Benfica Tanpa Mourinho dan Prestianni saat Hadapi Real Madrid di Bernabeu
Benfica kehilangan Jose Mourinho dan Gianluca Prestianni saat menghadapi Real Madrid di Liga Champions, di tengah bayang-bayang sanksi UEFA dan isu diskriminasi.

JAKARTA – Benfica datang ke Santiago Bernabeu bukan hanya dengan defisit agregat, tetapi juga tanpa dua figur penting. Jose Mourinho dan Gianluca Prestianni dipastikan absen saat menghadapi Real Madrid dalam leg kedua babak gugur Liga Champions, Rabu waktu setempat.
Absennya dua nama itu mengubah lanskap taktik sekaligus psikologis pertandingan. Di atas kertas, Real Madrid sudah unggul 1-0 dari pertemuan pertama di Lisbon. Namun dinamika di luar lapangan membuat duel ini jauh lebih kompleks.
Sanksi UEFA untuk Prestianni
UEFA menjatuhkan larangan satu pertandingan kepada Prestianni melalui badan kontrol, etika, dan disipliner. Sanksi itu terkait dugaan perilaku diskriminatif terhadap Vinícius Júnior pada leg pertama.
Insiden terjadi usai gol kemenangan Real Madrid yang dicetak Vinícius. Selebrasi sang penyerang di dekat bendera sudut memicu reaksi keras pemain dan suporter tuan rumah. Pertandingan bahkan sempat dihentikan hampir 10 menit.
Vinícius menuduh Prestianni melontarkan ujaran rasial. Pemain asal Argentina itu membantah tudingan tersebut. Protokol anti-rasisme sempat diaktifkan, tetapi laga tetap dilanjutkan karena dinilai tidak ada bukti langsung di lapangan.
Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan sanksi itu dijatuhkan tanpa mengesampingkan kemungkinan keputusan lanjutan setelah investigasi selesai. Artinya, proses disipliner masih berjalan.
Benfica menyayangkan keputusan tersebut dan menyatakan akan mengajukan banding. Namun untuk laga di Bernabeu, Prestianni tetap tidak dapat diturunkan.
Mourinho Juga Absen
Masalah Benfica tidak berhenti di sana. Jose Mourinho juga tidak bisa mendampingi tim dari sisi lapangan. Pelatih berpengalaman itu diusir wasit pada leg pertama karena protes keras terhadap keputusan pertandingan.
Mourinho sebelumnya mengkritik selebrasi Vinícius yang dilakukan di depan bendera Benfica. Ia menyebut pekan ini sebagai periode yang “berat” bagi klubnya. Pada konferensi pers jelang laga, peran komunikasi diambil alih asistennya.
Ketiadaan Mourinho berarti hilangnya figur sentral dalam pengambilan keputusan langsung di tepi lapangan. Dalam laga dengan margin agregat tipis, detail teknis dan manajemen momentum bisa menjadi penentu.
Real Madrid dalam Momentum Stabil
Sementara itu, Real Madrid tetap mengandalkan konsistensi Vinícius Júnior. Ia kembali mencetak gol saat Madrid kalah 1-2 dari Osasuna di La Liga akhir pekan lalu. Secara performa individu, produktivitasnya relatif terjaga meski berada di tengah sorotan isu diskriminasi.
Bermain di kandang sendiri dengan keunggulan agregat memberi keuntungan psikologis bagi Madrid. Namun pengalaman menunjukkan bahwa Liga Champions kerap menghadirkan skenario tak terduga, terutama ketika tim tamu bermain tanpa beban.
Drama di Laga Lain: Bodø/Glimt hingga Juventus
Sorotan Liga Champions juga tertuju ke Italia. Inter Milan harus membalikkan defisit dua gol saat menjamu klub Norwegia, Bodø/Glimt. Runner-up musim lalu itu kehilangan Lautaro Martínez karena cedera betis kiri.
Pelatih Inter, Cristian Chivu, menegaskan timnya tak boleh kehilangan keseimbangan. “Jika ada tim yang bisa membalikkan keadaan, itu adalah kami,” ujarnya.
Juventus juga dalam situasi sulit setelah takluk 2-5 dari Galatasaray pada leg pertama. Performa domestik mereka pun belum stabil, dengan tiga kekalahan beruntun di semua kompetisi.
Sementara itu, Paris Saint-Germain sukses membalikkan keadaan saat menang 3-2 atas Monaco pada leg pertama. Kemenangan 3-0 atas Metz di Ligue 1 menjaga momentum tim ibu kota Prancis itu.
Atlético Madrid juga bangkit usai bermain imbang 3-3 melawan Club Brugge di leg pertama. Kemenangan 4-2 atas Espanyol menjadi modal penting jelang laga penentuan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


