Advertisement
Olahraga

Menjadi Pembalap Tertua di F1 2026, Fernando Alonso Belum Berpikir Pensiun

Fernando Alonso menatap F1 2026 dengan motivasi tinggi bersama Aston Martin di era mesin baru. Masa depan 2027 masih terbuka.

TIMES Indonesia,
Menjadi Pembalap Tertua di F1 2026, Fernando Alonso Belum Berpikir Pensiun
Juara Dunia dua kali Fernando Alonso, menjadi pembalap tertua di grid Formula 1 2026. Pembalap asal Spanyol ini kini berusia 44 tahun. (FOTO: Aston Martin)
A-AA+

JAKARTA Musim baru Formula 1 (F1) 2026 bukan sekadar pergantian kalender balap. Bagi Fernando Alonso, ini bisa menjadi bab krusial dalam karier panjangnya, atau justru awal dari penutup yang elegan. Di usia 44 tahun, pembalap tertua di grid F1 itu memilih satu sikap: menikmati setiap detik, tanpa tergesa memutuskan pensiun.

Berbicara pada peluncuran livery Aston Martin di Arab Saudi menjelang tes pramusim di Bahrain, Alonso menegaskan bahwa motivasinya belum surut. Dengan rekor 425 start sepanjang kariernya, juara dunia dua kali itu masih merasa relevan di tengah perubahan besar regulasi.

Advertisement

Era Mesin Baru, Tantangan Baru Aston Martin

Musim 2026 menandai dimulainya era mesin baru di F1. Regulasi teknis berubah signifikan, dan Aston Martin memasuki fase transisi penting sebagai tim pabrikan penuh dengan Honda menggantikan Mercedes sebagai pemasok power unit.

Langkah ini bukan sekadar teknis, melainkan strategis. Mobil AMR26 menjadi proyek pertama di bawah kepemimpinan desainer legendaris Adrian Newey dan arahan teknis Enrico Cardile. Kombinasi dua sosok berpengalaman itu diharapkan mampu membawa tim Silverstone kembali ke papan atas.

Alonso melihat regulasi baru ini sebagai peluang sekaligus ujian. “Tahun pertama dalam regulasi seperti ini akan membutuhkan banyak masukan dari pembalap. Ini akan menjadi musim yang sangat menarik dari sudut pandang pembalap,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (11/2/2026).

Ia menilai perubahan regulasi akan memengaruhi dinamika balapan: kemudahan mengikuti mobil di depan, intensitas duel, hingga kualitas aksi di lintasan. Semua faktor itu, menurutnya, akan ikut menentukan bagaimana ia memandang masa depannya pada 2027.

Masa Depan 2027: Terbuka, Tapi Tak Mendesak

Spekulasi soal pensiun selalu mengiringi Alonso dalam beberapa musim terakhir. Namun kali ini, ia menegaskan belum mengambil keputusan.

Advertisement

“Saya tidak tahu apakah ini akan menjadi musim terakhir. Rencana saya adalah menikmati setiap detik. Jika saya menjalani satu musim lagi, saya juga akan senang. Kita lihat saja, balapan demi balapan,” katanya.

Alonso menyadari F1 bukan hanya soal performa di trek, tetapi juga tekanan komitmen di luar lintasan. Kegiatan pemasaran, agenda sponsor, dan tuntutan global yang menguras energi sepanjang 24 seri balapan.

Ia mengakui, baterai fisik dan mental bisa terkuras selama musim berjalan. Karena itu, efektivitas regulasi baru dan kualitas kompetisi akan menjadi variabel penting dalam keputusannya untuk 2027.

Target Realistis: Lima Besar Konstruktor

Musim lalu, Aston Martin finis di posisi ketujuh klasemen konstruktor. Bahkan, tim sudah menghadapi kendala awal karena mobil baru datang terlambat saat shakedown di Barcelona.

Alonso tak menutup mata terhadap potensi start yang sulit. Namun ia tetap mematok target jelas: finis di lima besar klasemen konstruktor adalah keharusan.

“Saya pikir berada di lima besar klasemen konstruktor adalah sesuatu yang wajib,” tegasnya.

Secara historis, Alonso terakhir kali memenangi grand prix pada 2013 saat membela Ferrari, sementara dua gelar juara dunia ia raih bersama Renault pada 2005 dan 2006. Meski tanpa kemenangan dalam lebih dari satu dekade terakhir, konsistensinya menjaga performa tetap membuatnya kompetitif.

Motivasi yang Belum Padam

Di tengah regenerasi pembalap muda dan perubahan teknologi besar-besaran, Alonso justru melihat momentum. Ia menyebut dirinya tetap termotivasi dan fokus pada sistem baru yang akan diterapkan.

“Formula One adalah olahraga yang dinamis. Ia berubah setiap minggu,” katanya.

Bagi Alonso, musim 2026 bukan hanya tentang angka start ke-426 dan seterusnya. Ini tentang bagaimana ia menempatkan dirinya dalam lanskap F1 yang terus berevolusi—antara pengalaman, adaptasi, dan keberanian menghadapi era baru. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rochmat Shobirin
PenulisRochmat ShobirinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia