Advertisement
Kuliner

Bertahan 27 Tahun, Soto Bathok Legendaris Tayu Pati Tetap Ramai Pembeli

Soto Bathok Legendaris di Tayu, Pati, mempertahankan resep turun-temurun sejak 1998. Disajikan dalam batok kelapa, kuliner ini laris hingga 100 porsi per hari.

TIMES Indonesia,
Bertahan 27 Tahun, Soto Bathok Legendaris Tayu Pati Tetap Ramai Pembeli
Jumi'ah, pemilik warung Soto Bathok Legendaris, Tayu Wetan, Pati, menunjukkan hidangan soto ayam kampung yang disajikan secara unik dalam mangkok batok kelapa, Jumat (24/7/2026). (Foto: Ezra/TIMES Indonesia)
A-AA+

PATI Uap panas beraroma sedap membubung tinggi dari kuali sebuah warung sederhana dengan papan nama "Soto Bathok Legendaris" di Desa Tayu Wetan, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati.

Uap itu menguarkan aroma gurih racikan soto ayam kampung yang memikat selera. 

Advertisement

Di balik kuali tersebut, Jumi’ah dengan cekatan melayani satu per satu pembeli yang datang, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan itu telah ia jalani secara konsisten selama lebih dari dua dekade.

Jumi'ah merintis usaha kuliner ini sejak tahun 1998. Saat itu dia berjualan di pinggir Jalan Raya depan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Tayu. 

Meski zaman dan tren kuliner terus berganti, ia tetap bertahan hingga akhirnya memboyong cita rasa legendarisnya ke lokasi baru di Tayu Wetan sejak dua pekan belakangan. 

Di tempat baru ini, ia menghadirkan sentuhan unik, yaitu menyajikan soto di dalam mangkok bathok atau tempurung kelapa.

Advertisement

Di tengah gempuran kuliner modern, Jumi’ah memilih setia pada resep warisan keluarga berupa soto ayam kampung tanpa santan yang menghasilkan kuah bening segar serta kaya rempah. 

Tampilan hidangan soto ayam kampung di warung Soto Bathok Legendaris, Tayu Wetan, Pati. (Foto: Ezra/TIMES Indonesia)
Tampilan hidangan soto ayam kampung di warung Soto Bathok Legendaris, Tayu Wetan, Pati. (Foto: Ezra/TIMES Indonesia)

"Bumbunya saya racik sendiri dengan resep turun-temurun dari keluarga," kata Jumi'ah, Jumat (24/7/2026).

Penggunaan tempurung kelapa sebagai wadah makan bukan sekadar mengejar tampilan visual unik. 

Bagi Jumi'ah, wadah alami tersebut mampu menjaga kehangatan kuah sekaligus memberikan aroma khas yang menyempurnakan racikan bumbunya. 

Untuk menikmati hidangan bernuansa tradisional ini, pembeli hanya perlu merogoh kocek Rp10.000 per porsi.

Setiap hari, Jumi'ah sudah bersiap menyambut pelanggan pertamanya sejak pukul 06.00 WIB. 

Ketelatenannya pun membuahkan hasil manis, di mana tak kurang dari 100 porsi soto ludes terjual saban hari, bahkan kerap habis sebelum pukul 14.00 WIB.

Untuk menjangkau penikmat kuliner yang lebih luas, usaha klasik ini juga beradaptasi ke ranah digital melalui promosi intens di akun Instagram dan TikTok @sotobathoklegendaris. 

Konsistensi menjaga cita rasa dari tahun ke tahun tak hanya menarik pelanggan baru, tetapi juga menciptakan ikatan emosional bagi warga sekitar yang dahulu pernah menikmati sajian serupa. 

Salah satu pembeli yang tertarik berkunjung adalah Anin, warga Kedungbang, Tayu, yang merupakan alumnus MAN 2 Pati. 

Rasa penasaran mendorongnya datang langsung untuk mencicipi hidangan yang tengah cukup ramai dibicarakan di media sosial tersebut. 

Bagi Anin, porsi yang pas, rasa gurih yang cocok di lidah, serta cara penyajian yang unik menjadi alasan utama soto ini sangat layak dicoba.

"Di sekolah saya dulu ada yang jualan soto bathok, akhirnya saya tertarik ke sini. Porsinya pas, rasanya enak, penyajiannya estetik karena pakai mangkok batok kelapa," ungkap Anin seusai menikmati semangkuk soto hangat di lokasi.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ezra Vandika
PenulisEzra VandikaPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2025. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia