Arabika Gayo Puncaki Daftar TasteAtlas 2026, Perkuat Reputasi Kopi Indonesia di Asia
Kopi Arabika Gayo dari Aceh menempati peringkat pertama biji kopi terbaik Asia versi TasteAtlas 2026. Pengakuan ini memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar global.
JAKARTA – Reputasi kopi Indonesia kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional. Kopi Arabika Gayo asal Aceh menempati posisi pertama dalam daftar Top Asian Coffee Beans 2026 yang dirilis platform kuliner global TasteAtlas, mengungguli kopi-kopi premium dari Thailand hingga Yaman.
Pengakuan tersebut menjadi sinyal bahwa kopi Indonesia masih memiliki daya saing kuat di pasar internasional, terutama di tengah meningkatnya tren konsumsi kopi spesialti yang mengedepankan kualitas, asal-usul, dan karakter cita rasa.
TasteAtlas menjelaskan, daftar tersebut disusun berdasarkan penilaian pengguna yang telah melalui sistem verifikasi untuk menyaring ulasan tidak valid maupun penilaian yang bias. Hingga 8 Juli 2026, terdapat 28 penilaian, dengan 19 di antaranya dinyatakan sah oleh sistem.
Platform tersebut juga menegaskan bahwa pemeringkatan bukan dimaksudkan sebagai daftar mutlak kopi terbaik di dunia, melainkan untuk memperkenalkan kekayaan kopi khas berbagai daerah sekaligus mendorong pelestarian tradisi kuliner lokal.
Arabika Gayo Tetap Menjadi Andalan Indonesia
Arabika Gayo dikenal sebagai salah satu kopi spesialti terbaik Indonesia yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Kopi ini memiliki karakter clean cup, tingkat keasaman rendah, body sedang hingga penuh, dengan cita rasa herbal, earthy, serta rempah yang menjadi ciri khasnya.
Keunggulan tersebut diperkuat dengan sertifikat Indikasi Geografis (IG) yang menjamin asal-usul sekaligus karakter budidaya kopi Gayo.
Budidaya Arabika Gayo telah berlangsung sejak awal abad ke-20. Tanaman kopi dibudidayakan di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.200–1.700 meter di atas permukaan laut, kondisi yang dinilai ideal untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi.
Thailand Tempatkan Dua Wakil
Thailand menjadi negara dengan jumlah kopi terbanyak dalam daftar empat besar melalui Kafae Doi Chaang dan Kafae Doi Tung.
Kafae Doi Chaang menempati posisi kedua berkat perpaduan rasa manis dan asam yang seimbang, dengan aroma madu, bunga, ceri, serta sentuhan cokelat dan hazelnut setelah proses sangrai.
Sementara Kafae Doi Tung berada di peringkat ketiga. Kopi yang ditanam di bawah naungan hutan tersebut dikenal memiliki body sedang, aroma manis, serta tingkat keasaman yang lembut karena proses pematangan buah yang berlangsung lebih lambat.
Yemeni Mocha Masuk Empat Besar
Posisi keempat ditempati Yemeni Mocha, salah satu kopi paling legendaris di dunia yang berasal dari kawasan pegunungan Yaman.
Kopi ini menawarkan karakter rasa kompleks dengan nuansa cokelat alami, buah-buahan, dan sentuhan menyerupai wine. Nama "Mocha" sendiri berasal dari Pelabuhan Al Mokha yang pada abad ke-15 menjadi pusat perdagangan kopi dunia.
TasteAtlas mengingatkan bahwa Yemeni Mocha berbeda dengan minuman caffè mocha, karena merupakan kopi single origin yang diproses secara tradisional melalui metode pengeringan di bawah sinar matahari.
Pengakuan terhadap Arabika Gayo menjadi momentum penting bagi industri kopi nasional. Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap kopi spesialti, penguatan kualitas budidaya, sertifikasi Indikasi Geografis, hingga promosi berbasis asal-usul daerah dinilai menjadi modal utama untuk meningkatkan nilai tambah ekspor kopi Indonesia.
Keberhasilan Arabika Gayo juga menunjukkan bahwa daya saing kopi Indonesia tidak hanya bertumpu pada volume produksi, tetapi juga pada identitas, kualitas, dan cerita budaya yang melekat di setiap daerah penghasil kopi.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


