Puluhan Tahun Jadi Pelukis Jalanan, Imam Chudori Bermimpi Menembus Galeri
Mengintip kisah Imam Chudori, pelukis jalanan yang sudah 26 tahun bertahan di Jalan Basuki Rahmat Surabaya. Ia memiliki impian menembus pameran galeri.
SURABAYA – Wajah Imam Chudori terlihat teduh sembari berbenah menutupi kanvas lukisan bergambar tokoh seniman Indonesia, Raden Saleh. Jarum pendek jam tepat berhenti di angka lima sore, menandakan ia harus segera pulang sebelum azan magrib berkumandang.
Sesaat langkahnya terhenti untuk menatap satu demi satu karyanya yang terpajang di tembok persimpangan Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Simpang Lonceng Surabaya, tepat di seberang jembatan penyeberangan Tunjungan Plaza. Sudah 26 tahun ia menekuni profesi sebagai pelukis jalanan dan penyedia jasa sketsa wajah.
"Aliran saya naturalis," kata Imam Chudori kepada TIMES Indonesia, Selasa (14/7/2026).
Bapak tiga anak berusia 55 tahun ini mengaku senang melukis sejak kecil. Baginya, kemampuan ini merupakan bentuk anugerah dari Tuhan. Ia kemudian terjun menjadi perupa jalanan sebagai langkah menempuh ketenangan hidup sekaligus pemenuh kebutuhan ekonomi.
Chudori tidak pernah berhenti menghias kanvas putih dengan warna. Ia mengandalkan pemasukan dari sketsa dan lukisan yang dibuatnya, meskipun ia mengakui karyanya tidak selalu laku setiap hari.
"Tapi, saya selalu bersyukur, masih ada yang laku atau pesanan walaupun tidak setiap hari. Alhamdulillah, juga masih diberikan kesehatan dan kemampuan menuangkan karya," ungkap Chudori.
Chudori bercerita, pada tahun 2000 silam ia pertama kali membuka jasa lukis dan sketsa wajah di jalan tersebut bersama dua orang rekannya. Namun, kini hanya tinggal Chudori dan satu orang rekannya saja yang masih bertahan. Imam Chudori menjadi salah satu dari sedikit pelukis jalanan yang tersisa di Kota Pahlawan.
Di balik statusnya sebagai pelukis jalanan, karya Imam Chudori rupanya pernah dikoleksi oleh Gubernur Jawa Timur periode 1998–2008, H. Imam Utomo, serta sejumlah pemilik properti perhotelan.
Kendati demikian, di balik goresan kuasnya, Imam Chudori masih menyimpan impian selayaknya kebanyakan seniman. Ia berharap bisa tampil di galeri dalam sebuah pameran agar karyanya dapat dilihat oleh kolektor dan masyarakat luas. Ia ingin membuktikan bahwa pelukis jalanan juga memiliki karya yang layak disandingkan dengan perupa profesional lainnya.
"Selama ini saya hanya pelukis jalanan, impian saya bisa tampil di sebuah galeri dan ikut berpameran, syukur-syukur bisa pameran tunggal," ujarnya.
Biaya pameran bersama yang cukup tinggi kerap menghalangi niatnya untuk berpartisipasi, terlebih untuk mengadakan pameran tunggal. Namun, pria sederhana ini mengaku tidak pernah putus harapan.
"Setiap hari saya berdoa semoga impian itu terwujud," katanya.
Bagi Imam Chudori, galeri bukan sekadar jalan untuk menaikkan nilai jual, melainkan juga ruang mengekspresikan sisi lain dari dirinya. Pameran solo dinilainya menjadi tonggak penting dalam perjalanan berkarya.
Sepanjang kariernya, ia tercatat pernah sekali tampil dalam pameran bersama di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya. Saat itu, ia membawa lukisan ekspresionis berjudul "Sikel". Lukisan tersebut bermakna bahwa kaki adalah penopang perjalanan panjang tanpa henti, sebagaimana impiannya untuk terus berkarya menembus galeri.
Bagi masyarakat yang ingin memesan maupun mengoleksi lukisan Imam Chudori, dapat menghubungi nomor WhatsApp pribadinya di 082257230552. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


