Museum Tahir Solo Penarik Wisatawan
Surakarta memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai kota wisata yang tidak hanya kaya akan warisan budaya, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, kreativitas, dan inovasi yang memberi manfaat ekonomi maupun sosial bagi masyarakat.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
SUKOHARJO – Selama bertahun-tahun, Surakarta tumbuh dalam ingatan publik sebagai kota wisata budaya. Nama kota ini identik dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pura Mangkunegaran, Kampung Batik Laweyan dan Kauman, serta pelbagai tradisi yang terus hidup, mulai dari Sekaten hingga pertunjukan seni tradisional. Identitas tersebut telah menjadi daya tarik utama yang mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengenal lebih dekat jejak sejarah dan kebudayaan Jawa.
Dinamika pariwisata terus bergerak mengikuti perubahan zaman. pelancong tidak lagi hanya mencari pengalaman melihat peninggalan sejarah atau menikmati pertunjukan budaya, tetapi juga menginginkan ruang belajar, interaksi, dan pengalaman yang memperkaya pengetahuan.
Pergeseran preferensi ini mendorong banyak kota di dunia untuk memperluas wajah pariwisatanya melalui pengembangan museum, pusat sains, galeri, hingga destinasi edukatif yang mampu menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam.
Dalam konteks itulah Surakarta berada pada sebuah persimpangan penting. Kota yang selama ini dikenal sebagai pusat budaya memiliki peluang untuk melengkapi identitasnya sebagai kota wisata berbasis pengetahuan. Kehadiran Tahir Solo Museum menjadi salah satu penanda perubahan tersebut.
Museum ini bukan sekadar menambah daftar destinasi wisata, melainkan membuka peluang lahirnya ekosistem pariwisata yang menghubungkan budaya, pendidikan, inovasi, dan ekonomi kreatif dalam satu kesatuan pembangunan kota.
Tentu kehadiran Tahir Solo Museum patut dibaca sebagai lebih dari sekadar penambahan destinasi wisata. Museum ini dapat menjadi katalis transformasi pariwisata Surakarta dari kota yang bertumpu pada heritage tourism menuju urban tourism yang menawarkan pengalaman kota secara lebih utuh.
Sehingga perspektif urban tourism, menjadi daya tarik sebuah wisata di kota Surakarta tidak lagi hanya ditentukan oleh keberadaan situs sejarah, tetapi juga oleh kualitas ruang publik, infrastruktur, kreativitas, pusat pengetahuan, serta pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan sepanjang tahun.
Seperti halnya kota Singapura, Seoul, maupun Melbourne telah menunjukkan bahwa museum, galeri seni, dan pusat inovasi mampu menjadi simpul yang menghubungkan budaya, pendidikan, ekonomi kreatif, dan aktivitas masyarakat perkotaan.
Melihat arah tersebut sesungguhnya selaras dengan kebijakan pembangunan Kota Surakarta. Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, pemerintah daerah menempatkan penguatan sektor pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan kota. Pariwisata tidak lagi diposisikan semata sebagai sektor hiburan, melainkan sebagai instrumen untuk meningkatkan daya saing kota melalui penguatan identitas budaya, kualitas sumber daya manusia, dan ekonomi kreatif.
Potensi tersebut juga didukung oleh tingginya mobilitas wisatawan ke Surakarta. Data Dinas Pariwisata Kota Surakarta menunjukkan bahwa destinasi budaya tetap menjadi magnet utama. Pada tahun 2025, Pura Mangkunegaran dikunjungi lebih dari 122 ribu wisatawan, terdiri atas sekitar 115.785 wisatawan nusantara dan 7.077 wisatawan mancanegara.
Sementara itu, pertunjukan Wayang Orang Sriwedari masih menarik hampir 60 ribu pengunjung. Angka ini memperlihatkan bahwa basis pasar wisata Surakarta telah terbentuk dengan kuat melalui wisata budaya. Tantangannya bukan lagi mendatangkan wisatawan, melainkan memperpanjang lama tinggal (length of stay) dan memperkaya pengalaman mereka selama berada di kota.
Oleh kaeran itu konsep knowledge tourism menjadi relevan. Berbeda dengan wisata konvensional yang berorientasi pada rekreasi, knowledge tourism menawarkan pengalaman belajar melalui interaksi dengan sains, sejarah, seni, teknologi, dan inovasi.
Museum modern tidak lagi dipahami sebagai ruang penyimpanan koleksi, melainkan sebagai ruang edukasi yang interaktif, inklusif, dan mendorong rasa ingin tahu pengunjung. Kehadiran Tahir Solo Museum membuka peluang bagi Surakarta untuk melengkapi ekosistem wisatanya, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keraton, batik, atau kuliner, tetapi juga memperoleh pengalaman intelektual yang memperkaya kunjungan mereka.
Namun, keberhasilan transformasi tersebut tidak akan tercapai apabila museum berdiri sebagai destinasi yang terpisah. Tahir Solo Museum perlu diintegrasikan ke dalam jaringan pariwisata kota melalui paket perjalanan yang menghubungkan museum dengan Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, Kampung Batik Kauman, Solo Safari, Taman Balekambang, hingga pusat-pusat pendidikan seperti Universitas Sebelas Maret dan Institut Seni Indonesia Surakarta. Integrasi semacam ini akan menciptakan urban tourism ecosystem, yaitu ekosistem wisata yang memungkinkan pengunjung menikmati kekayaan budaya, pendidikan, kreativitas, dan ruang publik dalam satu pengalaman yang saling terhubung.
Dengan demikian, nilai strategis Tahir Solo Museum tidak semata terletak pada bangunan atau koleksinya, melainkan pada kemampuannya memperluas narasi pariwisata Surakarta. Jika selama ini Surakarta dikenal sebagai kota budaya, maka museum ini dapat menjadi pintu masuk menuju identitas baru sebagai kota wisata berbasis pengetahuan yakni sebuah kota yang tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membangun masa depan melalui pendidikan, inovasi, dan kreativitas.
Tantangan Pariwisata Surakarta
Kehadiran museum baru tidak secara otomatis menjamin meningkatnya daya saing pariwisata kota. Berbagai studi menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah museum lebih banyak ditentukan oleh kualitas pengelolaan dan kemampuannya membangun keterhubungan dengan ekosistem kota dibandingkan kemegahan bangunannya semata. Dalam konteks Surakarta, setidaknya terdapat tiga pekerjaan rumah yang perlu menjadi perhatian agar Tahir Solo Museum benar-benar mampu menjadi katalis transformasi pariwisata.
Pertama, strategi promosi perlu bergeser dari pendekatan informatif menuju promosi berbasis pengalaman (experience-based marketing). Selama ini promosi destinasi wisata masih didominasi penyampaian informasi mengenai lokasi atau koleksi. Padahal, wisatawan modern lebih tertarik pada pengalaman yang unik, interaktif, dan mudah dibagikan melalui media sosial.
Tahir Solo Museum dapat memperkuat daya tariknya melalui pameran tematik yang berganti secara berkala, kegiatan edukatif bagi keluarga, lokakarya kreatif, diskusi publik, pertunjukan seni, hingga kolaborasi dengan komunitas kreator digital. Strategi tersebut akan menjadikan museum sebagai ruang yang selalu menghadirkan alasan baru untuk dikunjungi, bukan sekadar destinasi yang dikunjungi sekali lalu terlupakan.
Kedua, museum perlu terintegrasi dengan sistem transportasi dan jaringan destinasi wisata kota. Kemudahan akses merupakan salah satu faktor penting dalam keputusan wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi. Pemerintah Kota Surakarta bersama pengelola museum dapat membangun integrasi dengan layanan Batik Solo Trans, feeder menuju kawasan wisata, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Purwosari, Terminal Tirtonadi, maupun Bandara Adi Soemarmo.
Selain akses fisik, integrasi juga dapat diwujudkan melalui penyediaan informasi digital yang memudahkan wisatawan memperoleh rute perjalanan, jadwal transportasi, tiket terusan (integrated ticketing), hingga rekomendasi paket wisata yang menghubungkan museum dengan Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, Kampung Batik Laweyan, Solo Safari, dan destinasi unggulan lainnya. Dengan demikian, museum tidak menjadi titik akhir perjalanan, melainkan bagian dari rangkaian pengalaman wisata kota.
Ketiga, kolaborasi dengan sekolah dan perguruan tinggi harus menjadi fondasi utama pengembangan museum sebagai pusat pembelajaran publik. Museum memiliki fungsi edukatif yang sangat besar apabila dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran di luar kelas. Sekolah dasar hingga menengah dapat menjadikan museum sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek, sejarah, seni, sains, maupun literasi budaya.
Sementara itu, perguruan tinggi dapat berperan melalui penelitian, pengembangan teknologi pameran digital, program magang mahasiswa, pelatihan kurator muda, hingga penyelenggaraan seminar dan konferensi ilmiah. Kolaborasi ini akan menciptakan siklus yang saling menguatkan: museum memperoleh inovasi dan pengunjung yang berkelanjutan, sedangkan institusi pendidikan mendapatkan ruang pembelajaran yang kontekstual dan relevan.
Tahir Solo Museum tidak boleh dipandang sebagai proyek pembangunan yang selesai ketika pintunya dibuka untuk publik. Nilai sesungguhnya justru akan ditentukan oleh bagaimana museum tersebut terus dihidupkan melalui inovasi program, kemudahan akses, serta kolaborasi lintas sektor.
Jika mampu membangun sinergi antara pemerintah, pengelola museum, dunia pendidikan, komunitas kreatif, dan pelaku industri pariwisata, Surakarta memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai kota wisata yang tidak hanya kaya akan warisan budaya, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, kreativitas, dan inovasi yang memberi manfaat ekonomi maupun sosial bagi masyarakat.
***
*) Oleh : Haidar Fikri, Pemerhati Kebijakan dan Politik Di Solo Raya.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


