosial, mengelola data, membangun tata kelola profesional, serta melakukan kaderisasi dengan menghasilkan kapasitas kepemimpinan dan kader yang mampu mengembangkan inovasi kelembagaan serta kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai ke-NU-an pada setiap gerakan organisasi, baik pada dimensi pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, kebijakan publik,transformasi digital, dan kelestarian lingkungan.

Jamaah NU yang telah menjadi realitas sosial tidak cukup hanya didudukkan secara kuantitatif, tetapi harus dipandang sebagai jaringan kepercayaan, solidaritas, dan nilai gotong royong yang hubungan di dalamnya dibentuk melalui tradisi keagamaan, sosial, dan pemberdayaan. 

Oleh karena itu, jamaah NU harus dikembangkan bukan hanya sebagai basis pengikut, tetapi sebagai komunitas produktif yang memiliki kapasitas keilmuan, ekonomi, dan budaya yang berkontribusi dalam pembangunan serta pengembangan peradaban.  Dalam kerangka ini, masa depan NU dapat dipahami sebagai sebuah ekosistem peradaban yang mengelola manusia, nilai, ilmu pengetahuan, lingkungan dan jaringan sosial berkelanjutan, bukan?

***

*) Oleh : Ahmad Imaduddin Abdillah, Alh., S.Sy., MH., Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Periode 2019–2022.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia