Algoritma Mengubah Messi dari Pahlawan Menjadi Penjahat
Mengapa citra Lionel Messi berubah drastis di Piala Dunia 2026? Opini Kopi TIMES ini mengulas peran algoritma media sosial, AI, dan psikologi dalam membentuk opini publik.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JAKARTA –
Empat tahun lalu, hampir tidak ada yang meragukan Lionel Messi sebagai pahlawan sepak bola dunia
Ketika Argentina mengangkat trofi Piala Dunia 2022 di Qatar, jutaan orang yang bahkan bukan pendukung Albiceleste ikut larut dalam euforia. Media internasional menyebutnya sebagai akhir yang sempurna bagi karier salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa. Foto Messi mengangkat trofi menjadi salah satu gambar olahraga paling ikonik dalam sejarah modern. Di media sosial, pujian mengalir tanpa henti. Bagi banyak orang, ia akhirnya mendapatkan apa yang selama bertahun-tahun dianggap pantas ia raih.
Namun, hanya empat tahun berselang, suasananya berubah drastis.
Sepanjang Piala Dunia 2026, Messi justru menjadi sasaran kritik yang nyaris tanpa jeda. Ia dituduh mendapat perlakuan istimewa dari wasit, dicap sebagai "cheat", bahkan disebut "villain" oleh sebagian warganet. Setelah Argentina kalah dari Spanyol di final, potongan-potongan video mengenai insiden pertandingan kembali membanjiri media sosial dan memperkuat citra negatif tersebut.
Pertanyaannya, apakah Messi benar-benar berubah?
Ataukah yang berubah adalah cara kita melihatnya?
Narasi Tidak Pernah Datang Sendirian
Dalam dunia digital, opini publik jarang terbentuk secara spontan.
Rosie, seorang analis media sosial dan content strategist, menilai perubahan sentimen publik terhadap Messi menunjukkan bagaimana algoritma bekerja membentuk persepsi.
Menurutnya, perubahan sentimen terhadap Messi tidak semata-mata dipicu oleh performa di lapangan. Yang bekerja jauh lebih kuat adalah cara algoritma media sosial memilih konten yang akan terus muncul di layar pengguna.
Media sosial tidak dirancang untuk mempromosikan kebenaran. Ia dirancang untuk memaksimalkan perhatian (attention).
Konten yang memancing kemarahan, perdebatan, atau rasa tidak suka cenderung menghasilkan lebih banyak komentar, share, dan waktu tonton. Akibatnya, algoritma menganggap konten semacam itu lebih menarik untuk didistribusikan.
Di sinilah narasi mulai bekerja.
Sebuah pelanggaran yang hanya berdurasi lima detik dipotong dari konteks pertandingan selama 90 menit. Sebuah keputusan wasit diunggah tanpa tayangan ulang dari berbagai sudut. Sebuah ekspresi wajah dipisahkan dari rangkaian peristiwa sebelumnya. Potongan-potongan itu kemudian diberi judul yang mengarahkan emosi penonton.
Semakin banyak orang bereaksi, semakin luas pula distribusinya.
Bukan karena benar, melainkan karena menarik.
Mengapa Kebohongan Lebih Cepat Berlari?
Fenomena ini sebenarnya sudah lama dipelajari.
Pada 2018, peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang dipimpin Soroush Vosoughi, Deb Roy, dan Sinan Aral menerbitkan penelitian di jurnal Science berjudul The Spread of True and False News Online. Penelitian tersebut menganalisis sekitar 126.000 rangkaian berita yang dibagikan oleh 3 juta pengguna Twitter selama periode 2006–2017.
Hasilnya mengejutkan.
Berita palsu memiliki peluang 70 persen lebih besar untuk dibagikan ulang dibandingkan berita yang benar. Tidak hanya itu, informasi palsu juga menjangkau lebih banyak orang dan menyebar jauh lebih cepat daripada informasi yang telah diverifikasi.
Mengapa demikian?
Karena manusia secara alami lebih tertarik pada informasi yang mengejutkan, kontroversial, atau memancing emosi.
Algoritma media sosial hanya memperkuat kecenderungan psikologis tersebut.
Dengan kata lain, bukan algoritmanya yang menciptakan kebencian. Algoritma hanya memperbesar apa yang paling sering kita respons.
Ketika Pengulangan Menjadi Kebenaran
Psikologi mengenal istilah illusory truth effect.
Fenomena ini menunjukkan bahwa seseorang cenderung mempercayai suatu informasi hanya karena informasi tersebut diulang berkali-kali, bukan karena telah dibuktikan kebenarannya.
Dalam konteks Messi, satu video mungkin tidak cukup mengubah persepsi publik. Namun, ketika puluhan video dengan narasi yang sama muncul setiap hari selama berminggu-minggu, otak manusia mulai menganggapnya sebagai pola yang nyata.
Lama-kelamaan muncul kesan bahwa "semua orang" memiliki pandangan yang sama.
Padahal yang terjadi bisa jadi hanya pengulangan konten oleh algoritma.
Kita tidak sedang melihat kenyataan.
Kita sedang melihat kenyataan yang telah dipilihkan untuk kita.
AI Membuat Segalanya Lebih Cepat
Jika dahulu membangun opini publik membutuhkan studio televisi, ruang redaksi, jaringan media, dan biaya promosi yang besar, kini situasinya berubah.
Kecerdasan buatan memangkas hampir seluruh biaya tersebut.
Video dapat dibuat dalam hitungan menit.
Suara dapat ditiru.
Gambar dapat dimanipulasi.
Artikel dapat diproduksi secara massal.
Komentar dapat dihasilkan otomatis.
Jika algoritma mempercepat penyebaran narasi, perkembangan AI membuat proses produksinya menjadi jauh lebih murah dan masif.
Menurut NewsGuard, pada Mei 2023 hanya terdapat 49 situs yang sebagian besar menghasilkan konten menggunakan AI. Pada Desember 2023, jumlahnya melonjak menjadi 614 situs.
Per 23 Juni 2026, NewsGuard mencatat sudah ada 3.749 situs penghasil konten AI dalam 16 bahasa. Sebagian besar memproduksi artikel dalam jumlah besar dengan sedikit, bahkan tanpa, pengawasan editor manusia.
Artinya, kemampuan membangun narasi yang dahulu hanya dimiliki pemerintah atau perusahaan besar kini semakin mudah diakses oleh siapa saja.
Messi Hanyalah Contoh
Tulisan ini sebenarnya bukan tentang Lionel Messi.
Hari ini yang menjadi sasaran adalah Messi.
Besok bisa jadi atlet lain.
Lusa mungkin seorang politikus.
Minggu depan bisa seorang ilmuwan.
Atau bahkan kita sendiri.
Yang berubah bukan hanya teknologi komunikasi, melainkan cara reputasi dibangun dan dihancurkan.
Di era media sosial, seseorang tidak lagi hanya dinilai dari tindakannya, tetapi dari potongan-potongan tindakan yang dipilih algoritma untuk terus ditampilkan kepada publik.
Reputasi perlahan bergeser dari sesuatu yang dibangun melalui pengalaman nyata menjadi sesuatu yang dibentuk oleh arus informasi digital.
Belajar Menjadi Penonton yang Lebih Bijak
Barangkali inilah pelajaran terbesar dari fenomena Messi pada Piala Dunia 2026.
Kita perlu berhenti menganggap setiap video viral sebagai keseluruhan cerita.
Kita perlu menyadari bahwa algoritma tidak bekerja untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mempertahankan perhatian kita selama mungkin.
Di tengah banjir konten, kemampuan paling berharga bukan lagi sekadar mengakses informasi, tetapi menunda penilaian.
Melihat pertandingan secara utuh sebelum menyimpulkan.
Membaca berbagai sudut pandang sebelum menghakimi.
Mencari konteks sebelum ikut membagikan potongan video.
Karena pada akhirnya, ancaman terbesar media sosial bukanlah membuat kita tidak tahu apa yang terjadi.
Melainkan membuat kita merasa sudah mengetahui segalanya, padahal yang kita lihat hanyalah serpihan-serpihan kenyataan yang dipilihkan oleh algoritma.
Messi mungkin kehilangan trofi Piala Dunia 2026. Namun pelajaran terbesar dari turnamen itu bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah. Ia menunjukkan bagaimana algoritma dapat mengubah cara jutaan orang memandang seseorang. Di era digital, pertarungan terbesar sering kali tidak lagi berlangsung di lapangan hijau, melainkan di linimasa yang setiap hari menentukan cerita mana yang akan kita percaya.
Dan di era algoritma, pertarungan terbesar sering kali bukan lagi terjadi di lapangan hijau, melainkan di linimasa yang setiap hari membentuk cara kita memandang dunia.
***
*) Imadudin Muhammad, Editor TIMES Indonesia
*) Tulisan opini yang dimuat di KOPI TIMES sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak menjadi tanggung jawab Redaksi TIMES Indonesia.
Punya gagasan, analisis, atau opini yang layak diketahui publik? Saatnya suarakan melalui KOPI TIMES! Rubrik ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berbagi pandangan, kritik, maupun solusi atas berbagai isu aktual. Kirim tulisan terbaik Anda dengan panjang maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
Pastikan naskah dilengkapi dengan Nama lengkap, Profesi, Foto diri, dan Nomor telepon yang dapat dihubungi
Kirim opini Anda melalui Kopi.times.co.id
Redaksi berhak melakukan penyuntingan seperlunya serta berhak tidak menayangkan naskah yang dikirim tanpa kewajiban memberikan alasan.
Jangan hanya menjadi pembaca. Jadilah bagian dari percakapan publik. Suara Anda layak didengar, dan gagasan Anda bisa menginspirasi banyak orang melalui KOPI TIMES.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



