Advertisement
Liputan Khusus

2.2 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek Selama Mudik Lebaran

Arus balik Lebaran 2026 diprediksi memuncak 24, 28, 29 Maret. Jasa Marga imbau pemudik atur jadwal dan manfaatkan WFA untuk hindari macet.

TIMES Indonesia,
2.2 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek Selama Mudik Lebaran
Gerbang Tol Cikampek Utama. (ANTARA/HO-Jasamarga)
A-AA+

JAKARTA Pergerakan arus balik Lebaran 2026 mulai menunjukkan lonjakan signifikan bahkan sejak H+1. Di tengah tren ini, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mengingatkan satu hal krusial: waktu perjalanan kini menjadi faktor penentu kelancaran, bukan sekadar rute.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, secara terbuka mengimbau masyarakat untuk menghindari puncak arus balik yang diprediksi terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret 2026. Lonjakan lalu lintas yang masih tinggi hingga H+1 menjadi indikator bahwa gelombang balik berpotensi lebih padat dibanding tahun sebelumnya.

Advertisement

“Melihat masih tingginya lalu lintas mudik yang meninggalkan wilayah Jabotabek hingga H+1 Lebaran, kami mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan kembali dengan menghindari puncak arus balik,” ujarnya.

Data Lalu Lintas: Sinyal Lonjakan Arus Balik

Data Jasa Marga mencatat, sebanyak 2.217.462 kendaraan telah meninggalkan wilayah Jabotabek pada periode H-10 hingga H+1 Lebaran 2026. Angka ini melonjak 27,1 persen dibandingkan kondisi normal.

Dari total tersebut, mayoritas kendaraan mengarah ke Timur (Trans Jawa dan Bandung) sebesar 54,9 persen atau sekitar 1,21 juta kendaraan. Sementara itu, 25 persen menuju arah Barat (Merak) dan 20,1 persen ke arah Selatan (Puncak).

Secara kumulatif, angka ini telah mencapai 62,8 persen dari total proyeksi 3,5 juta kendaraan yang diperkirakan keluar dari Jabotabek sepanjang periode Lebaran tahun ini. Artinya, potensi arus balik besar masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Pada H+1 saja, lalu lintas keluar Jabotabek tercatat 210.209 kendaraan, meningkat 57,3 persen dari kondisi normal. Sementara arus balik menuju Jabotabek masih relatif lebih rendah, yakni 170.681 kendaraan.

Advertisement

Strategi Jasa Marga: Rekayasa dan Distribusi Arus

Mengantisipasi lonjakan arus balik, Jasamarga Transjawa Tol (JTT) memperkuat layanan di ruas strategis, khususnya Tol Jakarta–Cikampek sebagai gerbang utama dari arah Timur.

Data terbaru menunjukkan 12.624 kendaraan melintas di Gerbang Tol Cikampek Utama pada satu periode shift, meningkat 49,75 persen dari kondisi normal. Ini menjadi sinyal awal kepadatan yang berpotensi meningkat dalam waktu dekat.

Corporate Secretary & Legal JTT, Ria Marlinda Paallo, menyatakan bahwa koordinasi dengan kepolisian menjadi kunci dalam pengambilan keputusan cepat di lapangan.

“JTT terus berkoordinasi intensif bersama kepolisian untuk memastikan rekayasa lalu lintas dilakukan secara cepat dan tepat,” ujarnya.

Sebagai langkah teknis, sebanyak 22 gardu tol dioperasikan di GT Cikampek Utama, ditambah pembukaan akses GT Cikampek Utama 8 guna mendistribusikan arus kendaraan lebih merata.

One Way dan Contraflow: Skema Dinamis di Lapangan

Rekayasa lalu lintas juga diberlakukan secara situasional di berbagai titik krusial. Di ruas Tol Cikopo–Palimanan (Cipali), sistem one way menuju Jakarta mulai diterapkan pada Senin pukul 17.08 WIB.

Dalam periode H+1 hingga sore hari, tercatat sekitar 38 ribu kendaraan melintasi Cikopo menuju Jakarta—melonjak hingga 101 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Langkah ini merupakan bagian dari skema one way lokal dari KM 263 hingga KM 70, yang disesuaikan dengan diskresi Korlantas Polri.

Pihak operator tol menekankan bahwa rekayasa ini bertujuan mengurai kepadatan sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan, termasuk larangan berhenti di bahu jalan dan penggunaan u-turn selama sistem berlangsung.

WFA dan Diskon Tol: Instrumen Redam Kepadatan

Menariknya, strategi pengelolaan arus balik tahun ini tidak hanya berbasis infrastruktur, tetapi juga kebijakan kerja. Jasa Marga mendorong masyarakat memanfaatkan skema Work From Anywhere (WFA) pada 25–27 Maret 2026 untuk menggeser waktu perjalanan.

Selain itu, diskon tarif tol sebesar 30 persen pada 26–27 Maret 2026 di sembilan ruas tol Jasa Marga Group juga disiapkan sebagai insentif distribusi lalu lintas.

“Untuk menghindari penumpukan kendaraan, kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan perjalanan pada waktu favorit seperti pagi dan malam hari,” kata Rivan.

Keselamatan Jadi Prioritas

Di tengah berbagai strategi tersebut, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Pengguna jalan diimbau memastikan kendaraan dalam kondisi prima, kecukupan bahan bakar, serta saldo uang elektronik.

Selain itu, pemudik juga diminta bijak memanfaatkan rest area dan mematuhi seluruh rambu serta arahan petugas.

Arus balik Lebaran 2026 pada akhirnya bukan hanya soal kembali ke kota, tetapi bagaimana perjalanan itu bisa berlangsung aman, tertib, dan terkelola dengan baik di tengah jutaan kendaraan yang bergerak bersamaan.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia