Nikmatnya Tape Crispy Khas Bondowoso, Diminati Hingga Negara Tetangga
Jika selama ini kita mengenal tape adalah makanan khas Nusantara yang punya kadar air. Justru warga di Bondowoso ini membuat tape crispy. Tak lagi lembek, makanan berbahan dasar singkong ini justru renyah.

BONDOWOSO – Jika selama ini kita mengenal tape adalah makanan khas Nusantara yang punya kadar air. Justru warga di Bondowoso ini membuat tape crispy. Tak lagi lembek, makanan berbahan dasar singkong ini justru renyah.
Adalah Nurul Hidayati (41) warga Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami Bondowoso berhasil mengolah menjadi camilan kekinian. Selain renyah, rasa khas tapenya pun tak hilang.
Menurutnya, upaya membuat varian makanan dari tape tersebut bukan perkara mudah. Perlu beberapa kali percobaan, sehingga produk dengan merek GeHaelFood bisa seperti saat ini.
"Apalagi latar belakang saya sebagai apoteker dan tak seberapa piawai mengolah makanan," katanya, Sabtu (13/2/2021).
Dia memulai bisnis tersebut sejak Tahun 2019 lalu. Namun hasil pertama, tape olahannya justru hancur dan teksturnya keras.
Namun dia tak mau menyerah. Di akhir 2019 dia mengikuti program pelatihan UMKM dan UKM yang digagas salah satu perusahaan swasta. Kemudian pada awal Tahun 2020, berangkat ke Blitar untuk belajar cara menggunakan vacuum frying sebagai alat menggoreng tape.
Menurutnya, membutuhkan waktu satu bulan untuk bisa mengetahui teknik menggoreng dengan vacuum frying. "Saya akhirnya paham bila menggoreng dengan alat itu tak perlu diputar," imbuhnya.
Vacuum frying memang biasanya digunakan sebagai alat penggorengan bahan makanan yang mengandung air, termasuk tape.
"Olahan tape cukup didiamkan dan digoreng dengan api yang kecil. Saya akhirnya bisa membuat tape crispy," terangnya.
Usai belajar, dia langsung mulai melanjutkan proses produksi lagi. Kemudian dia membeli bahan dasar tape di pedagang Bondowoso sekaligus menyiapkan kemasannya.
Setelah 2 minggu, produk tape crispy diluncurkan memang sepi pembeli. Tetapi bulan berikutnya, tepatnya Maret 2020 penjualan melonjak. Bahkan sampai kewalahan melayani pesanan.
Pembeli produk tape crispy GeHaelFood milik Nurul berasal dari Malang, Yogyakarta, Bogor, Halmahera dan Jakarta.
"Melalui pihak reseller, penjualan tape crispynya kian tembus hingga luar negeri. Reseller pernah mengirim tape crispy buatan saya ke Timor Leste dan Malaysia," terangnya.
Produk tape crispy GeHaelFood punya beragam varian rasa, yakni original, pedas, cokelat, dan keju. Harganya pun bervariasi. Yakni mulai Rp 15 ribu untuk kemasan 80 gram dan Rp 35 ribu untuk kemasan 250 gram.
Dalam pembuatan produk tape crispy tersebut, dia dibantu 3 orang karyawan. Mereka merupakan warga asli Curahdami. "Saya memberdayakan masyarakat sekitar untuk membantu produksi," terangnya.
Dalam sebulan produk tape crispy terjual hingga 6.000 pcs dengan omzet puluhan juta. Akan tetapi, 2 bulan terakhir ini baru merasakan dampak pandemi Covid-19. Penjualan menurun hingga 50 persen. "Semoga pandemi ini cepat berlalu," harapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


