Advertisement
Liputan Khusus

Bunuh Diri di Kota Malang: Bukan Lagi Soal Angka dan Statistik

Angka bunuh diri di Malang terus meningkat. Dari Jembatan Suhat hingga gedung kampus, bunuh diri bukan lagi soal kasus individual. Kota Malang butuh ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi dan responsif terhadap kesehatan mental anak didiknya.

TIMES Indonesia,
Bunuh Diri di Kota Malang: Bukan Lagi Soal Angka dan Statistik
Ilustrasi - Kasus Bunuh Diri (FOTO: Humas UGM for TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Sepanjang 2023, sudah 25 nyawa melayang di Kota Malang. Angka itu bertambah lima kasus lagi, hanya dalam enam bulan pertama 2024. Terakhir, beberapa saat lalu, seorang mahasiswa menjatuhkan diri dari lantai 11 dari apartemen di jalan Soekarno Hatta. Dia bunuh diri dan meninggal di tempat.

Sebuah riset yang dilakukan dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Fuji Puji Astutik mengungkap fakta yang lebih mengkhawatirkan. Dari sampel sekitar 300–400 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang, lebih dari 50% responden berada pada kategori kecenderungan ide bunuh diri tingkat sedang hingga tinggi. Tekanan akademik, pengaruh media sosial, dan ekspektasi sosial/standar hidup yang menekan adlah faktor pemicunya.

Advertisement

Liputan Khusus kali ini mencoba melihat kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri bukan lagi sebagai kasus individual semata. Deretan laporan dan data bunuh diri dari kepolisian adalah sebuah bentuk menurunnya tingkat kesehatan mental masyarakat.

Data, Lokasi, dan Pola yang Berulang

Data dari Polresta Malang Kota mencatat setidaknya 25 kasus bunuh diri sepanjang 2023. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di Kabupaten Malang, lonjakan mencapai 52,38 persen dalam periode satu tahun antara 2022 hingga 2023. Status "darurat bunuh diri" pun sempat melekat pada kota Malang setelah tiga kasus terjadi hanya dalam waktu satu pekan.

Di balik data dan angka itu, ternyata ada pola yang terulang. Ada lokasi yang sama menjadi saksi bisu upaya bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang berulang.

Jembatan Soekarno-Hatta, yang akrab disebut Jembatan Suhat, misalnya. Sepanjang 2024 hingga awal 2026, setidaknya empat kali aparat kepolisian harus turun tangan menggagalkan upaya bunuh diri di jembatan ini. Psikolog menjelaskan bahwa pemilihan lokasi yang sama secara berulang berkaitan erat dengan kondisi psikologis individu yang sudah terdesak dan paparan informasi dari peristiwa sebelumnya. Ketika sebuah lokasi diberitakan secara luas sebagai tempat bunuh diri, hal itu dapat membentuk gambaran dalam pikiran mahasiswa yang rapuh bahwa lokasi tersebut adalah pilihan yang tersedia bagi mereka.

Advertisement

Pada 19 Januari 2026, seorang mahasiswi Universitas Brawijaya berinisial TAM, 24 tahun, asal Jakarta Selatan, melompat dari jembatan tersebut. Dia selamat, meski mengalami patah tulang di tangan kanan.

Dua bulan kemudian, tepatnya 25 Maret 2026, seorang pria berinisial SF, 26 tahun, nyaris melakukan hal yang sama. Petugas Pos Pengamanan UB yang tengah memantau arus lalu lintas melihatnya mondar-mandir di pinggir jembatan sambil menangis histeris.

"Saat mencoba melompat ke sungai, anggota kami bersama warga segera bergerak cepat mengamankan yang bersangkutan," ujar Kapospam UB Iptu Tri Sulistyo, Kamis (26/3/2026).

SF, yang ternyata adalah warga Lowokwaru, mengaku nekat karena masalah pribadi dengan kekasih dan keluarga kekasihnya.

Cerita keduanya hampir sama, dengan variasi berbeda. Dan terus berulang.

Dari Apartemen hingga Makam

Yang lebih tragis terjadi di Apartemen Soekarno Hatta pada hari yang sama, 25 Maret 2026, dini hari. CLS, mahasiswa semester dua salah satu perguruan tinggi negeri di Malang asal Sawah Besar, Jakarta Pusat, ditemukan meninggal di lantai dasar apartemen. Dia diduga sengaja menjatuhkan diri dari kamar nomor 51 di lantai 11.

Sebelumnya, korban mengunggah pesan perpisahan di media sosial. Ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada orang-orang yang disayanginya. Teman kuliahnya mengungkap, CLS memang sudah punya niat mengakhiri hidupnya sejak setahun lalu.

"Korban juga diketahui sudah memiliki niat untuk mengakhiri hidup sejak sekitar satu tahun lalu," kata Kapolsek Lowokwaru, Anang Tri Hananta, Rabu, (25/3/2026). Jadi, selama setahun, ada pergulatan hebat dalam diri CLS yang luput dari perhatian orang di sekelilingnya sebelum dia memutuskan untuk bunuh diri.

Tak hanya apartemen dan jembatan, area makam pun menjadi saksi. Pada 2 Februari 2026 lalu, seorang mahasiswa asal Pontianak ditemukan tewas gantung diri di area makam umum Betek, Jalan Mayjen Panjaitan, Kota Malang. Belum diketahui secara pasti latar belakang pemuda itu mengakhiri hidupnya. Namun, kasus ini menambah daftar panjang lokasi-lokasi yang tak biasa menjadi tempat seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Yang menarik dari data yang sudah dihimpun TIMES Indonesia. Mayoritas korban adalah individu yang sedang menempuh pendidikan atau baru saja menyelesaikan masa studinya.

Adapun kelompok usia remaja akhir dan dewasa awal, antara 17 hingga 24 tahun, merupakan segmen yang paling terpapar risiko.

Membedah Akar Masalah

Sejumlah psikolog yang berbicara dengan TIMES Indonesia dalam berbagai kesempatan menekankan satu hal yang sama. Bahwa tekanan akademik yang selama ini dinilai sebagai pemicu utama bunuh diri, ternyata hanyalah pemicu saja. Ketahanan mental yang rapuh lah yang  jadi masalah utamanya.

Kasus mahasiswa berinisial MAS (24 tahun) yang terjun ke Sungai Brantas di tahun 2023 adalah contoh nyatanya. Bahwa depresi akibat studi dapat berakibat fatal.

MAS tercatat sebagai mahasiswa semester 9 di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Dia diduga melakukan tindakan tersebut karena skripsinya tak kunjung kelar. Tekanan lingkungan, baik keluarga maupun teman sebaya soal nasib skripsinya, memicu kecemasan dan perasaan gagal yang mendalam. Kegagalan dalam mencapai tujuan akademik atau hambatan dalam proses bimbingan membuat individu merasa terjebak dalam keputusasaan dan tanpa jalan keluar yang ideal.

Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menangkap kegelisahan ini. Dalam pernyataannya kepada media pada 24 Januari 2026 lalu, dia mengungkapkan bahwa setahun sebelumnya ia sempat menerima audiensi yang menyinggung Malang sebagai semacam "destinasi bunuh diri".

"Ini tidak baik dan harus kita atasi bersama. Meski sebagian korban bukan warga Kota Malang, tetap menjadi concern kita. Narasi di ruang digital bisa menjadi penghantar ide bagi mereka yang mentalnya sedang tidak stabil," ujar Amithya.

Narasi itu, menurutnya, sangat berbahaya. Dia mengingatkan bahwa gangguan mental yang tampak ringan bisa menjadi bom waktu bila bertemu dengan pemicu. Seperti tekanan akademik, masalah keluarga, atau lingkungan pertemanan.

Amithya kemudian mendorong adanya skrining kesehatan mental, khususnya bagi mahasiswa baru, secara berkala di perguruan tinggi.

"Tambahkan saja item kesehatan mental. Jangan mengabaikan catatan-catatan mahasiswa. Kalau sejak awal ada indikasi di luar normal, itu harus jadi perhatian dan diestafetkan ke pengajar lain," katanya, Sabtu (24/1/2026).

Pandemi yang Tak Usai

Pernyataan Amithya itu sebenarnya sudah dicermati sebelumnya oleh para akademisi. Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo misalnya. Dalam pernyataannya soal tragedi mahasiswa NFR yang tewas di Jembatan Suhat pada 28 November 2025 lalu, dia menyebut bahwa akar persoalan mungkin lebih dalam dari soal skripsi yang tak kunjung selesai.

Ia merujuk pada dampak pandemi COVID-19 yang membuat generasi muda kehilangan ruang untuk berinteraksi, bersosialisasi, dan belajar membangun hubungan sosial yang sehat selama hampir tiga tahun.

"Anak-anak muda hampir tiga tahun tidak sekolah, sehingga hubungan sosialnya mengalami masalah. Saya kira itu inti permasalahannya," ujar Prof. Widodo dalam acara Sabda Budaya 2025 FIB UB, Rabu, (3/12/2025) lalu.

Pandemi memang telah berlalu, tetapi luka yang ditinggalkannya masih menganga. Ribuan mahasiswa yang masuk perguruan tinggi di Malang pasca-pandemi adalah mereka yang masa-masa formatif pembentukan karakter sosialnya terjadi di balik layar gadget. Mereka belajar tentang dunia melalui algoritma, bukan melalui interaksi langsung yang kaya akan nuansa emosional.

Akibatnya, ketika harus berhadapan dengan tekanan akademik yang nyata, seperti skripsi yang tak kunjung selesai, dosen pembimbing yang sulit ditemui, nilai yang tak memuaskan, atau ancaman drop out, mereka tak memiliki perangkat nilai yang memadai untuk mengelola stres.

Dan ketika stres itu bertemu dengan tekanan lain yang tak kalah berat seperti masalah ekonomi keluarga, konflik dengan orang tua, putus cinta, atau kesepian di tanah rantau, maka pikirannya pun jadi sempit.

"Yang namanya manusia tidak semuanya mulus. Ada hambatan sana-sini. Relatif problem yang muncul tidak single. Tidak hanya skripsi saja tapi juga bisa keuangan, keluarga, pertemanan, dan lainnya," kata Prof. Widodo.

Mencari Jalan Keluar

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat merespons insiden bunuh diri, mengambil sikap yang menarik. Ia menolak pendekatan fisik semata, seperti penambahan pagar di jembatan-jembatan yang kerap menjadi lokasi percobaan bunuh diri. Padahal, setelah kasus di Jembatan Tunggulmas pada April 2025 yang merenggut nyawa mahasiswa asal Jakarta Timur, pemkot justru baru saja memasang pagar pembatas di lokasi tersebut.

"Sebetulnya jangan salahkan jembatannya. Jembatan ini fungsinya untuk menyeberangkan kendaraan," ujar Wahyu, Jumat, (11/4/2025).

Wahyu menegaskan, solusi utama harus menyentuh akar persoalan: kondisi psikologis masyarakat yang saat ini rentan dan labil.

"Kalau dari pagar itu sebenarnya sudah kami lakukan. Tetapi yang akan kami coba lagi adalah dengan pendekatan lain, karena yang harus diselesaikan itu akarnya," katanya di Balai Kota Malang, Senin (19/1/2026).

Pendekatan lain yang dimaksud Wahyu adalah pendekatan psikologis dan sosial. Ia berencana melibatkan Forum Rektor dalam pembahasan persoalan ini, menjadikan isu kesehatan mental sebagai agenda penting yang dievaluasi bersama kalangan akademisi.

"Masyarakat sekarang ini harus dilakukan pendekatan-pendekatan psikologi," tegasnya.

Pemerintah Kota Malang sendiri telah berkomitmen untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan jiwa melalui berbagai inovasi kebijakan dan teknologi. Mobile Keswa, misalnya, memungkinkan tim medis puskesmas melakukan skrining kesehatan jiwa dan kunjungan rumah secara proaktif untuk mengidentifikasi risiko gangguan jiwa pada individu secara dini.

Penguatan Puskesmas juga didorong untuk meningkatkan kapasitas layanan, terutama yang memiliki poli jiwa, untuk menangani konseling, diagnosis, dan pengobatan gangguan mental bagi warga dengan syarat administratif yang mudah.

Gerakan dari Akar Rumput

Pendekatan itu, jika dilakukan secara konsisten, sebenarnya sudah mulai menunjukkan hasil. Di luar jalur birokrasi, muncul inisiatif-inisiatif yang memberi harapan.

"Happy to Hope Box" di Jembatan Suhat, misalnya. Terinspirasi dari kampanye "Bridge of Life" di Korea Selatan, mahasiswa Universitas Brawijaya menempatkan kotak-kotak di jembatan di mana siapa saja dapat menuliskan pesan penyemangat atau membacanya saat merasa putus asa.

Pesan-pesan positif itu bertujuan untuk mengingatkan individu bahwa mereka tidak sendirian. Proyek ini mendapat apresiasi luas di media sosial dan dukungan resmi dari Polres Malang Kota.

Di ranah yang lebih terstruktur, Yayasan Mahargijono Schutzenberger Indonesia melalui program Indonesia Sehat Jiwa (ISJ) melantik 170 pelajar di Kota Malang sebagai Peer Support Buddy Anti-Bullying & Suicide Prevention Squad pada Jumat, (26/9/2025), di Malang Creative Center.

Sofi Ambarini, Ketua Yayasan sekaligus pendiri ISJ, mengatakan bahwa para relawan ini akan menjadi sahabat pertama yang siap mendengar, merespons, dan memberikan dukungan awal kepada teman sebaya di sekolah.

"Pemilihan duta anti-bullying ini adalah salah satu cara untuk mencegah kasus perundungan di masa depan. Kami ingin mendidik generasi muda agar lebih sadar, berempati, dan mampu membantu sesama," ujarnya.

Para relawan dibekali keterampilan asesmen kesehatan mental, cara merespons curhat teman dengan tepat, hingga kemampuan mendengarkan dengan empati. Mereka juga didampingi oleh guru BK di sekolah, psikolog, dan psikiater dari Rumah Sakit Universitas Brawijaya.

"Kalau hanya mengandalkan psikiater atau psikolog, jumlahnya tidak akan pernah cukup. Justru generasi muda harus terlibat aktif menyelesaikan masalah yang ada di generasi mereka," tegas Sofi.

Perguruan tinggi besar di Malang juga telah memperkuat infrastruktur layanan kesehatan mental mereka. Universitas Muhammadiyah Malang melalui Pusat Bimbingan dan Konseling menekankan pada konseling pemberdayaan, di mana mahasiswa diajak untuk mengenali kekuatan diri dan sumber persoalan dengan bantuan konselor sebagai penguat.

Universitas Negeri Malang menjadikan kesehatan mental mahasiswa sebagai prioritas dengan menyediakan layanan konseling gratis melalui Pusat Bimbingan Konseling, Karir, dan Kewirausahaan. Bahkan, Universitas Brawijaya melibatkan seluruh komunitas akademik dalam pencegahan, mulai dari penyampaian materi kesehatan mental saat pengenalan kampus hingga pelatihan psikologi bagi dosen wali.

Peran Media: Antara Edukasi dan Sensasionalisme

Inisiatif-inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa pencegahan bunuh diri tidak bisa dilakukan secara parsial atau hanya mengandalkan satu pihak. Manajer Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa pencegahan harus berbasis komunitas dan melibatkan berbagai sektor.

"Pencegahan bunuh diri adalah langkah sistemik. Bukan hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi membangun rasa aman dan kepedulian dalam masyarakat," ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Dia juga menyoroti pentingnya literasi kesehatan mental agar masyarakat mampu melakukan deteksi dini, serta memperkuat ketahanan diri melalui akses layanan psikologis yang terjangkau. Tak kalah penting, ia mengajak media dan tokoh publik untuk mengubah narasi seputar kesehatan mental ke arah yang lebih empatik.

"Peran media sangat besar dalam mengurangi stigma sosial. Narasi yang penuh dukungan akan membantu individu merasa tidak sendirian menghadapi masalah," katanya.

Sayangnya, tidak semua media menjalankan peran itu dengan baik. Analisis terhadap pemberitaan media lokal di Malang menunjukkan adanya pelanggaran etika jurnalistik yang justru dapat memperburuk krisis mental di kalangan pembaca muda. Pemberitaan yang sensasional, terlalu detail dalam menggambarkan metode dan lokasi kejadian, serta penggunaan kata yang memberi stigma, seperti menyebut korban sebagai sosok yang "problematik" atau "pendiam", masih sering ditemui.

Penggunaan kalimat pasif dalam berita sering kali mengaburkan aktor yang terlibat namun justru menonjolkan aspek grafis dari temuan jasad. Dewan Pers dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan pedoman ketat agar pemberitaan bunuh diri tidak memberikan ruang bagi stigma atau menyebarkan mitos-mitos yang tidak akurat.

Pemberitaan yang tidak peka sering kali menyertakan pemilihan kata yang memberikan muatan stigma, seperti menyebut korban sebagai sosok yang "problematik," "pendiam," atau "lemah". Hal ini melanggar poin-poin etika jurnalistik yang seharusnya mendorong wartawan untuk mengarahkan berita pada edukasi pencegahan, bukan pada detail traumatis peristiwa.

Pemberitaan yang tidak peka semacam ini, menurut para ahli, dapat memicu fenomena copycat suicide, di mana individu yang rentan merasa bahwa tindakan bunuh diri adalah norma sosial dalam menghadapi tekanan. Jika media memberitakan bunuh diri sebagai tindakan kriminal atau aib, individu yang sedang bergulat dengan pikiran bunuh diri akan semakin menutup diri dan enggan mencari bantuan profesional. Mereka menginternalisasi pandangan negatif masyarakat bahwa kondisi mental mereka adalah sebuah kegagalan karakter.

Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan bagi jurnalis mengenai pedoman pemberitaan bunuh diri yang aman menjadi langkah preventif yang tidak bisa ditawar lagi.

Jaringan Layanan yang Harus Diketahui

Di tengah krisis ini, akses terhadap bantuan profesional adalah faktor paling krusial dalam mencegah tindakan bunuh diri. Kota Malang memiliki jaringan layanan kesehatan jiwa yang cukup lengkap, mulai dari rumah sakit jiwa rujukan hingga praktik psikolog mandiri.

RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang merupakan pusat rujukan utama di Malang Raya dengan tim psikiater lengkap. RSUD Dr. Saiful Anwar juga menyediakan poli jiwa dengan tenaga ahli. RS Universitas Muhammadiyah Malang, RS Panti Waluya Sawahan, RS Lavalette, dan RS Wava Husada di Kepanjen juga memiliki layanan kedokteran jiwa. Untuk layanan konseling non-medis, tersedia banyak psikolog klinis.

Dalam kondisi krisis di mana seseorang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, sangat penting untuk segera menghubungi saluran bantuan. Hotline SEJIWA Kemenkes dapat diakses melalui nomor darurat 119 dengan menekan angka 8 setelah tersambung. Layanan ini gratis dan tersedia setiap hari. LISA Suicide Prevention Helpline juga menyediakan dukungan psikososial inklusif melalui WhatsApp di 0811-3855-472 (Bahasa Indonesia) dan 0811-3815-472 (Bahasa Inggris) selama 24 jam.

Membangun Ekosistem yang Memanusiakan Manusia

Kota Malang, dengan segala kompleksitasnya sebagai pusat pendidikan, berada di persimpangan. Bisa terus menjadi kota yang dibayangi narasi kelam tentang bunuh diri, atau bisa menjadi pelopor dalam membangun ekosistem yang lebih sehat secara mental bagi generasi muda.

Wali Kota Wahyu Hidayat memilih jalan kedua. Ia ingin menaikkan indeks kebahagiaan dan kesehatan mental seluruh warga. Ia akan melakukan pendekatan-pendekatan lebih intens kepada masyarakat dan mendengarkan keluh kesah mereka.

"Kita juga punya layanan pendekatan psikolog, itu bisa dimanfaatkan. Kita lakukan berbagai upaya agar kejadian ini tak terulang kembali," ujarnya.

Namun, upaya itu tak akan berhasil tanpa partisipasi aktif kita semua. Setiap orang bisa menjadi "pendengar yang baik" bagi teman, saudara, atau tetangga yang sedang mengalami tekanan. Setiap keluarga bisa menjadi ruang aman bagi anggotanya untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Setiap institusi pendidikan bisa mengevaluasi kembali apakah sistem yang mereka bangun benar-benar memanusiakan manusia atau justru menciptakan tekanan berlebih.

Dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dan dosen wali merupakan faktor kunci dalam menjaga stabilitas emosional mahasiswa. Mahasiswa baru yang mendapatkan dukungan sosial kuat cenderung memiliki indikator kesejahteraan psikologis yang lebih baik dan lebih stabil secara emosional. Teman sebaya di lingkungan kos atau organisasi kampus sering kali menjadi garda terdepan yang mampu mendeteksi perubahan perilaku teman mereka sebelum profesional terlibat. Langkah kecil seperti mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan curhatan, dan tidak menyepelekan masalah teman memiliki dampak besar dalam mencegah eskalasi pikiran bunuh diri.

Setiap nyawa yang hilang karena bunuh diri bukan lagi soal statistik lagi. Pesan yang ditinggalkan NFR kepada adiknya sebelum ia mengakhiri hidup di Jembatan Suhat, bisa menjadi pengingat bagi kita semua. Dia berpesan ke adiknya, untuk menjaga pendidikan, pertemanan, kebiasaan bermedia sosial, dan ibadah. Dia meminta maaf. Dan dia mengucapkan terima kasih.

Tapi mungkin, yang lebih penting dari pesan itu adalah pertanyaan: apakah kita cukup peka untuk mendengar isyarat sebelum pesan perpisahan itu ditulis?

Atau, apakah kita peduli untuk menawarkan telinga kita untuk mendengar sebelum seseorang memutuskan bahwa tidak ada lagi orang yang mau mendengarnya?

Apakah Kota Malang, dengan predikatnya sebagai kota pendidikan, punya ekosistem yang baik bagi setiap orang untuk merasa dilihat, didengar, dan dihargai?

Karena di kota yang penuh dengan anak muda yang merantau dengan membawa sejuta mimpi ini, kadang yang mereka butuhkan bukan hanya gelar sarjana saja. Tapi mungkin mereka perlu ada orang di sekelilingnya yang selalu bertanya, "Gimana kabarmu? Kamu baik-baik saja kah?" (*)

Laporan: Rizky Kurniawan Pratama, Achmad Fikyansyah, Hainor Rahman, dan A Tulung

 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Faizal R Arief
PenulisFaizal R AriefKarir jurnalistiknya dimulai sejak tahun 1993. Suka menulis liputan-liputan yang mendalam. Penikmat kopi ini bergabung di TIMES Indonesia pada 2017.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia