Mencicipi Sompil Dapur Mbah Yem, Kuliner Tradisional Legendaris Khas Tulungagung Selatan

TIMESINDONESIA, TULUNGAGUNG – Sompil atau lontong sayur masih menjadi menu kuliner favorit bagi masyarakat Kabupaten Tulungagung. Sompil merupakan menu makanan tradisional berupa irisan lontong, yang biasa disajikan bersama opor ayam, ataupun sayur lodeh nangka muda, kacang panjang, pepaya muda dan juga rebung.
Menikmati kuliner tradisional yang identik dengan rasa pedas ini akan semakin nikmat dengan lauk rempeyek kacang atau rempeyek udang ebi dan tempe goreng. Di wilayah Kabupaten Tulungagung, terdapat dua macam cara penyajian sompil. Penyajian yang pertama, setelah sompil diguyur dengan sayur lodeh, sompil akan diberi taburan bubuk koya kedelai. Sedangkan penyajian yang kedua, selain sayur lodeh sebagai pelengkap utama, sompil akan disiram lagi dengan sambel kacang atau lebih dikenal dengan nama sambel pecel.
Advertisement
Menjadi salah satu menu favorit di masyarakat, keberadaan penjual sompil di Tulungagung tidaklah sulit ditemui. Menu sompil banyak ditemukan mulai dari pedagang kaki lima di pinggir jalan, di sentra-sentra kuliner, hingga warung-warung yang khusus menyediakan menu sompil. Salah satu warung sompil legendaris di Tulungagung adalah Sompil Dapur Mbah Yem.
"Kalau disini pakai sambel pecel, selain sompil menunya ada nasi pecel juga," ujar Supirah (55), generasi kedua pengelola Sompil Dapur Mbah Yem.
Sompil Dapur Mbah Yem cukup terkenal di kalangan pecinta kuliner tradisional. Warung sompil yang berdiri sejak tahun 1983 tersebut, berada di wilayah Tulungagung selatan, tepatnya di RT 01 RW 03, Dusun Kroyo, Desa Wateskroyo, Kecamatan Besuki. Sejak puluhan tahun lalu, tempat jualan sompil legendaris ini memanfaatkan ruangan dapur sederhana yang berada di bagian belakang rumah milik Katiyem atau akrab dipanggil Mbah Yem tersebut.
"Dinamakan Sompil Dapur karena sejak dulu jualannya ya di dapur begini ini mas," terang Supirah, anak Mbah Yem yang kini menjadi penerus usaha ibunya tersebut.
Dapur tempat jualan sompil ini sangat sederhana khas dapur rumah tradisional adat jawa. Dapur berukuran sekitar 10x6 meter, berdinding anyaman bambu yang berjelaga di sana-sini akibat terkena asap dari dua tungku kayu, yang digunakan untuk memasak sompil dan sayur serta menggoreng rempeyek. Di dalam dapur terdapat tiga buah meja beserta bangku kayu, yang disiapkan bagi pelanggan yang makan sompil di tempat ataupun menunggu pesanan.
"Dapur ini sudah dua kali dibongkar khawatir kayunya lapuk karena kan memang sudah lama, tapi ternyata kayunya masih kuat. Jadi bongkar itu ya cuma untuk membersihkan jelaga yang hitam-hitam di atap itu," ungkap Supirah.
Supirah mengaku meneruskan usaha jualan sompil ibunya sejak lebih dari 20 tahun lalu. Mbah Yem yang memiliki nama lengkap Katiyem saat ini telah berusia 93 tahun. Sehari-hari Mbah Yem yang sudah renta lebih sering tiduran di kursi di teras dapur, sambil membantu mengupas bumbu untuk memasak sayur.
"Saya menggantikan jualan semenjak mbahnya (mbah Yem) sepuh itu sekitar tahun 1990an," kata Supirah.
Meski tempat makan yang satu ini jauh dari suasana mewah dan hanya berada di dapur, namun hal itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Menikmati makan sompil di Sompil Dapur Mbah Yem suasananya seperti makan di rumah nenek sendiri. Asiknya lagi pelanggan bisa menikmati makanan sambil melihat langsung proses pembuatan sompil, mulai dari memasak lontong di panci besar, proses penggorengan rempeyek, serta proses memasak sayur lodeh.
"Kalau malam disini anget mas dekat pawonan (tungku kayu), tapi kalau siang ya begini agak panas," ujar Supirah.
Bagi yang ingin menikmati sompil dengan suasana di luar ruangan, di teras dapur dan halaman juga disediakan beberapa lincak atau kursi bambu sederhana. Sompil Dapur Mbah Yem sendiri buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga pukul 22.00 WIB.
Meski tergolong menu makanan tradisional, namun pelanggan Sompil Mbah Yem kebanyakan adalah kalangan muda. Menurut Supirah, para pelanggan akan ramai berdatangan pada sore hingga malam hari. Selain pelanggan lokal dari wilayah Tulungagung, tidak jarang pembeli sompil adalah warga dari luar kota yang penasaran dengan sompil Mbah Yem.
"Yang pernah datang kesini ada yang dari Jakarta, Surabaya, Malang, Blitar, Kediri," katanya.
Saat ditanya terkait omset jualannya, Supirah enggan berterus terang dan mengaku tidak memiliki catatan. Sambil merendah dia mengaku dalam sehari hanya memasak 10 kg beras untuk membuat lontong. Seporsi sompil di Sompil Dapur Mbah Yem dibanderol dengan harga Rp. 7.000. Meski tergolong sangat ramah di kantong, namun porsinya cukup besar apalagi bagi perempuan.
"Sehari itu paling ya melayani 200an porsi," ucap Supirah.
Salah seorang pelanggan Sompil Dapur Mbah Yem, Dea Safira (22) mengatakan, sompil Mbah Yem memiliki ciri khas citarasa tersendiri. Dia mengaku sering makan sompil di tempat ini sejak masih duduk di bangku SMA.
"Tau sompil Mbah Yem ini sejak SMA sekitar tahun 2018," ucap Dea selepas menikmati sepiring sompil.
Menurut Dea, rasa sayur lodeh dan sensasi pedas sompil Mbah Yem berbeda dengan sompil di tempat-tempat lain. Demikian juga dengan lauk rempeyek dan tempe goreng yang gurih dan berbeda dari tempat lain, membuatnya semakin ketagihan untuk menikmati sompil Mbah Yem bersama teman-temannya.
"Enak, pedes, rasanya kayak bikin nagih gitu. Suasananya rumahan banget," pungkasnya.(*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Ferry Agusta Satrio |
Publisher | : Rizal Dani |