Spanyol vs Argentina: Sebuah Cermin Kehidupan
Kemenangan sejati adalah bagaimana membangun sistem yang mampu melahirkan kemenangan, menjaga kehormatan, dan meninggalkan warisan yang tetap hidup jauh setelah peluit terakhir dibunyikan.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Malang – Final Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol mengangkat trofi, sedangkan Argentina harus menerima kenyataan apa yang telah terjadi. Namun, seperti kehidupan, pertandingan apa pun bukan hanya berbicara tentang siapa pemenangnya.
Banyak orang hanya melihat skor akhir. Padahal, skor akhir hanyalah penutup dari perjalanan yang mereka lakukan. Trofi hanyalah puncak gunung es yang berdiri di atas ribuan jam latihan, kegagalan, disiplin, pengorbanan, dan kerja keras yang tidak semu mereka tunjukkan.
Aristoteles pernah berucap, "We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act but a habit." Keunggulan bukan lahir dari satu pertandingan, melainkan dari kebiasaan melakukan hal yang benar secara terus-menerus. Oleh karena itu, kemenangan Spanyol sesungguhnya dibangun jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.
Di sisi lain, kehidupan juga mengajarkan bahwa kejayaan masa lalu tidak pernah menjadi jaminan untuk memenangkan masa depan. Argentina datang sebagai juara bertahan dengan sejarah yang besar dan pemain berpengalaman. Namun, sejarah hanya memberi kehormatan, bukan janji atas kemenangan.
Pelajaran tersebut sebenarnya sudah ada melampaui sepak bola. Banyak organisasi runtuh karena terlalu lama hidup dari romantisme masa lalu. Mereka mengira bahwa prestasi kemarin akan terus melindunginya dari tantangan hari ini.
Sebaliknya, Spanyol memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kemenangan. Mereka menunjukkan bahwa organisasi yang kuat dibangun oleh sistem, bukan oleh kultus terhadap individu. Bintang boleh berganti, tetapi sistem yang sehat akan melahirkan generasi baru yang lebih hebat.
Pemikiran itu sejalan dengan filsuf Spanyol, Jose Ortega y Gasset. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendirian, melainkan selalu berada dalam suatu keadaan yang akan membentuk dirinya. Sebuah tim, organisasi, atau bangsa sekalipun hanya akan bertahan apabila mampu membangun lingkungan yang membuat setiap orang bertumbuh, bukan sekadar mengandalkan satu tokoh.
Di sisi lain, Argentina memberikan pelajaran yang tidak kalah berharga. Kehormatan ternyata tidak selalu diukur dari trofi yang berhasil dibawa pulang. Ada martabat yang justru tampak ketika seseorang mampu menerima kekalahan tanpa kehilangan harga dirinya.
Marcus Aurelius menulis bahwa manusia tidak selalu mampu mengendalikan apa yang terjadi, tetapi selalu dapat mengendalikan bagaimana ia meresponsnya. Oleh karena itu, kekalahan tidak pernah memalukan. Yang memalukan adalah kehilangan integritas ketika menghadapi kekalahan.
Itulah sebabnya final Spanyol melawan Argentina sesungguhnya merupakan cermin kehidupan. Ada yang menang, ada yang kalah, tetapi keduanya sama-sama meninggalkan pelajaran. Kehidupan tidak hanya bertanya berapa banyak trofi yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga bagaimana kita membangun proses, menghormati sistem, menjaga martabat, dan tetap melangkah ketika sejarah tidak lagi berpihak kepada kita.
Dalam kehidupan bernegara, pelajaran tersebut terasa sangat relevan. Sebuah bangsa tidak cukup hanya membanggakan kejayaan masa lalu, karena tantangan selalu berubah dan generasi terus berganti. Negara yang besar adaalah negara yang mampu memperbarui diri tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Kita juga perlu belajar bahwa institusi yang kuat tidak boleh bergantung pada satu orang. Pemimpin dapat datang dan pergi, tetapi sistem hukum, tata kelola, dan budaya tanggung jawab harus tetap berdiri. Ketika negara terlalu bergantung pada figur, maka masa depannya menjadi rapuh.
Dari pertandingan sepak bola, kita belajar bahwa sebuah tim tidak akan menjadi juara hanya karena memiliki satu pemain hebat. Pemimpin dapat datang dan pergi, sebagaimana pemain bintang silih berganti, tetapi sistem permainan, tata kelola organisasi, dan budaya kerja sama harus tetap berdiri kokoh.
Pelajaran yang sama berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Institusi yang terlalu bergantung pada figur akan mudah goyah. Sedangkan institusi yang dibangun di atas sistem akan tetap kuat menghadapi perubahan zaman.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah mengingatkan bahwa kebesaran sebuah bangsa tidak pernah bertumpu pada sosok tertentu. Akan tetapi, pada kuatnya solidaritas, tata kelola, dan kemampuan membangun peradaban secara berkelanjutan. Ketika semangat kebersamaan melemah dan institusi dikalahkan oleh pemujaan terhadap individu, saat itulah benih-benih kemunduran mulai tumbuh.
Barangkali, itulah pelajaran terbesar dari final Spanyol melawan Argentina. Kemenangan sejati bukan hanya tentang mengangkat trofi. Kemenangan sejati adalah bagaimana membangun sistem yang mampu melahirkan kemenangan, menjaga kehormatan, dan meninggalkan warisan yang tetap hidup jauh setelah peluit terakhir dibunyikan.
***
*) Oleh : Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


