Kuliner

Kisah Sukses Ina Cookies dari Bandung, 32 Tahun Membangun Bisnis Kue

Minggu, 18 September 2022 - 19:36 | 312.78k
 Inna R. Ina Wiyandini, BA, Pemilik usaha Ina Cookies. (Foto: Ina Cookies)
Inna R. Ina Wiyandini, BA, Pemilik usaha Ina Cookies. (Foto: Ina Cookies)

TIMESINDONESIA, MAJALENGKA – Membangun sebuah usaha atau bisnis memang tidak bisa instan. Butuh waktu, proses, komitmen dan strategi lainnya dalam menjalanan serta mengembangkan bisnis tersebut. Salah satunya, Ina Cookies, produsen kue dari Bandung. Perjalanan yang sudah ditempuh kini mencapai 32 tahun lamanya. Bukan waktu yang sebentar tentunya untuk pada akhirnya mencapai sebuah istilah sukses atau keberhasilan.  

“Bisnis yang menghasilkan pada satu waktu tertentu saja dan tidak tiap bulan, maka bisnis kue adalah salah satunya. Namun, bisnis ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang betul-betul berkomitmen agar usahanya tidak terhenti pada saat orderan yang terbatas waktu tersebut. Bayangkan, apa bisa berbisnis jika produknya laku hanya pada waktu tertentu? Lalu, bagaimana perusahaan tersebut bisa bertahan bila rentang waktu untuk penjualan produknya hanya sebentar?” ujar pemilik Ina Cookies Inna R. Ina Wiyandini, BA kepada TIMES Indonesia, membuka perbincangan saat ditemui di Bandung.  

Inna menjelaskan, dirinya menekuni bisnis ini dengan catatan bahwa pembelinya sudah jelas ada pada setiap tahun. Yaitu, orang-orang yang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sementara, untuk menutupi biaya kebutuhan operasional, gaji SDM dan lainnya, Inna memiliki solusi dengan memproduksi atau menjual produk yang bisa dinikmati atau dijadikan penganan ringan bagi pasar anak anak milenial. Adapun produk tersebut adalah kue dengan kemasan poch menarik seberat 80 gram dengan rasa enak dan harga ramah di kantong. 

Selain Ina Cookies, lanjut Inna, dirinya juga berbisnis kuliner atau masakan yang bisa orang-orang kunjungi setiap hari dan bisa juga bagi perusahaan swasta atau pemerintahan yang mengadakan rapat atau pertemuan di Rumah Makan The Tuick yang berada di wilayah Bojongkoneng.

Ina-Cookies-a.jpg

Poduk update dan kreativitas Ina cookies terbaru  (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

Mamah Ina Cookies, demikian orang orang memanggilnya, mengatakan bahwa sebetulnya usaha Ina Cookies diawali di Kota Cirebon. Sebelumnya, selama 2 tahun membangun usaha memang didirikan bukan berfokus pada uang semata. Sang almarhum ayah dan almarhumah ibunya yang menjadi motivator, agar usaha Ina Cookies berdiri dan menyebarkan manfaat.

Mamah Ina menceritakan bagaiamana kebiasaan almarhum ayahnya yang berprofesi sebagai dokter sangat menjaga wudhunya. Setiap hari selalu menjaga kebersihan diri, seperti halnya seseorang yang akan beribadah.

“Ayah selalu mengingatkan agar selalu menjaga wudhu karena manusia tidak pernah tahu kapan dirinya akan dipanggil ke haribaan-Nya. Selain istiqomahnya dalam menjaga wudhu, ayah pun memberikan contoh sebagai pedonor darah secara rutin dan konsisten. Banyak penghargaan dari pemerintah berkaitan dengan kegiatan sosial almarhum dan banyak juga dakwah dakwah almarhum semasa hidup mengingatkan akan pentingnya menjaga wudhu,” papar Ina yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT Favori Corp Sedaya ini. 

Bagi Ina, sosok ayah dan ibu tidak hanya menjadi pemotivator bagi dirinya. Tetapi secara tidak langsung, apapun yang dilakukan mereka selalu menginspirasi dirinya. Mamah Ina masih mengingat sekali petuah yang diberikan oleh sang ayah. Contohnya, mamah Ina selalu diingatkan agar selalu menjaga kejujuran. Pasalnya, kejujuran akan membuka pintu kebaikan lainnya.

“Dan itu terbukti, sehingga jujur adalah satu syarat utama yang harus dimiliki oleh seseorang jika ia ingin bergabung dengan keluarga usaha Ina Cookies,” papar Ina.

Jika melihat keberhasilan Ina Cookies saat sekarang, waktu 32 tahun bukanlah waktu sedikit. Peralihan operasional manajemen dan kepemimpinan Ina Cookies mulai diturunkan kepada putri sulungnya. Mamah Ina dengan keberhasilannya dalam berwirausaha sering diminta oleh beragam lembaga, baik pemerintahan ataupun swasta untuk menjadi motivator usaha. Bahkan, kerja sama sudah terjalin puluhan tahun dengan pesantren Daarut Tauhid untuk berbagi ilmu usaha kepada para calon pensiunan yang ingin berwirausaha setelah pensiun nanti.

Bagian terberat yang diutarakan pemilik Ina cookies ini adalah bagaimana menjaga keberlangsungan gaji karyawannya yang sudah berjumlah ribuan. Terkadang, ada usulan dari orang lain untuk mengganti SDM dengan mesin yang canggih. Namun, dengan bijak mamah Ina mengatakan bahwa mesin tidak bisa berdoa untuk keberlangsungan usaha ini.
 
Dengan filosofi dan tujuan kebermanfaatan seperti ini, tak heran, bila banyak yang mendoakan mamah Ina sehingga pintu keberkahan sering datang bertubi-tubi.

“Misalnya, ada seseorang yang tidak dikenal mau menyumbang puluh bahkan ratusan juta rupiah hanya karena melihat Ina cookies memberikan manfaat kepada banyak karyawaan dan warga sekitar. Para mitra Ina Cookies pun bisa bertumbuh dengan pesat karena memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan manfaat kepada orang lain,” paparnya.

Penyuka kegiatan kreatif ini sering haus ilmu mengenai membuat kue hingga sampai belajar ke Amerika dan negara lainnya. Mamah Ina memang seolah tak pernah kehabisan energi. Tak heran bila banyak komunitas momspreneur yang mendaulatnya menjadi pimpinan suatu majelis atau komunitas. Alasanya, mamah Ina itu luwes, cerdas, dan kreatif. Selain itu, dalam keseharian pun mamah Ina selalu bisa membuat orang-orang yang berada di sekitarnya penuh energi dan semangat. 

Segudang pengalamannya tentang bisnis selalu ikhlas dibagikan. Karena itu, mamah Ina menjadi sosok inspirator bagi banyak orang. “Bagi saya, hidup bukan hanya mengejar harta, karena harta akan ditinggal. Tetapi amal baik dan kebermanfaatan itu nomor satu, serta selalu dahulukan Allah adalah prinsip utamanya,” tegas mamah Ina Cookies, produsen kue dari Bandung ini. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES