Kuliner

Nasi Jamblang Kudapan Khas Cirebon, Ini Asal Usulnya

Selasa, 16 Juni 2020 - 17:45 | 217.57k
Nasi Jamblang Khas Cirebon. (Foto: Devteo MP/TIMES Indonesia)
Nasi Jamblang Khas Cirebon. (Foto: Devteo MP/TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, CIREBON – Sega atau Nasi Jamblang merupakan makanan khas Cirebon yang sudah dikenal luas, tidak hanya sekitar Ciayumajakuning, melainkan juga sudah dikenal para pelancong dari berbagai daerah di Nusantara, khususnya yang sempat singgah di Kota Cirebon.

Soal kelezatan, sepertinya tidak diragukan lagi, nasi yang dibungkus daun jati ini sudah menjadi rujukan kuliner bila wisatawan berkunjung ke Cirebon. Namun dari semua itu, sangat sedikit warga Cirebon yang mengetahui bahwa ternyata nasi Jamblang ini diciptakan oleh seorang keturunan China.

Advertisement

Pemerhati kuliner dan budayawan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU), H. Uki Marzuki mengungkapkan, nasi Jambang merupakan kreasi wanita keturunan China yang menikah dengan warga pribumi Cirebon.

Uki menjelaskan, keberadaan dan proses terciptanya nasi Jamblang merupakan  hasil akulturasi budaya China dan Cirebon.

“Hal itu dapat kita telisik dari jenis menu masakannya. Misalnya sayur tahu, beef steak, sate kentang, telor ceplok, balado dan paruh (kebuk), memiliki akar yang kuat dengan negeri tirai bambu. Sedangkan kultur lokal Cirebon sebagai daerah pesisir terwakili ikan panjelan, cumi, udang tepung dan lainnya,” bebernya, Selasa (16/6/2020).

Uki bercerita, wanita keturunan China itu bernama Tan Piauw Lun yang kemudian dikenal dengan nama Nyi Pulung. Wanita ini menikah dengan pengusaha pribumi  Cirebon, Ki Antra (H. Abdul latif) yang membuat berbagai resep olahan makanan yang dikenal sekarang.

Nasi Jamblang awalnya bukan untuk dijual melainkan untuk disedekahkan pada warga pribumi yang sedang bekerja di pabrik gula dan spirtus milik Belanda di wilayah Palimanan dan Gempol.

“Awalnya menu nasi Jamblang yang dibuat  Tan Piauw Lun  alias Nyi Pulung hanya tujuh macam. Seiring perkembangan dan inovasinya secara bertahap variasi menunya terus bertambah,” ucapnya.

Uki mengatakan, menurut berbagai sumber, nasi Jamblang Tulen yang berlokasi sebelah utara Jalan Bypass Jamblang. Itu diyakini sebagai tempat pertama Tan Piauw Lun memberikan sedekah dan berjualan nasi Jamblang.  

“Hingga kini masih diteruskan oleh keturunannya,” ungkap Uki.

Ia memaparkan, banyak hal yang bisa dipelajari dari proses terciptanya Nasi Jamblang.

“Pertama, nilai spiritual diawali sebuah keikhlasan dalam dalam bersedekah, dimana nasi tidak dijual melainkan diberikan kepada pekerja yang sedang membangun pabrik gula dan spiritus milik Belanda, tanpa meminta imbalan dan dilakukan terus menerus (setiap hari bersedekah tanpa putus),” ujarnya.

Kedua, lanjut Uki, akulturasi budaya, bila diperhatikan dengan seksama masakan yang dibuat Nyi Tan Piauw Lun (istri H. Abdul latif ) seperti sayur tahu, sambal goreng kentang, kebuk goreng, tahu dan tempe merupakan makanan khas bangsa China.

“Sementara nilai lokal Cirebon terlihat dari menu ikan asin panjelan, sayur tahu dan olahan kentang merupakan hasil olahan kreasi perpaduan resep China dan Cirebon,” paparnya.

Ketiga, tambah Uki, jiwa kreativitas Nyi Tan Piauw Lun, yaitu memanfaatkan bahan makanan yang kurang produktif menjadi produktif dan disukai banyak orang.

Uki mencontohkan makanan kebuk (paru) yang saat itu keberadaan paru merupakan limbah yang tidak bisa dimanfaatkan karena memiliki rasa yang pahit.

“Berkat keahliannya mengolah makanan, tangan dingin Tan Piauw Lun berhasil mengolah paru menjadi makanan yang bisa dinikmati dan disukai banyak orang,” jelasnya mengenai asal usul Nasi Jamblang yang merupakan kuliner khas Cirebon. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Cirebon

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES