Advertisement
Kopi TIMES

Seutas Renungan Final Piala Dunia 2026

Bola menggelinding di lapangan, planet-planet beredar dalam garis edarnya di langit, dan hati manusia sekeras apa pun ia menolak untuk tunduk pada akhirnya akan menemukan jalan pulang menuju satu kesadaran yang sama.

TIMES Indonesia,
M. KHOIRUL ANAM
M. KHOIRUL ANAM - Kopi Times
Seutas Renungan Final Piala Dunia 2026
M. Khoirul Anam, Direktur Lingkaran Studi Ilmu Hisab Rukyat AL-KAUKABA Lamongan Jawa Timur.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Lamongan Ada satu hal yang jarang kita renungkan setiap kali menonton pertandingan sepak bola: bahwa benda yang diperebutkan oleh dua puluh dua orang selama lebih dari seratus menit itu berbentuk bulat. Bukan kotak, bukan pula segitiga yang bisa dikunci arahnya. Bulat berarti ia hanya bisa dipinjam sesaat, digiring sesaat, lalu cepat atau lambat dilepaskan kembali ke arah yang tak sepenuhnya bisa diperhitungkan siapa pun.

Ada semacam ironi kosmis di sana: manusia menghabiskan bertahun-tahun latihan, jutaan dolar biaya, dan startegi taktis sedetail mungkin, untuk memperebutkan sesuatu yang secara alamiah memang dirancang untuk tidak sepenuhnya bisa dikuasai.

Advertisement

Di New York New Jersey Stadium, benda bulat itu menggelinding di antara kaki-kaki terbaik dunia. Spanyol menghadapi Argentina di final Piala Dunia 2026, dua tim yang datang dengan bekal berbeda namun sama-sama meyakinkan. Spanyol tampil nyaris sempurna sepanjang turnamen, mengonversi penguasaan bola menjadi dominasi yang jarang tertandingi. Argentina datang sebagai juara bertahan, membawa serta Lionel Messi yang berstatus legenda hidup, seorang manusia yang telah membuktikan bahwa kehendak dan kerja keras bisa menaklukkan hal-hal yang tampak mustahil.

Di kursi pelatih, dua pikiran taktik terbaik di zamannya duduk berhadapan. Luis de la Fuente, yang membawa Spanyol tak terkalahkan sejak menukangi tim itu, sudah menghitung segalanya pergerakan tanpa bola, transisi, bahkan kemungkinan-kemungkinan kecil yang sering tidak disadari oleh lawan, bahkan oleh penonton biasa. 

Lionel Scaloni, arsitek yang membawa Argentina juara dunia empat tahun sebelumnya, datang dengan rencana yang tak kalah matang: bertahan rapat, menunggu momentum, lalu menyerang balik dengan kecepatan yang mematikan. Dua rencana besar, dua kalkulasi cermat, dua kehendak manusia yang telah dipersiapkan sedemikian rupa hingga rasanya tak mungkin gagal.

Namun seberapa pun canggih sebuah taktik disusun di atas kertas dan papan taktik, ada satu tembok yang tak bisa ditembus oleh diagram mana pun; kesadaran bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya milik manusia. Argentina bertahan dengan gigih. Bahkan ketika Enzo Fernández diusir wasit karena kartu kuning kedua menjelang akhir babak kedua, tim yang tersisa sepuluh orang itu tetap mampu memaksakan babak tambahan. Sempat pula gol Nico Williams dianulir karena pelanggaran dalam proses jual beli serangan. Segala hal tampak berpihak sejenak kepada Argentina, seolah memberi harapan bahwa kerja keras dan keteguhan bisa mengubah arah takdir.

Tapi 106 menit berjalan, seorang pemain pengganti bernama Ferran Torres melepaskan tembakan dari jarak dekat yang menembus jala gawang Emiliano Martínez kiper yang sepanjang laga tampil luar biasa, menghadirkan sejumlah penyelamatan gemilang yang nyaris membuat namanya menjadi pahlawan malam itu.

Advertisement

Torres bukan nama besar yang sejak awal turnamen menjadi sorotan utama. Ia pemain yang datang belakangan, mencetak gol penentu di menit-menit paling sunyi dari sebuah pertandingan panjang. Begitu jugalah cara takdir sering bekerja; ia tidak selalu memilih siapa yang paling ingin atau paling diunggulkan sejak awal, melainkan siapa yang telah ditetapkan untuk menjadi perantara sebuah keputusan yang sudah tertulis jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.

Di tengah lapangan yang sama, dua wajah merepresentasikan dua babak kehidupan yang berbeda. Lamine Yamal, remaja yang usianya belum genap seperempat abad, berdiri sebagai juara dunia sebuah pencapaian yang bagi banyak pemain lain baru datang di usia kepala tiga, bahkan tak pernah datang sama sekali.

Di seberangnya, Lionel Messi pemain yang telah mengangkat trofi ini pada 2022, yang telah memenangkan hampir semua yang bisa dimenangkan dalam sepak bola menyeka air mata, kemungkinan untuk terakhir kalinya di panggung sebesar ini. Ia sempat menyebut Piala Dunia 2022 sebagai yang terakhir, namun kembali tampil di 2026; kali ini usianya akan mendekati 43 tahun saat Piala Dunia berikutnya digelar pada 2030. Satu wajah bercahaya oleh permulaan yang baru saja dimulai, satu wajah basah oleh penutupan sebuah babak panjang yang gemilang.

Bukan karena yang satu kurang berjuang, dan yang lain lebih pantas menang. Keduanya telah mengerahkan seluruh yang mereka miliki—latihan bertahun-tahun, pengorbanan pribadi, tekanan yang datang dari jutaan pasang mata di seluruh dunia. Tapi begitulah cara waktu membagi peran kepada manusia, seperti adagium agung menyebutkan: "setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya". 

Yamal tidak "merebut" masa itu dari Messi. Ia hanya kebetulan atau lebih tepatnya, telah ditetapkan berada di titik waktu yang tepat, dengan kesiapan yang tepat, dan, tentu saja, pada saat takdir memutuskan untuk membuka babak baru kepadanya.

Kita, sebagai manusia, sering keliru mengira bahwa hidup adalah murni soal siapa yang paling keras berusaha, siapa yang paling matang menyusun rencana, dan siapa yang secara hitungan logis paling pantas menang. Maka ketika kenyataan berbeda dari hitungan itu, kita gelisah, kita mempertanyakan keadilan semesta, kita merasa ada yang salah dengan dunia. Padahal yang sesungguhnya goyah bukanlah dunia, melainkan cara pandang kita sendiri yang terlalu meyakini bahwa ikhtiar manusia adalah penentu tunggal dari segalanya dalam pernak-pernik kehidupan.

Pernyataan ini bukan berarti ikhtiar menjadi tidak penting. Justru sebaliknya ikhtiar tetap wajib, taktik tetap harus disusun serapi mungkin, latihan tetap harus dijalani sekeras mungkin. De la Fuente dan Scaloni sama-sama telah melakukan bagian mereka dengan sempurna. Tapi di ujung dari semua ikhtiar itu, ada satu titik yang sudah menunggu sejak semula, yang tak bisa direbut hanya dengan kehendak dan kerja keras, dan hanya bisa didekati dengan kesadaran serta penyerahan diri yang tulus kepada Yang Menentukan segala keputusan.

Bola menggelinding di lapangan, planet-planet beredar dalam garis edarnya di langit, dan hati manusia sekeras apa pun ia menolak untuk tunduk pada akhirnya akan menemukan jalan pulang menuju satu kesadaran yang sama; bahwa segala sesuatu memang diciptakan untuk kembali berputar menuju satu poros. Poros itu bukan trofi emas, bukan gelar juara dunia, bukan pula tangis kekalahan yang mengalir di pipi seorang legenda. Poros itu adalah Takdir yang menuliskan kisah setiap manusia persis pada masanya masing-masing, tidak lebih cepat, pun juga tidak pernah terlambat.

***

*) Oleh : M. Khoirul Anam, Direktur Lingkaran Studi Ilmu Hisab Rukyat AL-KAUKABA Lamongan Jawa Timur.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia